
Renjana berpamitan pada tiga Kakaknya dan Reksa yang tengah mengobrol di ruangan Reksa. Ia mengatakan merasa lapar, dan tak bisa menahannya lagi. Dengan langkah terburu, dia berjalan memasuki lift, dan segera menekan tombol menuju lantai atas.
"Bu Renjana." Renjana mendapat sapaan asisten dokter Revi ketika sampai di depan ruangan pria paruh baya itu.
"Hai," sapanya balik. "Apa dokter Revi di dalam?" Wanita itu mengangguk. Renjana segera berpamitan ke dalam. Tak ada waktu untuk sekedar berbasa-basi. Jangan sampai Kakaknya menyusul ke kantin rumah sakit dan membuat kehebohan karena tak menemukannya di sana.
"Permisi!"
"Ah, kau rupanya. Om pikir siapa." Revi tertawa melihat Renjana yang terkesan buru-buru mendekat padanya.
"Bagaimana? Apa Om sudah bicara dengan dokter Fardi?" tanya Renjana langsung.
"Duduklah dulu, Renjana! Kau terlihat sangat buru-buru." Dokter Revi menggeleng tak habis pikir.
"Aku datang menjenguk Pangeran dengan tiga Kakakku. Aku tidak ingin mereka mengetahui masalah ini," ujarnya memberi tahu.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah!" Dokter Revi mengerti sekarang. "Aku sudah berbicara dengan dokter Fardi, dan katanya penyakit Bu Arumi itu sudah sangat parah. Meskipun dilakukan pendonoran, jaminannya untuk sembuh sangat kecil. Kalaupun sembuh, dia mungkin tidak akan bisa beraktivitas seperti orang normal lainnya. Operasinya juga sangat beresiko. Karena meskipun mendapat ginjal yang cocok, bisa jadi ada penolakan dari tubuh pasien."
Renjana menghembuskan napas kasar. Entah kenapa, ia benar-benar menginginkan Bu Arumi bertahan. Dia memang seringkali merasa iba pada orang lain. Tapi, kali ini terasa berbeda. Dia merasa, ingin melakukan apapun demi kesembuhan Bu Arumi. Satu hal lagi, Renjana seperti mengenali wajah Bu Arumi, tapi dia tak tahu persis apa benar-benar mengenal atau tidak.
"Lalu, kita harus bagaimana Om?"
"Renjana, kami pihak medis memang hanya bisa mengatakan semua kemungkinan yang akan terjadi ke depannya. Tapi, semuanya belum tentu akan benar-benar terjadi. Kami juga hanya manusia biasa. Tapi, kau tidak perlu meragukan kebesaran Tuhan, kan?"
Mata Renjana membulat. Benar, dokter hanya perantara. Kesembuhan itu berasal dari Tuhan, kan? Asal berusaha dan dibarengi dengan doa, semua pasti tak akan ada yang sia-sia.
Dokter Revi tersenyum melihat wajah Renjana yang kembali bersemangat. "pihak rumah sakit juga sudah menemukan pendonor yang cocok. Kalau pihak keluarga pasien sudah setuju, lusa operasi pencangkokan ginjal sudah bisa dilakukan."
"Aku juga berharap, Om tetap menjaga rahasia kita," tambahnya.
"Hahaha. Kau tenang saja. Om berjanji akan mengunci mulut Om. Bahkan, Om tak memberi tahu dokter Fardi kalau kau yang berada di balik semua ini. Jadi, semua aman terkendali."
__ADS_1
Renjana mengangguk dan tersenyum tipis. "Baguslah."
"Tapi Renjana, entah kenapa Om masih merasa alasanmu untuk menolong Bu Arumi sedikit aneh. Masa hanya karena dia seumuran Ibumu, kau bersikeras ingin dia sembuh?"
Pertanyaan dokter Revi membuat Renjana terdiam sejenak, sebelum menghembuskan napas kasar. "Sebenarnya...aku seperti merasa familiar dengan wajah Bu Arumi. Aku yakin pernah bertemu dengannya sebelum ini, meskipun sedikit tidak yakin kalau kami saling mengenal. Entahlah. Rasa iba yang kurasakan begitu besar pada Bu Arumi." Renjana akhirnya menceritakan kejanggalan yang ia rasakan.
Wajah dokter Revi terlihat kaku saat mendengar penjelasan Renjana, dan tentu saja mampu ditangkap indra penglihatan gadis itu.
"Kenapa? Apa Om mengenal Bu Arumi? Maksudku, selain pasien dokter Fardi?"
Dokter Revi sedikit tersentak, sadar dari keterdiamannya tadi. Ia mengulas senyum tipis, tapi Renjana tahu kalau senyum itu adalah senyum paksa. Sebenarnya, ada apa? Pikir Renjana membatin.
"Tidak. Aku...aku baru bertemu dengannya saat menggantikan dokter Fardi seperti kataku kemarin. Aku tidak mengenalnya sebelum itu."
Renjana memilih mengangguk. Biarlah ia cari tahu nanti. "Oh, begitu."
__ADS_1
"Oh ya, aku harus segera berpamitan, Om. Aku takut, tiga Kakakku yang posesif itu akan menyusulku ke kantin, dan tahu kalau aku tadi berbohong."
Dokter Revi menghembuskan napas lega. "Baiklah. Kau tenang saja, Bu Arumi pasti akan kami tangani dengan baik." Setelah mengangguk, Renjana pun segera keluar dari ruangan itu. Menyisakan dokter Revi yang mengelus dadanya lega.