
Renjana kini tengah bermanja pada Reksa di ruangannya. Dia benar-benar merindukan sahabatnya itu. Entah kenapa, gara-gara pembicaraan malam itu, keduanya seolah enggan saling menghubungi duluan meski rindu menerpa hati.
“ku pikir, kau tak akan merindukanku, Princess,” ujar Reksa. Renjana memukul bahu pria yang tengah ia jadikan sandaran itu.
“Kau menyebalkan. Siapa bilang aku tak merindukanmu? Sejak kecil, kita selalu bersama, dan kau tiba-tiba tidak ada di sampingku dalam waktu yang lama. Bahkan, kau juga tidak menghubungiku.”
Reksa mengelus rambut Renjana. “lalu, kenapa kau tidak menghubungiku duluan?” tanya Reksa.
“aku hanya—entahlah. Kupikir, kau terlalu sibuk mengurus perusahaan. Aku jadi sungkan menghubungimu, karena akut mengganggu.”
__ADS_1
Reksa mendesah kasar. “Astaga, Princess! Kau bahkan tahu, apapun tentangmu akan lebih penting dari segalanya di hidupku. Kalau kau merindukanku, sesibuk apapun aku, tetap saja aku akan datang menemuimu.”
“Ya, ya, ya! Ini salahku,” ujar Renjana mengakui. Lagi pula, entah kenapa ia malah canggung menghubungi Reksa akhir-akhir ini. Padahal dulu, jika membutuhkan pria itu, dia akan menghubunginya tanpa memedulikan kesibukan pria itu.
“Oh ya, Princess. Kau terlihat sangat akrab dengan pria tadi,” ujar Reksa memancing.
“Hmm. Dia pengganti Gerald, jadi aku harus mengakrabkan diri dengannya. Kau tau sendiri, aku terlalu malas bekerja dalam suasana terlalu formal.”
“Oh ya, kau tidak bekerja hari ini?” Renjana mendongak, menatap wajah sahabatnya itu. “Astaga! Kau sesibuk apa, sampai-sampai bercukur saja kau lupa?” Ia mengelus dagu Reksa, yang memang ditumbuhi bulu-buku halus di sana.
__ADS_1
Reksa tertawa mendengarnya. “aku bekerja, tapi sepertinya menggunakan setengah hari ini untuk menghabiskan waktu bersamamu tidak masalah. Untuk hal bercukur, ya—jujur saja, aku memang sering lupa.”
“Dulu, saat masih jadi artis, ada menejerku yang akan mengingatkan penampilanku. Tapi, sekarang kan tidak ada, jadinya aku sering lupa. Kesibukan di perusahaan banyak menyita waktuku. Terlebih, masih banyak hal baru yang harus aku pelajari dengan baik. Di samping belajar, aku juga harus sudah mengerjakan ini dan itu, juga ikut rapat di sana-sini. Jadilah, seperti ini.”
Renjana mengangguk, tangannya mengelus pipi pria itu. Kebiasaan yang sering ia lakukan, tanpa tahu bagaimana reaksi jantung Reksa terhadapnya.
“Kalau begitu, kau butuh seseorang untuk mengingatkanmu, bukan? Kenapa tidak menggunakan jasa asisten pribadi saja? Uangmu kan banyak, kau tentu bisa menyewanya.”
“Aku tidak ingin asisten pribadi yang mengingatkanku. Yang aku butuhkan, adalah sosok istri yang setiap hari mengurusku ketika akan pergi bekerja. Dan ketika pulang, akan menyambutnya dengan senyuman. Aku yakin, rasa lelahku setelah bekerja pasti akan terhapus. Terlebih, kalau orang yang kukatakan tadi adalah kau. Kau tahu sendiri kan Princess, kau adalah obat paling mujarab di hidupku?”
__ADS_1
Renjana terdiam. Reksa kembali menyinggung masalah hubungan mereka. Tapi sejauh ini, dia tidak juga mengetahui bagaimana perasaannya. Terlebih, dia mulai merasakan hal yang tak wajar saat bersama Gumilar. Perasaan yang sebelum ini belum pernah di rasakannya, bahkan ketika bersama Reksa sekalipun.
tolong dong, kakak-kakak. like dan komennya jangan lupa. kalau berkanan, mohon share ke teman-teman kalian, agar mereka bisa ikut menikmati kisah cinta Renjana dan dua pangeran berkudanya.