
Beberapa saat setelah pasangan suami istri itu pergi, Satria kembali menuju ke dalam antrian. Hal mengejutkan datang, membuat Satria terdiam sejenak melihat ke arah antrian tersebut. Dalam barisan antrian itu, orang - orang yang tadinya berada di belakang Satria ternyata tidak mengambil tempat miliknya. Mereka semua melihat ke arah Satria dan tersenyum padanya.
"Silahkan mengambil tempat mu, tuan. Kami semua telah memperhatikan perlakuan anda terhadap pasangan suami istri tadi. Dan juga, anda bisa saja tidak meninggalkan barisan anda. Tetapi anda tetap memilih meninggalkan barisannya agar tidak menggangu pengunjung yang lain. Kami sangat menghargai itu dan membuat kami benar - benar tersentuh." Salah satu dari mereka mempersilahkan Satria untuk masuk ke dalam antriannya kembali.
"Terimakasih banyak." Satria menundukkan kepala kepada para pengunjung tersebut untuk rasa terimakasihnya. Kemudian dia berjalan kembali menuju ke dalam barisannya.
Setelah lama menunggu, tiba giliran Satria. Satria lekas mengeluarkan sebuah kartu kredit dari dalam dompetnya.
"Selamat datang !" Sebuah sapaan dan senyuman yang ramah oleh sang kasir. Satria dengan senang hati membalas keramahannya.
"Apakah anda ingin membuat voucher baru atau mengisi ulang voucher ?" Sang kasir memberikan pilihan dimana voucher adalah perantara untuk menikmati semua wahana permainan.
"Kalau begitu yang baru."
__ADS_1
"Silahkan pilih voucher pengisiannya. Anda dapat menikmati semua wahana permainan sesuai dengan jumlah isi voucher yang anda pilih." Kasir tersebut memberikan deretan daftar voucher yang harus di pilih oleh Satria. Satria pun melihat dengan seksama.
"Saya pilih yang Platinum. Untuk pembayarannya saya menggunakan kartu kredit." Satria memilih voucher yang paling tinggi kualitasnya. Dia memilih itu karena vouchernya berlaku selamanya dan tidak perlu di perpanjang seperti voucher lain yang hanya bertahan hingga 1 tahun. Mereka pun mulai melakukan transaksi.
"Mohon tunggu sebentar." Sang kasir segera menyiapkan voucher yang akan di berikan.
Tak lama berselang, kasir tersebut memberikan sebuah kartu seukuran kartu transaksi pada umumnya yang dimana kartu tersebut dapat di gunakan pada setiap wahana permainan.
Terlihat ibu dan putrinya sedang duduk di sebuah kursi panjang. Diana dengan tingkahnya sedang mengayun - ayunkan kedua kakinya sembari menyanyi. Satria pun segera menghampirinya.
"Sedang nyanyi apa, sayang ?" Satria yang sudah berada tepat di hadapan Diana mulai berlutut dengan salah satu kakinya.
"Potong bebek angsa, pa."
__ADS_1
"Oh, yang ada dor - dornya itu ya ?" Satria bertanya dengan sedikit gurauan kepada putrinya itu.
"Bukan, papa ! Itu yang balon ku ada lima !" Diana yang kesal mencubit kedua pipi milik Satria dengan kedua tangan kecilnya. Satria pun hanya dapat tertawa menerima cubitan lembut dari putrinya itu.
"Apakah kamu sudah membeli tiketnya, nak ?" Ibunya yang sedari tadi melihat tingkah mereka berdua mencoba bergabung dalam dunia kecil mereka.
"Tentu, bu."
"Kalau begitu kalian berdua cobalah menikmatinya. Ibu akan melihat dari tempat ini saja."
"Baiklah, bu." Satria pun perlahan mulai berdiri. Kemudian dia mengangkat putrinya itu setinggi dirinya.
"Waktunya kita bersenang - senang !" Satria terlihat bersemangat di hadapan putrinya itu. Diana yang sempat kesal pun mulai ikut bersemangat. Satria pun menggendong Diana dan pergi menuju ke wahana permainan.
__ADS_1