Putri Kesayangan Tuan Muda

Putri Kesayangan Tuan Muda
Episode 19


__ADS_3

Setelah pria tua itu sudah benar - benar pergi, Andini dan ibunya pun beranjak masuk ke dalam rumah. Barang belanjaan yang telah dibeli segera di letakkan ke dapur. Dengan cepat Andini menghampiri ibunya.


"Bu, sebenarnya keluarga kita itu berhutang pada siapa ? Sudah empat tahun lamanya kita menyicil, tetapi hutang keluarga kita tak kunjung berakhir. Berapa nominal uang yang harus keluarga kita lunasi, bu ?" Andini yang sedang kesal akibat pria tua itu ingin segera mengetahuinya.


"Sudahlah, Dini. Kamu masih belum cukup kuat untuk mengetahuinya. Untuk sekarang, lebih baik kamu mempersiapkan mengenai pelatihan itu, mengerti ?" Ibunya secara lembut mengelus wajah Andini. Andini pun menganggukkan kepalanya.


"Setiap kali aku mempertanyakan hal seperti itu, ibu selalu mengatakan jika aku masih belum cukup kuat. Aku tidak mengerti kenapa ibu menjawabnya begitu. Padahal aku hanya ingin tahu." Di dalam hatinya, Andini bergumam setelah mendengar jawaban yang selalu sama dari ibunya.


"Ngomong - ngomong, bukankah uang yang kamu serahkan kepada pak tua bangka itu adalah uang tabungan mu ?"


"Benar. Memangnya ada apa, bu ?"

__ADS_1


"Kenapa kamu serahkan semuanya ?! Itukan hasil tabungan mu selama tiga tahun saat bekerja di tempatnya Mbok Inah !" Ibunya terlihat sangat kesal. Tangan lembut yang sedari tadi mengelus wajahnya kini berubah mencubit kuat pipi Andini. Seketika itu Andini tersentak kesakitan.


"Jangan cubit Dini terus, bu ! Kali ini pipi Dini benar - benar bakal jadi tembem." Andini mencoba memohon ampun kepada ibunya. Ibunya pun melepaskan cubitannya dari pipi Andini.


"Seharusnya kamu beritahu ibu. Ibu masih ada sisa simpanan dari pekerjaan ibu sebelumnya. Lagipula, kenapa harus semuanya kamu serahkan ?"


"Tidak perlu khawatir, bu. Dini sudah memperkirakannya. Ibu kan sudah membaca isi dari pelatihan itu bahwa bagi peserta yang masih bertahan sampai akhir mendapatkan gaji selama masa pelatihan dan dapat langsung dipekerjakan. Jadi, Dini hanya perlu berhasil sampai akhir saja, benarkan ?" Andini tersenyum lebar dengan penuh kepercayaan.


"Tuh, kan ! Kenapa ayah dan ibu selalu saja mencubit bagian wajah Dini ?!"


"Kenapa malah bertanya ? Tentu saja karena ayah dan ibu suka." Ibunya pun tertawa.

__ADS_1


"Cuma karena suka ? Alasan seperti itu sederhana sekali, bu." Andini terlihat kecewa. Seketika itu, ibunya kembali mencubit. Mereka berdua pun berakhir saling mencubit satu sama lain.


( 3 Hari Sebelum Waktu Dimulainya Pelatihan )


"Dini ! Ayo segera bangun ! Bukankah hari ini kamu akan berangkat ?" Ibunya yang baru saja kembali dari pasar segera mengetuk pintu kamar Andini. Pintu Andini pun perlahan terbuka.


"Dini sudah bangun kok, bu." Terlihat Andini sudah bersiap dengan pakaian yang rapi dan membawa tas ransel miliknya yang berisi pakaian - pakaian yang akan dikenakan selama pelatihan. Andini dan ibunya pun menuju ke depan rumah.


"Dini pamit dulu, bu." Dengan hangat Andini memeluk sang ibu. Tak lupa pula ia mengecup kening ibunya.


"Hati - hati di perjalanan. Semoga kamu berhasil dan selalu jaga kesehatan." Ibunya pun membalas kecupan pada kening Andini.

__ADS_1


Andini segera beranjak pergi dari rumah dan menuju ke terminal bus. Terminal bus sendiri bersebelahan dengan pasar. Jadi tak memakan waktu yang lama. Setelah sampai di terminal, Andini segera menaiki bus. Tak perlu menunggu lama, bus pun berangkat.


__ADS_2