Putri Renjana

Putri Renjana
Sembilan Belas


__ADS_3

"Bagaimana? Apa sudah ada kabar dari mata-mata yang kau kirimkan untuk mencari tahu tentang Bu Arumi?" tembak Renjana langsung saat Gerald memasuki ruangannya.


"Astaga Renjana, kau memang tak bisa sabar sedikit saja? Aku bahkan belum duduk," cibir Gerald.


Renjana tertawa sebagai respon. "Maaf, aku terlalu penasaran tadi. Kau tahu, aku sudah menunggu selama seminggu, tapi sama sekali tak ada laporan darimu tentang hal yang kuinginkan."


"Aku tadi sempat membaca berkas milik si pegawai baru. Dia..." Gerald memilih tak melanjutkan ucaoamnya, karena ia yakin kalau Renjana pasti sudah mengerti.


"Ya. Dia anak dari Bu Arumi. Orang yang kuminta untuk dicari latar belakangnya," jawab Renjana jujur.


"Astaga, Renjana! Jangan bilang, kau memang sengaja membuatnya bekerja di sini agar kau mudah mendapat informasi?"


Renjana mendengus. "Kau sendiri tahu, aku bukan seperti itu. Aku memang benar-benar murni ingin menolongnya yang tengah kesulitan. Jadi, jangan salah sangka padaku."


"Ah, syukurlah. Jantungku nyaris copot karena berpikir kau berani memanfaatkan orang lain demi urusan pribadimu," ujar Gerald seraya menghembuskan napas lega.


"Lebih baik kita tinggalkan pembahasan itu. Aku ingin bertanya, penyelidikanmu sudah ada kemajuan?"


Gerald menggeleng pelan. "Utusanku sudah berhasil mendapatkan informasi tentang keluarga itu. Tapi, dia kesulitan mencari tahu hubungan keluarga itu dengan keluarga Basuwardi. Kau tahu sendiri, suatu rahasia yang bersangkutan dengan keluarga Basuwardi itu adalah hal yang sangat sulit untuk diakses."


"Baiklah-baiklah! Tapi, informasi tentang keluarga Bu Arumi, apa saja yang dia dapatkan?" tanya Renjana. Dia maklum saja, ucapan Gerald tadi semuanya benar.


"Lihatlah map yang berwarna kuning di depanmu itu. Aku sengaja meletakkannya di saja tadi pagi, saat kau mengatakan akan berkunjung. Sepertinya, kau belum membukanya." Gerald menunjuk ke atas meja.


Renjana mengambil benda yang dikatakan Gerald. Dia baru sadar, ternyata di mejanya ada map yang terpisah dengan tumpukan map lainnya.


"Jadi, suaminya sudah lama meninggal? 2013, itu tandanya waktu itu aku masih SMP, kan?" tanya Renjana. Gerald mengangguk membenarkan.

__ADS_1


"Dan apa, ini? Astaga. Gumilar tahun lulus SMA-nya sama denganku, tapi ternyata dia ikut kelas akselarasi di SMP dan juga SMA. Menempuh kuliah hanya tiga tahun enam bulan, dan lulus dengan predikat cumlaude. Itu artinya, dia lebih muda dari aku?"


"Benarkah? Aku belum membaca informasi itu sama sekali, karena kupikir kaulah yang berhak lebih dahulu membukanya," respon Gerald.


"Pantas saja dia terlihat sangat menghormati kita. Karena ternyata, umurnya lebih muda dari kita," tambahnya.


"Lalu, apa mata-mata itu sudah menyerah?" tanya Renjana.


Gerald menghembuskan napas pelan. "Kau tahu, apapun yang kau perintahkan akan aku lakukan. Kau bertitah ingin mencari tahu hubungan keluarga Bu Arumi dengan keluargamu, apa kau pikir aku akan membiarkannya berhenti begitu saja sebelum mendapatkan yang kau inginkan?"


Renjana tersenyum senang. "Semua perlakuanmu padaku benar-benar membuatku tersanjung. Kau memang sahabat terbaikku, Gerald."


Gerald tertawa mendengar balasan kalimat dari Renjana. "Sahabat terbaik? Apa kau tak salah? Bukankah masih ada Pangeran Antareksa yang setingkat lebih tinggi di atasku?" ejek Gerald.


Renjana ikut tertawa. "Ah, kau benar. Tapi, karena hari ini, sepertinya posisimu nyaris menyamai posisi Pangeran," canda Renjana.


"Sudahlah. Karena aku sudah selesai bertanya padamu, sekarang kembalilah bekerja."


