
"Kamu yakin, Andini ? Mungkin saja salah orang, benarkan ?" Putri pun tertawa kecil. Namun, Andini hanya terdiam.
"Jadi, memang benar pria itu ?" Putri yang mencoba tertawa kecil itu, wajahnya seketika berubah menjadi datar. Andini menjawab pertanyaan itu dengan anggukan kecil. Putri pun hanya menghela nafasnya yang berat.
"Aku tak menyangka. Seharusnya pada saat itu aku tak pergi meninggalkanmu ke ruang ganti sendirian. Kamu malah mendapatkan masalah seperti itu. Bodohnya aku." Putri begitu menyesal. Andini yang melihat Putri murung seperti itu mencoba menyemangatinya agar tak terlalu menyalahkan dirinya sendiri. Walaupun yang seharusnya disemangati adalah Andini.
"Kak Putri. Kakak tak perlu..."
"Ah ! Aku benar - benar iri padamu, Andini." Seketika itu Putri menyela perkataan dari Andini.
"Eh ? Apa maksudmu, Kak Putri ?" Andini sontak terkejut dan mempertanyakannya.
"Aku juga ingin bertemu dan berbicara dengannya secara langsung ! Aku ingin mendapatkan masalah seperti itu juga !" ungkap Putri.
"Kakak menyesal cuma karena hal itu ? Padahal aku sudah mau menyemangatimu. Kak Putri jahat !" Wajah Andini pun berubah menjadi masam.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah cemberut ? Ambil saja sisi positifnya. Aku tak menyangka saat kamu melihat pria itu, kamu tak mengenalnya. Padahal pria itu selalu muncul di media massa manapun." Putri mencoba mengembalikan suasana hati Andini.
"Terkenal ? Lalu kenapa aku tak mengetahuinya ? Berarti dia tak seterkenal itu. Aku benar - benar malu melakukan hal seperti itu padanya." Andini menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Putri tak dapat menyanggah kalimat terkenal tersebut.
"Tapi aneh sekali. Kenapa para pegawainya tak menegur saat Andini melakukan hal seperti itu. Jangan - jangan..." gumam Putri dalam hatinya.
"Sudahlah. Mungkin kedepannya akan ada sisi baiknya. Percaya saja pada kakakmu ini, mengerti ?"
"Kepercayaanku pada Kak Putri memangnya ada ?"
"Apa ?! Jadi, selama ini kamu tak mempercayaiku ?" Putri terkena syok berat akibat pernyataan tersebut. Namun, Andini tertawa dibalik kedua telapak tangannya yang sedang menutupi wajahnya.
Tak lama kemudian, Satria menyelesaikan pembicaraannya di depan semua orang yang hadir. Semuanya memberikan tepuk tangan.
"Kenapa wanita itu menutupi wajahnya sejak aku melihat ke arahnya ? Apakah aku melakukan hal yang salah ?" gumam Satria dalam hati sembari dirinya kembali ke tempat.
__ADS_1
Acara terus berlangsung hingga penyerahan sertifikat dan lain sebagainya kepada para peserta yang telah berhasil. Setelah itu, penyerahan itu pun mengakhiri acara tersebut. Orang - orang mulai menikmati pesta yang telah disiapkan. Mereka saling bercengkrama satu sama lain.
Putri dan Andini menjadi pusat perhatian bagi orang - orang yang hadir. Keduanya didekati oleh para peserta pria lain untuk saling berkenalan. Namun, seorang pria tinggi yang mengenakan jas dengan sangat rapi dan menggunakan kacamata datang menghampiri keduanya.
"Permisi, nona - nona !" Pria itu menyapa dengan sangat sopan. Para peserta pria lain pun menjauh dengan sendirinya. Seketika Putri dan juga Andini menyadari kedatangan pria itu.
"Wah, dia tampan." gumam Putri dalam hatinya.
"Perkenalkan, nama saya Michael Aleandro. Saya adalah seorang perancang busana. Ini adalah kartu nama saya." Michael memberikan kartu nama miliknya kepada Putri dan juga Andini.
"Bukankah dia adalah perancang busana terbaik di negeri ini ?!" gumam Putri dalam hatinya setelah mendengar nama pria itu. Namun sebaliknya, Andini tak mengenal pria itu.
"Maaf terlambat memperkenalkan diri, nama saya Putri Kencana Wangi." Putri memperkenalkan dirinya dengan merendahkan sedikit tubuh dan mengangkat sedikit gaunnya.
"Perkenalkan juga, nama saya Andini Wirajaya." Andini juga melakukannya dengan anggun. Michael merasa terpesona melihat sikap keduanya.
__ADS_1
"Jadi, apakah ada yang bisa kami bantu, tuan ?" tanya Putri.
"Langsung saja pada intinya. Saya ingin kalian berdua bekerja untuk saya, yaitu menjadi peragawati disetiap peragaan busana milik saya. Bagaimana ?"