Putri Renjana

Putri Renjana
Sebelas


__ADS_3

Sebelum pulang, Renjana terlebih dahulu ingin menemui seseorang di rumah sakit ini. Gadis itu menaiki lift, menekan tombol lantai paling atas milik rumah sakit.


"dokter Revi Anggaranya ada?" tanya Renjana pada seorang wanita yang duduk di meja yang letaknya tepat di samping pintu ruangan seseorang yang ia cari.


"Ada, Bu Renjana." Renjana memang sudah dikenal di rumah sakit ini. Karena rumah sakit ini, adalah salah satu bangunan milik keluarga Basuwardi juga.


"Dia tidak lagi menerima tamu atau siapapun, kan? Apa aku boleh masuk?"


"Silahkan, Bu Renjana. Di dalam hanya dokter Revi sendiri. Apa Ibu perlu kuantar?" tawar wanita yang merupakan asisten pribadi dokter Revi.


"Ah, begitu. Terima kasih tawarannya, tapi tidak perlu. Aku akan masuk sendiri saja. Kalau begitu, aku masuk dulu!" ujarnya berpamitan.


"Baik, Bu!"


Renjana mengetuk pintu bercat cokelat itu, dan langsung masuk ketika mendengar jawaban dari dalam yang mempersilahkannya.


"Renjana?" dokter Revi terkejut akan kedatangan gadis itu. Bahkan dokter itu langsung berdiri dari duduknya, meninggalkan beberapa dokumen yang sedang diperiksanya di atas meja.


"Apa yang membawamu tiba-tiba datang ke mari?" tanya dokter Revi. Pria itu adalah sahabat ayahnya, jadi tentu saja mereka sangat akrab. Makanya ia tak memanggil Renjana dengan embel-embel Ibu atau apapun.

__ADS_1


"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Duduklah kembali, Om Revi." Renjana mendekat, menyalami tangan pria itu.


"Jadi, apa yang membawa seorang putri Basuwardi datang menyambangi ruanganku sendirian? Biasanya, kau berkunjung ke sini dengan Ayahmu atau salah satu Kakakmu itu," tanya dokter ahli bedah dan penyakit dalam itu setelah beberapa saat mereka mengobrol basa-basi.


"Aku butuh bantuanmu. Tapi, tolong jangan katakan pada siapapun. Ini, rahasia di antara kita."


Dokter Revi menatap Renjana bingung. "Bantuan apa?"


"Pasien bernama Arumi yang terkena penyakit gagal ginjal, apa kau yang menanganinya?"


Dokter Revi diam, berpikir. Seketika, bayangan seorang wanita yang datang rutin ke rumah sakit ini tiga tahun belakangan langsung membuatnya mengangguk.


"Bukan aku yang menanganinya, tapi dokter Fardi. Tapi, aku mengenal Bu Arumi karena beberapa kali aku menggantikan dokter Fardi ketika dia ada urusan mendadak. Dia juga pasien yang sudah lama keluar-masuk rumah sakit. Dia benar-benar pasien yang kuat," cerita dokter Revi. Renjana mengangguk untuk pendapat Revi yang terakhir. Bu Arumi, pasien yang kuat.


"Aku merasa prihatin dengan kondisinya. Dia sudah lama menderita penyakit itu, pasti sangat menyakitkan. Dan, walaupun mendapat pendonor, keluarganya tak mampu membiayai. Aku tadi sempat bertemu dengannya juga." Renjana menghembuskan napas kasar, sebelum melanjutkan ucapannya.


"Melihat Bu Arumi, aku malah langsung teringat Mami. Dia seumuran Mami, kan?" Dokter Revi mengangguki pertanyaan Renjana.


"Seharusnya, dia menikmati masa tuanya dengan berkebun atau kegiatan menyenangkan yang lain. Bukan dalam kesakitan seperti itu. Aku sangat iba padanya. Karena itu, aku berpikir untuk membantunya. Mungkin saja, aku adalah jembatan dari Tuhan untuk membantunya sembuh setelah sekian lama menderita."

__ADS_1


"Bagaimana, apa kau mau membantuku, om?" tanya Renjana.


"Baiklah. Aku akan berusaha membantumu. Tapi, bagaimana kau bisa mengenal Bu Arumi dan mengetahui semuanya?"


Renjana tersenyum lega mendengar jawaban Revi yang ingin membantunya. "Aku tadi tidak sengaja bertemu anaknya. Dan anaknya itu salah satu guru di CIC. Kami mengobrol sebentar, dan akhirnya aku menanyakan siapa yang dirawat di sini. Mengalirkan cerita itu."


"Apa anaknya setuju dengan bantuanmu?" tanya Revi lagi.


"Tentu saja dia menolak awalnya. Tapi, aku membujuknya. Mengatakan, ini demi Ibunya. Dia terlalu menyayangi Ibunya, jadi dia rela menurunkan ego demi kesembuhan Bu Arumi," cerita Renjana lagi.


"Kau menolongnya, tidak memiliki maksud apapun kan?" Dokter Revi menatapnya curiga. Renjana tertawa kencang dibuatnya.


"Kau seperti tidak mengenalku, Om. Dengan semua yang aku miliki, apa aku tega merampas sesuatu dari orang tak mampu? Aku benar-benar murni ingin membantu."


Dokter Revi menghembuskan napas lega. "Baiklah. Aku akan mencari pendonor, dan akan segera melakukan operasi. Aku juga akan menghubungi dokter Fardi nanti."


"Tapi berjanjilah, kau tak akan mengatakan apapun pada keluargaku. Kau tahu sendiri, aku tak nyaman kalau diketahui banyak orang saat menolong orang lain," peringat Renjana.


"Tenang. Aku akan menjaga rahasia kita, peri Basuwardi." Renjana tertawa mendengar panggilan yang disematkan dokter Revi padanya. Peri? Astaga. Paruh baya di depannya ini memang suka aneh-aneh.

__ADS_1


"Kalau begitu aku permisi dulu. Jangan sampai ada orang rumah yang datang berkunjung ke sini tiba-tiba dan mendapatiku di sini. Semua pasti akan sangat kacau."


"Oke. Hati-hati di jalan!"


__ADS_2