
Tak lama kemudian, sampailah Satria di sebuah restoran. Ia pun segera memasuki restoran tersebut. Di balik pintu masuknya, ia disambut oleh pelayan yang sedang berjaga.
"Selamat datang, tuan ! Apakah anda sudah memesan sebuah meja ?"
"Iya, benar. Sebuah meja atas nama Bima Aryadi."
"Baiklah. Mohon untuk mengikuti saya, tuan !" Pelayan tersebut berjalan untuk mengantarkan Satria. Satria pun segera mengikutinya.
Terlihat dari kejauhan sudah ada Rio dan sahabatnya yaitu Bima yang sedang duduk. Keduanya pun tersadar dengan kedatangan Satria.
"Silahkan, tuan !" Pelayan tersebut membungkuk karena telah mengantarkan Satria pada tujuannya.
"Terimakasih."
"Kalau begitu saya permisi." Pelayan tersebut pun beranjak pergi. Satria segera bergabung dengan Rio dan juga Bima.
__ADS_1
"Sudah lama tidak bertemu, saudaraku." Bima berdiri sambil menjabat tangan dan memberikan pelukan hangat pada Satria.
"Senang bisa melihatmu kembali, Bima."
Keduanya pun duduk untuk melanjutkan perbincangan.
"Sebelum itu, mari kita memesan minuman !"
"Jika boleh menyela, sebaiknya saya tidak memesan minuman lagi. Maaf. Saya sudah tidak sanggup untuk minum." ujar Rio yang tampak pucat.
"Maaf, Rio. Telah membuat kalian berdua menunggu lama."
"Tidak apa - apa, tuan muda. Tuan muda tidak perlu meminta maaf. Saya sendiri sudah tahu sifat dari Tuan Bima. Saya seharusnya lebih kuat lagi saat sedang bersamanya. Jadi ini adalah konsekuensinya."
"Hei, jangan begitu ! Jika mendengar perkataan itu, jadi seperti aku yang merasa bersalah. Kalian berdua sedang memojokkanku, ya ? Satria ! Sebagai ganti karena telah terlambat datang, kau harus menggantikan Rio untuk minum bersamaku, mengerti ?" Bima dengan cepat melambai - lambaikan tangannya ke atas untuk memanggil pelayan.
__ADS_1
"Sepertinya aku tidak bisa menolak permintaan Bima." Satria sudah pasrah dengan keputusan Bima.
"Saya benar - benar minta maaf, tuan muda. Baiklah. Saya akan turut ikut minum kembali untuk meringankan tuan muda."
"Jangan memaksakan diri, Rio. Saya tidak apa - apa." Satria berusaha menenangkan Rio. Pelayan pun datang ke tempat mereka. Bima mulai memesan minuman dan beberapa makanan penutup.
"Jika dilihat baik - baik, kau benar - benar sudah tumbuh menjadi pria yang tampan. Kalau tidak salah terakhir kita bertemu adalah saat kelulusan SMA. Sejak lulus aku mulai pindah ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di sana. Lalu pada akhirnya aku menetap di sana dan membangun sebuah perusahaan kecil." Bima memulai kembali pembicaraan sembari menunggu pesanan mereka datang.
"Kemudian perusahaan kecil itu sekarang telah berubah menjadi salah satu perusahaan besar di dunia." Satria tersenyum karena senang dengan pencapaian yang telah diraih sahabatnya itu.
"Aku juga tidak ingin kalah darimu. Makanya aku berusaha keras mencoba dan terus mencobanya tanpa lelah." Bima menghela nafasnya dengan dalam.
"Aku tahu. Tapi aku sedikit tak menyangka bahwa orang seperti dirimu yang sukanya berkata seenaknya dengan orang lain bisa menjadi sesosok orang yang sukses." Satria kembali tersenyum. Rio yang mendengarnya pun ikut tersenyum.
"Kalian berdua, jangan mengejekku ! Toh aku sudah membuktikannya dengan kerja keras. Hasilnya bisa ku nikmati diakhir seperti saat ini." Pada akhirnya Bima pun ikut tersenyum.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat sembari melakukan pembicaraan, hidangan yang mereka pesan pun datang. Mereka pun menunda pembicaraan dan mulai menyantap hidangan tersebut.