
"Apakah dia putri mu ?" Nyonya itu mendekat ke hadapan Diana.
"Iya, benar." Satria pun mengusap - usap kepala Diana.
"Dia sangat cantik dan manis." Sebuah tawa kecil diberikan oleh nyonya itu.
"Terimakasih." Diana dengan sopan membalas ucapan nyonya itu. Nyonya itu pun terlihat senang mendengarnya.
"Kalau begitu, kami permisi pergi." Satria pun menggendong Diana. Segera melanjutkan waktu yang akan mereka habiskan bersama.
"Baiklah. Selamat bersenang - senang." Dengan senyuman, nyonya itu memberi sebuah lambaian tangan menyudahi pertemuan mereka.
__ADS_1
Satria dan Diana pun pergi ke setiap wahana permainan yang mereka jumpai. Tanpa lelah, mereka menikmatinya. Hingga sampai ke titik dimana mereka berhenti di sebuah mesin capit boneka.
Diana yang melihat banyak setumpuk boneka pada mesin capit boneka tersebut, membuat Satria tertantang ingin mendapatkannya. Wajah polos Diana yang menginginkan boneka tersebut tak dapat di bohongi.
"Diana, perhatikan papa, ya." Satria mulai mengeluarkan kartu voucher dari dalam dompetnya. Segera Satria menggesek dan memainkan mesin capit tersebut.
Dengan perlahan Satria mulai menggerakkan alat capit tersebut menuju ke salah satu boneka beruang. Terlihat wajah yang penuh dengan ke hati - hatian dan jari - jari yang bersiap untuk menekan tombol. Saat alat capit yang di rasa oleh Satria telah berada tepat di atas boneka itu dan berkemungkinan dapat, Satria pun menekan tombol tersebut.
Alat capit pun mulai bergerak turun mendekati boneka beruang itu. Pandangan Satria dan Diana begitu fokus saat melihatnya. Alat capit tersebut mulai menyentuh boneka beruang itu.
"Dapat ! Dapat ! Dapat !" Kembali gema dari dalam benaknya berteriak. Dalam sekejap boneka yang tadinya terjepit lepas begitu saja. Perasaan kecewa datang kepada mereka berdua.
__ADS_1
Satria pun mencoba kembali memainkannya. Waktu demi waktu terlewati. Sudah berkali - kali dirinya memainkan, namun tetap saja mengalami kegagalan.
"Diana, tunggu sebentar lagi ya. Kali ini papa bakal berhasil." Saking gemasnya, Satria mencubit kedua pipi Diana. Alat capit tersebut benar - benar lemah, tak menjepit dengan kuat.
"Gak apa - apa, pa. Papa gak perlu repot - repot." Diana berusaha berbicara dengan kedua pipi yang masih tercubit oleh Satria.
Walaupun Diana berkata seperti itu, Satria tetap akan berusaha mencobanya kembali demi sang putri. Tapi kali ini dia harus berhasil. Satria pun mengambil smartphone miliknya dan sejenak mencari video tentang sebuah trik untuk menaklukkan mesin capit tersebut.
Dalam pencarian, terlihat banyak video yang memberikan trik. Satria pun mulai menonton salah satu video dengan seksama. Setelah menonton sampai habis, Satria mendapatkan sebuah harapan untuk putrinya itu.
"Diana, maaf udah menunggu lama. Sekarang papa benar - benar akan berhasil. Tunggu saja." Satria mulai percaya diri. Di dalam benaknya sudah tertanam trik - trik untuk menaklukkan mesin capit boneka tersebut.
__ADS_1
"Iya. Diana percaya sama papa. Semangat !" Dengan sepenuh hati Diana memberikan kata - kata yang membuat Satria semakin membara.
Satria pun mulai menghadap ke mesin capit tersebut. Kartu voucher sudah berada tepat di tangannya. Segera dia mulai menggesek dan kembali memainkannya. Dengan fokus yang tinggi dan nafas yang telah di atur tenang, Satria mulai menaklukkan mesin tersebut.