
Andini yang telah selesai mandi dan mengenakan pakaiannya pun menuju ke meja makan yang sederhana. Terlihat ibunya sudah duduk menunggu. Andini pun segera ikut duduk. Makanan yang telah disiapkan hanya seadanya. Namun bagi mereka berdua itu sudah lebih dari cukup.
"Selamat makan !" Andini dan ibunya serentak memberikan ucapan di meja makan. Mereka pun mulai menikmati makanan tersebut. Andini dengan lahap menyantap makanannya untuk mengisi kembali tenaga yang telah dia habiskan saat menangis.
"Pelan - pelan saja, Dini !" Terlihat wajah ibunya senang ketika Andini menyantapnya dengan lahap.
"Masakan ibu memang yang terbaik ! Uhuk.. Uhuk.. Bu, Air !" Seketika itu Andini tersedak oleh makanan yang sedang ia kunyah.
"Sudah ibu bilang pelan - pelan saja dan jangan berbicara saat makanan sedang berada di mulut !" Dengan cepat ibunya menuangkan air ke dalam gelas milik Andini. Andini pun segera meminumnya.
"Maafin Dini, bu." Andini memperlihatkan tawa kecilnya. Ibunya hanya menggeleng - gelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya itu. Walaupun begitu, ibunya tetap senang. Mereka pun kembali menyantap makanannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mereka selesai menyantap makan malamnya. Andini pun segera membereskan piring dan gelas. Ia membawanya ke belakang untuk di cuci.
Setelah mencuci dan menempatkan kembali piring dan gelas pada rak kecil, Andini pun pergi ke kamarnya. Ia pun terbaring di tempat tidurnya.
"Dini ! Setelah makan jangan langsung pergi tidur ! Biarkan makanannya tercerna dulu. Tidak baik buat kesehatan." Ibunya yang masih berada di meja makan mengingatkannya pada Andini. Ibunya tak pernah lelah mengatakan hal demikian untuk menjaga kesehatan anaknya.
"Iya, bu. Hampir saja Dini ketiduran." Andini pun lekas duduk di atas kasurnya. Untuk mengisi waktunya, Andini memikirkan kembali apa yang akan dilakukannya mulai esok hari berhubung ia sudah tak lagi bekerja di tempat Mbok Inah.
"Oh iya. Mbok Inah ada memberikan sesuatu padaku." Tanpa disadari, ia pun teringat barang yang diberikan oleh Mbok Inah. Dia pun mengambilnya. Perlahan Andini melepas pitanya. Ia pun membuka gulungan kertas tersebut untuk melihat apa isi yang tertulis di dalamnya.
"Ini ?!" Dengan cepat Andini pergi menghampiri ibunya.
__ADS_1
"Ibu. Coba lihat !" Andini bergegas menunjukkan kertas tersebut kepada ibunya. Ibunya terheran dengan Andini yang sedang tak sabaran.
"Memangnya ada apa ?" Ibunya yang penasaran pun membaca kertas yang ditunjukkan oleh Andini.
"Pelatihan Pelayan Profesional. Memberikan pelatihan kepada para pendaftar untuk menjadi pelayan yang profesional. Pelatihan dilaksanakan selama tiga bulan. Menggunakan sistem penilaian. Apabila tidak memenuhi standar, maka dianggap gugur. Walaupun gugur, tetap akan diberikan biaya kompensasi atas waktu yang telah diberikan. Sedangkan yang masih bertahan, akan diberikan gaji yang sesuai selama tiga bulan masa pelatihan. Setelah melewati masa pelatihan, akan mendapatkan sertifikat dan dapat langsung dipekerjakan di perhotelan besar, restauran besar, villa dan lain sebagainya. Pendaftaran dibuka pada pertengahan bulan nanti. Sedangkan penutupannya pada akhir bulan. Sudah disediakan asrama pada tiap wilayah pelatihan." Sejenak ibunya menghela nafas. Terlihat bibir Andini bergetar kecil menahan senyum. Kemudian ibunya pun kembali membacanya.
"Untuk biaya pendaftarannya, gratis ?" Ibunya cukup terkejut.
"Tidak hanya itu, bu. Bagian yang terpentingnya adalah ini !" Andini menunjukkan jari telunjuknya ke sebuah kalimat di dalam kertas tersebut. Ibunya pun membacanya.
"Usia minimal delapan belas tahun dan maksimal dua puluh empat tahun. Tak diperlukan, ijazah kelulusan ?" Ibunya kembali terkejut. Terlihat dia curiga dengan persyaratan yang diberikan.
__ADS_1