Putri Renjana

Putri Renjana
Tiga Belas


__ADS_3

"Kakak dengar dari Bi Siti, kau tadi dari rumah sakit menjenguk Pangeran. Bagaimana keadaannya?" tanya Jefry. Jendra dan Reandra terkejut mendengar kabar itu. Keduanya memilih menyimak pembicaraan Jefry dan Renjana.


"Sudah membaik. Dia hanya kelelahan. Tante Selvi dan Om Fathan juga sudah datang tadi. Makanya aku izin pulang."


"Besok baru Kakak akan menjenguknya. Kau juga akan ke sana besok, kan?"


"Iya. Aku besok akan menjaganya seharian." Senyum penuh godaan langsung didapatkan Renjana dari Reandra kala menyelesaikan ucapannya.


"Kenapa kau memasang wajah menyebalkan seperti itu, Kak? Kau terlihat sangat menakutkan dengan senyummu itu," cibir Renjana.


"Ah, kau benar-benar manusia yang tidak peka," balas Reandra mencibir. Sementara Jendra dan Jefry yang menyaksikan keduanya kembali berdebat hanya menghembuskan napas kasar.


"Sudahlah, Rea. Cukup mencari gara-gara. Lebih baik, habiskan makananmu segera!" perintah Jefry.


Reandra mendengus. "Ayolah Kak, panggil namaku dengan benar. Kalau orang tak mengenalku, bisa-bisa aku disangka perempuan karena panggilanmu barusan." Ucapan Reandra tentu saja tak mendapat jawaban dari Jefry, karena pria itu malah lebih memilih fokus pada makanannya.


Keempat buah hati Basuwardi itu kemudian melanjutkan makan dalam diam.

__ADS_1


Selesai makan, keempat orang tersebut kembali duduk santai di ruang keluarga sambil menonton TV. Renjana dan Jefry yang sedang duduk di sofa dengan posisi Renjana yang tengah bersandar di bahu Kakak sulungnya itu. Sementara Jendra dan Reandra lebih memilih duduk di karpet bulu di depan sofa. Dibanding dengan dua kakak lainnya, Renjana memang lebih suka bermanja pada Jefry. Reandra terlalu menyebalkan menurutnya, sementara Jendra sangat tak asik diajak mengobrol. Pria itu akan lebih memilih bermain game meskipun Renjana tengah memeluk lengannya. Berbeda dengan Jefry, yang meskipun lebih banyak diam, namun ia tetap mendengarkan ucapan Renjana. Perhatiannya hanya akan tertuju pada adiknya itu.


"Kak, kapan salah satu dari kalian akan menikah?" Pertanyaan tiba-tiba dari Renjana, mendapat sambutan wajah horor dari tiga Kakaknya. Fokus ketiga orang tersebut sontak langsung diarahkan padanya. Jendra bahkan membiarkan gamenya terabaikan.


"Princess, kau...kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Hah?" Reandra yang terlebih dahulu bersuara.


"Hah? Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran saja, kenapa salah satu dari kalian sampai saat ini belum memperkenalkan seorang gadis pun pada kita?"


Jendra seketika langsung pura-pura sibuk kembali dengan ponselnya. Reandra berpamitan, mengatakan ingin buang air. Sementara Jefry yang akan berdiri, langsung ditatap Renjana tajam.


"Kalian kenapa malah menghindari ku. Hah? Reandra Basuwardi, kembali ke tempatmu. Aku tahu, kau hanya beralasan," marah Renjana. Padahal, apa salahnya mereka menjawab pertanyaan itu? Bukankah itu pertanyaan mudah? Reandra yang nama lengkapnya disebut tanpa embel-embel 'Kak' seperti biasanya, segera kembali ke tempatnya.


Sekarang, Renjana menatap ke arah Jefry. Kakaknya itu malah menampakkan wajah yang sangat kaku. Renjana hapal wajah itu, itu pasti karena Jefry tak tahu harus berekspresi seperti apa.


"Sekarang berikan aku alasan yang masuk akal. Itu menurutku pertanyaan yang sangat gampang. Kenapa kalian sangat kesulitan menjawabnya?" Renjana benar-benar kesal.


"Baiklah-baiklah! Biar aku yang menjawab duluan," Reandra mengalah. "Aku...karena aku masih terlalu muda. Dua kakakku saja belum menikah, iya kan? Jadi, tidak bagus mendahului mereka." Jendra dan Jefry sontak memelototi Reandra yang menjadikan mereka bahan alasan pembelaan dirinya.

__ADS_1


Renjana mengangguk mengerti, "ah! Kau benar. Umurmu bahkan hanya dua tahun di atasku."


Sekarang, tatapan gadis itu tertuju pada Jendra. Jendra menelan ludahnya. Sebenarnya, menghadapi Renjana yang memiliki banyak pertanyaan tiba-tiba seperti ini susah-susah gampang. Susahnya karena harus mencari jawaban yang tepat agar masuk di logika gadis itu. Gampangnya ya, meskipun jawaban sederhana dan aneh, asal masuk di akalnya Renjana akan menerima. Jawaban Reandra tadi contohnya.


"Aku...karena Kak Jefry belum menikah." Jefry menatap kesal pada Jendra.


Renjana terlihat menggeleng, tak terima dengan alasan Jendra. Melihat itu, Jendra buru-buru mencari alasan jawabannya. "Aku itu...ingin berhemat. Ya, ingin berhemat. Aku tidak ingin membayar uang pelangkah pada Kak Jef kalau duluan menikah. Uang pelangkah itu juga sangat mahal. Lagipula, banyak orang bilang kalau melangkahi seorang Kakak ketika menikah, kakaknya itu akan susah dapat jodoh."


Jefry merutuki dua adiknya dalam hati. Kenapa keduanya malah menjadikan dirinya alasan?


Sekarang, Renjana percaya. Gadis itu kemudian mendongak, menatap Jefry. "Sekarang, alasanmu apa Kak Jef?"


Jendra dan Reandra yang jawabannya sudah diterima Renjana berusaha untuk menyembunyikan tawa.


"Karena belum menemukan yang tepat, mungkin?"


"Kenapa begitu?" tanya Renjana lagi.

__ADS_1


"Ah, kau tau kan, menikah itu bukan hal main-main. Jadi, kita harus benar-benar menyeleksi siapa yang jadi pasangan kita nanti. Lagipula, umur 28 tahun bagi seorang pria itu bisa dikatakan masih muda. Masih banyak hal yang ingin Kakak gapai. Salah satunya, membuat bisnis Basuwardi lebih berjaya lagi. Dan juga menjagamu. Karena kau, adalah permata di keluarga ini yang harus Kakak pastikan aman di tempatnya." Dari semua jawaban yang dilontarkan tiga Kakaknya, yang lebih manusiawi adalah jawaban Jefry. Tidak salah bukan, Renjana yang mengatakan dua kakaknya yang lain itu tak asik.


__ADS_2