Putri Kesayangan Tuan Muda

Putri Kesayangan Tuan Muda
Episode 17


__ADS_3

"Bagaimana menurut ibu ?" Andini ingin segera mendengar pendapat dari ibunya. Sejenak ibunya terdiam dan berpikir.


"Sebentar. Ibu mau melanjutkan membacanya. Kira - kira siapa yang berani bertanggungjawab mengeluarkan dana sebanyak itu ?" Ibunya kembali membaca ke kalimat selanjutnya hingga selesai.


"Pe-Perusahaan ini ?!" Seketika ibunya terkejut. Namun ada hal yang berbeda, kali ini ibunya tersenyum setelah selesai membacanya.


"Kenapa, bu ? Ada apa dengan perusahaannya ? Kenapa ibu tiba - tiba tersenyum begitu ? Jangan hanya diam - diam seperti itu ! Beritahu Dini, bu !" Andini memberikan banyak pertanyaan kepada ibunya tersebut. Namun, ibunya tetap tak menjawab dan masih tersenyum. Andini benar - benar penasaran terhadap ibunya yang tersenyum sendiri itu.


"Kamu boleh mengikutinya. Justru ibu menyarankan mu untuk ikut. Jangan disia - siakan, mengerti ?" Kemudian ibunya dengan tawa kecil memberikan cubitan ke kedua pipi Andini.


"Tapi kenapa tiba - tiba malah menjadi sangat setuju, bu ?" Dengan pipi yang masih tercubit, Andini mempertanyakannya.

__ADS_1


"Sudahlah. Ini hanya sedikit dari kenangan ayah dan ibu saat kamu masih kecil. Ibu mau tidur dulu. Jangan tidur larut, Dini !" Seketika itu ibunya melepaskan cubitannya. Ia pun beranjak pergi ke kamarnya.


"Baiklah, bu." Andini semakin penasaran dengan perkataan ibunya. Walaupun demikian, Andini tak mengungkitnya lebih panjang. Berhubung sudah tak ada lagi hal yang ingin dilakukan oleh Andini, ia pun beranjak pergi menuju ke kamarnya sembari mengelus kedua pipinya yang merah akibat cubitan ibunya tersebut.


Di kamar tempat tidurnya, ia pun berbaring. Tak lupa Andini menarik selimutnya. Rasa nyaman pada kasur dan selimut membuatnya mulai merasakan kantuk. Ia pun secara perlahan mulai terlelap dalam tidur.


Tririring, Tririring, Tririring !~


Kukuruyuk, Kukuruyuk !~


"Dini ? Ibu mau pergi ke pasar dulu. Tolong jaga rumah !"

__ADS_1


Seketika itu Andini membuka kedua matanya. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas menghampiri ibunya yang sedang berada di balik pintu kamarnya.


"Tunggu, bu ! Biarkan Dini saja yang pergi ke pasar. Lagipula ibu belum sembuh total. Bagian yang berat, serahkan saja pada Dini, ya ?" Dengan sorot mata yang masih setengah sadar, Andini mengambil alih keranjang belanjaan yang sedang di pegang oleh ibunya itu.


"Baiklah. Ini uang dan daftar beberapa belanjaan yang harus dibeli."


"Kalau begitu, Dini pergi dulu." Andini pun beranjak menuju ke pasar.


"Tunggu dulu, Dini !" Ibunya menarik tangan Andini. Seketika itu, Andini pun terhenti.


"Kenapa, bu ? Apakah ada belanjaan yang mau ditambahkan ?" Andini pun mempertanyakannya.

__ADS_1


"Bukan begitu. Coba lihat dirimu ! Wajah mu masih berantakan dan pakaian yang kamu kenakan tidak sopan untuk digunakan saat pergi keluar. Pria yang nakal bakal mengganggu mu di perjalanan. Segera ganti pakaian dan basuh wajah mu ! Dasar." Dengan canda, ibunya memberikan sebuah cubitan. Kali ini cubitannya diberikan kepada hidung Andini.


"Benar juga. Dini kelupaan, bu. Makasih sudah mengingatkan Dini. Tapi jangan terlalu sering - sering mencubit wajah Dini, bu ! Yang ada malah jadi tembem." Terlihat Andini menunjukkan tawa kecilnya. Ia pun meletakkan keranjang belanjaannya dan segera mengganti pakaian serta membasuh wajahnya. Setelah selesai bersiap - siap, tak lupa pula ia selalu mengecup kening ibunya sebelum hendak pergi. Andini pun pamit dan beranjak pergi menuju ke pasar.


__ADS_2