
Satria dan Pak Eko segera memasuki gedung. Keduanya disambut oleh pelayan pria dan wanita yang sedang berjaga. Saat keduanya memasuki gedung, terlihat dekorasi dan tatanan ruang yang sangat indah. Sudah banyak meja bundar tepat di hadapan panggung yang telah dihiasi untuk ditempati oleh para peserta. Orang - orang tersebut yang sedari tadi sudah hadir tengah asyik bercengkrama.
Seketika, obrolan mereka pun terhenti seiring kedatangan Satria. Setiap langkahnya dipenuhi dengan kewibawaan. Orang - orang tersebut terpaku hanya dengan melihatnya.
"Baiklah, tuan muda. Silahkan menempati tempat yang sudah disediakan di atas panggung hingga acaranya dimulai !" ujar Pak Eko.
"Terimakasih, Pak Eko." Satria pun bergabung dengan orang - orang penting yang adalah para rekan bisnisnya tersebut, sedangkan Pak Eko kembali mempersiapkan jalannya acara. Mereka mulai saling berjabat tangan dan bercengkrama satu sama lain.
Tak lama kemudian, tepat di depan gedung sudah berada Andini dan juga Putri yang telah tiba. Namun, mereka hanya berdiam diri saja. Keduanya pun didatangi oleh pelayan wanita yang sedang berjaga.
"Apakah kalian berdua adalah Andini dan juga Putri ?" tanya pelayan wanita tersebut.
"Iya, benar." jawab keduanya dengan bingung.
"Hanya tersisa nama kalian yang belum hadir didaftar nama peserta. Silahkan masuk ! Acaranya sudah akan dimulai."
"Baiklah. Kami akan segera masuk. Ayo, Andini !" Putri menghela nafasnya dan berjalan masuk.
"Kak, tunggu !" Andini pun mengikutinya dari belakang.
Seiring keduanya memasuki gedung, orang - orang yang tak sengaja melihat mereka terpaku atas kedatangan Andini dan juga Putri, terutama para pria yang hadir. Keduanya berjalan menuju ke kursi yang tengah kosong.
"Siapa mereka ? Cantik sekali."
"Apakah mereka para peserta sama seperti kita ?"
__ADS_1
"Memangnya ada ya peserta seperti mereka ?"
"Hei, lihat wanita yang berada di belakangnya ! Dia sangat cantik melebihi wanita yang ada di sini, bukan ?"
"Bagaimana kalau selepas acara ini, kita ajak mereka untuk berkenalan ?"
Berbagai bisikan terdengar oleh telinga Andini dan juga Putri disetiap langkah yang mereka ambil. Keduanya pun sampai di kursi tujuan mereka.
"Kak, aku malu." Andini tak sanggup menahan wajah merahnya. Ia memutuskan menundukkan kepalanya selama acara berlangsung.
"Aduh, memangnya kamu saja ? Aku juga malu jika dilihat oleh orang sebanyak itu."
"Dimana kepercayaan diri kakak tadi ? Sudah kubilang seharusnya kita ganti saja dengan yang biasa."
Sedangkan dilain sisi, Satria yang berada ditempatnya terpaku melihat wanita yang sedari tadi menundukkan kepalanya itu.
"Dia bukankah wanita yang waktu itu ? Saat pertama kali aku melihatnya, aku tahu dia cantik, tapi tak ku sangka malam ini dia seperti bidadari. Aku sampai hampir tak mengenalinya. Tidak ! Apa yang baru saja ku pikirkan ? Putriku justru lebih cantik dari bidadari itu." gumam Satria dalam hatinya.
Sesaat kemudian, pembaca acara mulai berdiri tepat di atas panggung dan memulai acaranya. Orang - orang yang sedang bercengkrama pun menghentikan aktifitasnya. Semuanya mulai memperhatikan jalannya acara.
Beberapa orang yang bertanggung jawab atas kegiatan itu diminta untuk memberikan pidato kepada para peserta. Semua orang mendengarkan dengan seksama pidato yang disampaikan. Sedangkan Andini masih saja menundukkan kepalanya. Hingga pada saatnya giliran Satria yang akan menyampaikan pidato.
Satria pun diminta untuk berdiri dan menuju ke depan. Ia mulai menyampaikan pidatonya. Para peserta pria kagum atas sikap yang diperlihatkan oleh Satria. Sedangkan para peserta wanita terpana oleh Satria itu sendiri.
"Andini ! Andini ! Coba lihatlah ke atas panggung ! Bukankah dia sangat tampan ? Seandainya saja aku dapat memilikinya. Apakah malam ini kemungkinan itu ada ?" Putri seperti tak berkedip melihat sosok Satria. Ia terus - menerus menyuruh Andini untuk melihat ke atas panggung.
__ADS_1
"Kak, biarkan aku begini sampai acaranya selesai !"
"Mau sampai kapan kamu merasa malu ? Lihatlah, Andini ! Kamu akan melewatkannya."
"Baiklah. Hanya sebentar saja." Andini pun mengangkat kepalanya dan melihat ke atas panggung.
"Loh ? Dia..." Sejenak tubuh Andini membatu saat melihat pria yang berada di atas panggung tersebut.
"Kamu kenapa tiba - tiba diam seperti itu, Andini ?"
"Kak, ini gawat !"
"Gawat ? Apanya yang gawat ?" Putri merasa kebingungan karena keduanya hanya saling berbisik tanpa melihat satu sama lain.
Seketika itu, Satria mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang sedari tadi menundukkan kepalanya. Kedua mata mereka pun saling bertemu. Satria pun tersenyum karena senang, melihat wanita itu sudah tak menundukkan kepalanya lagi dan bertemu kembali.
"Lihat dia melihat dan tersenyum ke arah sini !" bisik salah satu wanita yang berada di dekat Andini dan juga Putri. Dengan cepat Andini mengalihkan wajahnya ke sisi lain.
"Apakah tadi dia melihat ke arahku ?! Dan lagi, kenapa tiba - tiba dia tersenyum ?! Apakah hanya perasaanku saja dia melihatku ? Benar. Mungkin saja orang yang berada dibelakangku. Tapi jika benar dia melihat ke arahku, pasti dia mengenali wajahku karena kejadian waktu itu makanya dia tersenyum. Ah, kenapa jadi seperti ini ?" gumam Andini dalam hati yang tengah terkejut dan mencoba menenangkan dirinya yang sedang panik.
"Andini ? Kenapa kamu memalingkan wajahmu ? Ngomong - ngomong, bukankah tadi dia melihat ke arah sini, terutama ke arahmu ? Apakah kalian saling kenal ?" tanya Putri.
"Kak, pria itu adalah pria yang katanya mau kakak masukkan ke penjara saat kita pergi belanja pakaian tiga hari yang lalu." ungkap Andini dengan nada lemas.
"Eh ?" Wajah Putri pun seketika itu membatu.
__ADS_1