Gerald melotot mendengar ucapan Renjana. "Kau benar-benar kejam, Renjana. Kau menyuruhku datang seenaknya, dan mengusirku seenaknya juga," cibir Gerald.


"Astaga Gerald. Andai saja si Mia Andara tahu bagaimana sikap lebaymu, aku jadi ragu kalau dia mau menjalin hubungan denganmu."


Gerald lagi-lagi tertawa mendengar celetukan Renjana. "Kau salah. Kalau sudah cinta, mau sikapku seburuk apapun pasti akan diterima oleh Mia. Dia itu terlalu mencintaiku, jadi satu sikap burukku tak akan berpengaruh pada hubungan kami." Gerald menyombongkan diri, membuat Renjana mendengus. Mentang-mentang sudah memiliki pasangan, dia sudah merasa berada di atas awan.


"Diamlah, Gerald. Kepalaku pening mendengar kesombonganmu. Lebih baik, kau ajari Gumilar tentang pekerjaannya atau gajimu aku potong."


"Baiklah-baiklah! Aku pergi kalau begitu. Astaga, mentang-mentang kau bosnya, seenaknya saja ingin memotong gaji. Kalau seperti itu, kapan uangku akan terkumpul untuk melamar Mia?"

__ADS_1


Renjana tertawa mendengar gerutuan Gerald. Setelah kepergian pria itu, Renjana kembali memfokuskan dirinya pada map yang ia pegang. Menggaruk pelipisnya karena kesulitan berpikir, namun matanya masih setia menatap semua informasi yang tersaji di dalam lembaran kertas itu.


"Kenapa penyebab meninggalnya suami Bu Arumi tidak tertera? Di sini hanya dituliskan suaminya meninggal tahun 2013 tanpa penjelasan yang menyertai."


"Sepertinya ada yang aneh. Di sini, pekerjaan Bu Arumi hanya seorang penjual kue keliling. Dan ini, Gumilar pindah sekolah ke SMP swasta setelah Ayahnya meninggal. Bukannya pindah memerlukan biaya banyak? Dan untuk apa dia pindah, coba? Lagi, ini SMP swasta, jelas biaya sekolahnya pun sangat mahal. Kecuali kalau ada seseorang yang membiayai sekolahnya. Apa jangan-jangan, di sini hubungannya dengan keluargaku? Tapi kalau benar, apa penyebab mereka membiayai sekolah Gumilar?" Renjana berpikir keras, memecahkan sebuah teka-teki yang baru saja ia temukan kejanggalannya di dalam informasi yang ia dapatkan.


"Ah, sepertinya aku harus mencari tahu dulu, Gumilar lulus di SMP mana. Siapa tahu dari sana aku bisa mendapatkan petunjuk."


Renjana berdiri dari kursinya, tujuannya adalah kembali ke ruangan Gerald untuk meminta berkas kelengkapan milik Gumilar.


"Renjana?" Gerald terkejut melihat kedatangan Renjana yang kelihatan terburu-buru. "Ada apa?" tanya pria itu khawatir. Siapa tahu saja kan, Restoran kebakaran atau ada hal buruk lain.


Renjana meringis, "ah, tidak ada apa-apa, Gerald. Maaf kalau membuatmu terkejut."


Gerald menghembuskan napas berat. "Syukurlah."


"Aku datang hanya ingin meminta berkas milik Gumilar."


"Oh, aku pikir kenapa. Ini!" Gerald menyerahkan map yang ada di atas meja. Renjana mengambil berkas tersebut, ia melirik ke arah Gumilar yang tengah fokus mempelajari berkas di tangannya. Setelahnya, Renjana berpamitan kembali untuk ke luar ruangan.


Saat sudah kembali duduk di ruangannya, Renjana membuka berkas Gumilar dengan terburu. Matanya membulat saat membaca keterangan yang ada di sana.


"Gumilar lulusan SMP dan SMA-nya di yayasan Cahaya Insan Cerdas? Dia alumni CIC? Tapi, kenapa aku tak pernah melihatnya, ya?"


"Astaga, jangan bodoh Renjana. Murid CIC itu ribuan, jadi mana mungkin kau bisa menghapal wajah-wajah mereka." Renjana merutuki kebodohannya sendiri.


"Tapi, masuk CIC biayanya sangat mahal. Kalau Gumilar sejak awal masuk CIC, berarti dia jalur beasiswa. Tapi kan dia pindahan? Bukannya itu masuk jalur umum?"

__ADS_1


Renjana semakin merasa penasaran. "Berarti, kecurigaanku benar kalau Bu Arumi ada hubungannya dengan keluarga Basuwardi. Tapi, kenapa mereka menyembunyikan fakta itu dariku?" gumam Renjana tak habis pikir.


__ADS_2