
"Tiga tahun yang lalu, toko ini sudah diambang penutupan. Tiba - tiba kamu datang dengan penuh semangat. Mengatakan kalau kamu bekerja di toko ini, maka toko ini akan tetap bertahan. Mbok saat itu tidak percaya anak seusia mu mengatakan hal seperti itu. Tapi melihat kesungguhan mu, mbok pun menerima kamu untuk bekerja di sini. Mbok juga mengatakan kalau upah yang akan kamu dapat tidak sebanyak yang kamu duga, tapi kamu tetap menerimanya. Waktu demi waktu pun terlewati, dan benar saja toko ini bisa kembali bertahan selama tiga tahun berkat kamu. Senang dan sedih kita lalui bersama - sama. Sudah saatnya mbok menutup toko ini untuk selamanya. Mbok juga sudah tua, anak mbok memanggil mbok untuk ikut bersama dengannya. Mbok benar - benar sangat bersyukur dan berterimakasih sama kamu, Andini."
"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Mbok !" Andini yang sudah tak sanggup membendung tangisnya, memeluk erat Mbok Inah.
Dalam tangis, Andini sudah mengira hal seperti ini akan terjadi. Namun tetap saja, dia tak sanggup menerimanya begitu saja. Mereka berdua saling memeluk untuk waktu yang lama. Dengan lembut, Mbok Inah mengusap kepala Andini dalam pelukannya.
__ADS_1
Perlahan Andini sudah tak menangis. Dia pun melepas pelukannya dengan Mbok Inah. Mbok Inah pun menyentuh pipi Andini sembari mengusap sekitar matanya dengan ibu jari.
"Hari sudah mau malam, kamu sudah bisa pulang. Anak perempuan tidak baik pulang malam sendirian. Ini upah kamu, maaf cuma segini. Sekali lagi terimakasih, Andini."
"Iya, mbok. Terimakasih sudah menjaga Andini." Andini hanya dapat tersenyum, walaupun di dalam hatinya masih merasakan kesedihan. Bagaimana tidak, sesuatu yang hanya dapat ia lakukan selama 3 tahun untuk memenuhi kebutuhannya sehari - hari walaupun tidak seberapa sudah tidak akan ada lagi. Mbok Inah yang selalu menemaninya saat bekerja pun juga akan pergi meninggalkannya. Setelah itu, Andini pun pamit dan beranjak pergi.
__ADS_1
"Apa ini, mbok ?" Andini yang menerimanya begitu penasaran.
"Tadi pagi sebelum kamu sampai di sini, ada seseorang yang menyebarkan ini di sepanjang wilayah untuk di pajang. Mbok yang penasaran pun melihatnya. Mbok yakin ini adalah jawaban yang sedang kamu cari. Bukalah saat sudah sampai di rumah. Kamu itu sangat cantik, semoga berhasil." Dengan senyuman Mbok Inah memberikan salam perpisahan. Untuk menutupi perasaan yang masih sedih, Andini pun juga membalas salam tersebut dengan senyuman dan pergi kembali menuju ke kediamanannya.
Saat dalam perjalanan pulang, Andini tak berjalan selayaknya orang pada umumnya. Kepala yang tertunduk, langkah kaki yang tak seimbang dan pikiran yang campur aduk. Lalu, seketika itu dia pun terduduk di jalanan yang sepi dan sempit.
__ADS_1
"Ayah ! Kenapa ayah pergi begitu cepat ?! Andini lelah ! Hutang yang tidak tahu kapan lunasnya, kebutuhan sehari - hari yang sulit terpenuhi, mencari pekerjaan yang layak terus menerus, dan ibu yang sekarang sedang sakit ! Andini harus bagaimana, ayah ?! Ayah ! Hiks.. Hiks.. Hiks.."
Andini benar - benar sudah tak sanggup menahan penat yang selama ini dia pendam. Dalam kesendirian di tempat itu, dia menangis dan terus menangis mencoba mengeluarkan perasaannya tersebut.