
Setelah kasir memeriksanya, ia pun memberitahukan nominal yang harus dibayarkan. Satria merasa tak nyaman pada wanita yang akan membayarkannya saat mendengar nominal tersebut, ia tak tahu bahwa setelan yang dikenakannya terbilang mahal karena ia memilihnya secara acak. Namun saat Satria melihat wajah wanita tersebut, ia terlihat sangat biasa dan seperti tak merasakan adanya penyesalan karena akan membayarkan pakaiannya itu.
"Kalau begitu saya akan membayarnya dengan menggunakan ini." Andini mengeluarkan sebuah kartu dari dalam tasnya dan memberikannya pada sang kasir. Tentu saja, kartu tersebut tak lain dan tak bukan adalah kartu yang diberikan bagi mereka yang telah berhasil pada pelatihan. Satria yang melihatnya pun tersenyum.
"Baiklah. Mohon tunggu sebentar !" Sang kasir pun segera memprosesnya.
"Nona. Terimakasih telah membantu saya. Saya akan membalas kebaikan nona dikemudian hari. Kita akan segera bertemu di lain waktu. Saya izin pamit terlebih dahulu. Saya sudah tidak sabar bertemu dengan putri saya."
"Baiklah, pak. Jangan lupakan janji yang sudah anda buat ! Kalau anda melakukannya lagi, saya tidak akan segan - segan untuk melaporkan anda."
__ADS_1
"Tentu. Dengan senang hati, nona." Satria pun beranjak pergi dari toko. Sang kasir yang melihat situasi tersebut bingung dengan percakapan mereka berdua.
Tak lama kemudian, Putri datang dengan membawa semua pakaian yang telah dia coba. Ia pun segera meletakkannya. Terlihat ia datang dengan wajah sangat senang.
"Andini. Ku lihat pakaian yang kamu bawa tak begitu banyak, tapi kenapa nominal yang harus dikeluarkan begitu besar ? Apakah ada kesalahan pada mesin kasirnya ?" Putri yang penasaran menatap tajam ke arah kasir tersebut dengan curiga.
"Tidak ada yang salah, Kak Putri. Nominalnya memang sudah benar. Tadi saya membantu seorang pria..." Andini pun menceritakan apa yang terjadi saat Putri sedang berada di dalam ruang ganti. Perlahan - lahan Putri mulai terdiam sejenak mendengar cerita dari Andini. Namun cerita tersebut membuat dahinya mengkerut. Ia pun sudah tak kuasa menahan emosinya.
"Sudahlah, kak. Bagaimana pun juga sudah terjadi." Andini mencoba menenangkan Putri. Sang kasir yang sedang melihat keduanya mencoba menahan diri dengan tidak memberi tahu soal Satria karena sudah menerima isyarat untuk tidak berbicara mengenai dirinya.
__ADS_1
"Ngomong - ngomong, bukankah nominal pada kartumu masih banyak ? Habiskan saja semuanya ! Toh hanya berlaku hari ini. Belikan lagi untuk ibumu sebanyak - banyaknya ! Jangan kalah sama pakaian yang kamu bayarkan pada pria itu ! Setelah itu barulah kita segera kembali ke asrama, mengerti ?" Putri pun kembali menarik Andini berkeliling mencari - cari pakaian. Andini tidak dapat menolak apabila Putri sudah memutuskannya. Keduanya pun bersenang - senang saat berbelanja sebelum kembali ke asrama.
Disisi lain, saat ini Satria sedang berada di mobilnya dalam perjalanan menuju ke suatu tempat. Ia berencana menemui seorang sahabat yang saat ini sedang bersama Rio. Ia pun mencoba menelepon Rio untuk memberikan kabar. Tak lama kemudian panggilan pun terangkat.
"Halo, Rio. Dapatkah kalian menunggu lebih lama ?"
"Apakah terjadi sesuatu, tuan muda ?"
"Tidak. Hanya saja sempat terjadi hal menarik."
__ADS_1
"Saya penasaran apa yang dapat membuat tuan muda tertarik selain keluarga dan putri anda. Baiklah. Kalau begitu kami akan menunggu lebih lama."
"Terimakasih." Satria pun menutup panggilan tersebut. Ia kembali melanjutkan perjalanannya.