
Setelah selesai menyantap hidangan tersebut, mereka pun bersiap untuk segera pulang. Ibu dan putrinya beranjak keluar dari dalam ruangan. Sedangkan Satria pergi menuju ke tempat kasir.
Tut, Tut, Tut~
Tiba - tiba dering telepon Satria berbunyi. Sontak Satria terhenti untuk mengangkat panggilan telepon tersebut. Namun sesaat setelah dia berhenti, salah seorang pegawai wanita yang sedang membawa beberapa minuman menabraknya dari belakang. Setelan atasan dan bawahan yang sedang dikenakan oleh Satria basah terkena minuman - minuman tersebut.
"Tuan. Saya benar - benar minta maaf." Pegawai tersebut memohon sembari membereskan gelas beserta tumpahannya. Entah kenapa, wajah pegawai wanita tersebut terlihat sangat takut.
"Tidak. Anda tidak perlu meminta maaf kepada saya. Saya yang seharusnya minta maaf karena tiba - tiba berhenti saat sedang berjalan." Dengan sigap Satria ikut membantu membereskannya.
"Ada apa ini ?" Seorang pria berusia sekitar 40-an tahun yang merupakan manager dari tempat makan tersebut datang menghampiri.
"Begini, saat sedang berjalan tiba - tiba saya berhenti menyebabkan pegawai wanita ini tak sengaja menabrak saya dan membuat semua minuman yang sedang dibawa olehnya tumpah." Satria menjelaskan apa yang sedang terjadi pada manager tersebut. Manager tersebut pun sejenak melihat penampilan Satria dari atas sampai ke bawah.
"Anda tidak perlu meminta maaf, tuan. Sepertinya pegawai kami memang melakukan kesalahan karena kurang berhati - hati saat sedang bekerja. Tenang saja, dia memang akan saya pecat. Dari dulu saya sudah berencana untuk memecatnya karena beberapa kali telah melakukan kesalahan." Manager itu memperjelas keadaan pegawai wanita tersebut.
"Hei, kamu ! Cepat minta maaf dan segera bereskan ! Kerugian minumannya akan di potong oleh gaji mu bulan ini. Setelah kejadian ini, kamu tidak akan bekerja di tempat ini lagi." Sebuah pernyataan langsung manager kepada pegawai wanita tersebut.
"Begitu, ya. Itu sebabnya pegawai wanita ini memasang wajah ketakutan. Seharusnya sudah ku jelaskan apa yang terjadi. Namun manager ini masih tetap ingin untuk memecatnya." Sejenak Satria bergumam dalam pikirannya. Terlihat pegawai wanita itu tegang mendengar perkataan managernya secara langsung.
__ADS_1
"Permisi, nona. Kalau boleh tahu, sudah berapa lama anda bekerja di tempat ini ?" Satria mencoba bertanya untuk memastikan sesuatu.
"Sudah dua setengah tahun, tuan."
"Kalau pak manager, sudah berapa lama anda bekerja di tempat ini ?" Satria kembali memberikan pertanyaan yang sama kepada manager tersebut.
"Sudah tujuh bulan, tuan." Dengan nada yang berat, manager itu menjawabnya.
"Seperti dugaan saya. Sikap anda sebagai manajer sangat buruk. Anda sendiri mengatakan kalau pegawai ini sudah beberapa kali melakukan kesalahan, namun lama waktu anda dan dia bekerja sangat jauh. Jika memang pegawai wanita ini selalu melakukan kesalahan, seharusnya dia sudah di pecat oleh manajer sebelumnya. Anda terlalu mudah mengatakan kata pecat bagi pegawai anda sendiri. Mengenai minumannya, saya yang akan membayarnya." Satria mengungkapkannya demikian berkat pengalamannya yang telah dia dapat selama ini. Terlihat manager itu tak dapat berkata - kata.
"Nona, ini kartu nama saya. Setelah keluar dari tempat ini, segera hubungi saya." Satria melanjutkan dengan memberikan sebuah kartu nama dari dalam saku miliknya.
"Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu." Satria pun beranjak pergi ke tempat kasir dan membayar semua makanan dan minumannya.
"Ah maaf, saya hampir melupakan sesuatu. Pemilik tempat ini adalah rekan cabang bisnis milik saya." Dari kejauhan Satria tersenyum membuat seisi ruangan terkejut. Satria pun beranjak keluar dan menemui ibu dan putrinya.
"Sepertinya tadi ibu melihat ribut - ribut sesuatu di dalam dan setelan yang kamu kenakan basah, nak." Ibunya penasaran apa yang terjadi.
"Sudah tidak apa - apa, bu. Yuk kita jalan !"
__ADS_1
Mereka pun berjalan menuju keluar dari Mall Center. Saat dalam perjalanan, Satria ingat bahwa ada panggilan telepon. Satria pun mengecek smartphone miliknya. Sebuah panggilan tak terjawab dan juga sebuah pesan dari Rio. Satria pun membuka isi pesan dan membacanya.
"Bu, sepertinya Satria tidak bisa ikut pulang bersama. Ada sebuah pertemuan mendadak."
"Begitu, ya. Kalau begitu Diana akan ikut pulang ke rumah ibu saja. Bagaimana dengan setelan mu yang basah ini, nak ? Ini sudah malam, nanti bisa sakit kalau tidak segera di ganti."
"Ibu tidak perlu khawatir. Satria bakal menggantinya di toko cabang perusahaan milik Satria di sini."
Ibu dan putrinya pun melanjutkan perjalanan. Sedangkan Satria pergi menuju ke toko cabang miliknya yang berada di dalam Mall Center. Sebuah toko pakaian yang terbaik di antara toko pakaian lainnya yang berada di Mall Center.
"Selamat datang, tuan muda." Sebuah sambutan dari pegawainya yang sedang bekerja atas kedatangan Satria.
"Saya hanya akan mengambil beberapa setelan untuk dikenakan. Kalian dapat melanjutkan pekerjaan seperti biasa."
"Baiklah, tuan muda." Serentak para pegawai menjawabnya.
Waktu telah menunjukkan pukul 21.05 malam, Satria yang telah mengambil setelan pun pergi ke ruang ganti. 15 menit pun berlalu, Satria keluar dari ruang ganti dan beranjak pergi dari toko.
"Tunggu !" Namun tiba - tiba sebuah panggilan dari seorang wanita terdengar. Satria pun seketika terhenti.
__ADS_1