
Tak lama kemudian, Diana yang tadinya sempat terlelap dalam tidur pun terbangun. Dengan perlahan, Diana mengusap kelopak mata miliknya. Seiring membuka mata, Diana di sambut senyum manis oleh ayah dan neneknya.
"Udah bangun cucu nenek. Tidurnya nyenyak ya ?"
"Iya, nek."
Tiba - tiba terdengar suara gemuruh dari perut Diana. Dengan cepat merespon Satria dan ibunya.
"Wah, ada yang lagi laper nih ?" Dengan candanya Satria menyinggung putrinya itu.
"Nek, papa nakal !" Wajah Diana berubah sedikit masam berkat sang ayah.
"Satria, sudah. Bagaimana kalau kita pergi ke tempat makan terlebih dahulu sebelum pulang ?" Segera Ibu Satria mengajak anak dan cucunya itu.
"Nek, turunin Diana."
"Iya, sayang." Perlahan sang nenek menurunkan Diana. Mereka pun bersiap dan pergi menuju ke salah satu tempat makan.
__ADS_1
Sesampainya di tempat yang telah dituju, mereka di sambut salah satu pegawai.
"Selamat datang ! Apakah meja untuk tiga orang ?"
"Iya, benar." Dengan ramah Satria membalas sambutan dari pegawai tersebut.
"Mari ikuti saya !" Sang pegawai mengarahkan mereka bertiga menuju ke meja yang akan di tempati. Saat sampai, mereka pun duduk di tempat yang telah di sediakan.
"Silahkan untuk memilih menunya !" Pegawai tersebut memberikan sebuah buku menu dengan banyak pilihan makanan dan minuman.
"Diana mau pilih yang mana ?" Sang nenek membukakan buku menu dan membiarkan cucunya itu memilih apa yang akan mereka bertiga santap. Namun Diana terlihat kebingungan saat akan memilih.
"Untuk papa, yang ini aja !" Diana melanjutkan dengan menunjuk salah satu makanan yang berporsi paling sedikit.
"Diana masih marah ya sama papa ?" Satria pun mencubit kedua pipi milik putrinya itu dengan gemasnya.
"Tuh kan nek, papa nakal nyubit - nyubit Diana." Diana pun berusaha mencubit kedua pipi milik sang ayah. Pegawai yang sedang melihatnya berusaha menahan tawa.
__ADS_1
"Seperti yang telah di tunjuk oleh putri saya, kami memesan itu." Satria melanjutkan untuk memperjelas pesanannya pada pegawai tersebut.
"Baiklah, tuan. Mohon untuk menunggu pesanannya datang." Pegawai yang telah mencatat apa pesanan mereka bertiga pun beranjak pergi.
Setelah cukup lama menunggu, pesanan mereka pun tiba. Diana yang sedang melihat sudah tak sabar ingin segera menyantapnya.
"Silahkan menikmati hidangannya !" Senyum ramah terpancar dari pegawai itu.
"Terimakasih." Satria kembali membalas salam dari pegawai yang telah mengantarkan hidangannya tersebut.
Seperti yang telah di pesankan oleh Diana, Satria mendapatkan porsi makanan yang sangat sedikit. Walaupun begitu, Satria tetap senang. Mereka pun menyantap dengan lahap, terutama Diana.
Seiring berjalannya waktu, saat Satria hampir menghabiskan makanan miliknya, tiba - tiba Diana menyuguhkan beberapa sendok makanan miliknya ke piring Satria. Satria yang sedang melihat di buat penasaran.
"Nih, pa ! Kalau papa makannya sedikit, nanti bisa sakit."
"Eh ? Iya. Makasih, sayang. Diajari sama siapa Diana ?" Satria yang mendengar perkataan Diana itu sedikit terkejut dan juga senang. Satria tidak menyangka putrinya begitu perhatian.
__ADS_1
"Soalnya nenek selalu bilang, Diana harus makan yang banyak biar sehat terus." Diana menatap wajah ayahnya dengan senyum.
"Dasar, putri papa memang yang terbaik." Dengan sangat senang, Satria mengusap - usap kepala sang putri. Ibunya yang sedang melihat anak dan cucunya itu pun turut ikut senang.