
"Princess? Kau dari mana saja?" pertanyaan Bagas Basuwardi membuat Renjana yang baru saja memasuki rumah terperanjat kaget.
"Ah, Papi belum tidur?" tanya Renjana balik. "Aku tadi dari Restoran, dan tidak membawa kendaraan. Karena hujan deras aku terjebak di sana."
Bagas menghembuskan napas kasar. Ia mendekati putrinya itu, dan mengelus rambutnya dengan lembut. "Princess, entah kenapa, akhir-akhir ini Papi merasa kau seperti menjauh. Ada apa sebenarnya?"
Renjana menggeleng panik. "Itu hanya perasaan Papi. Aku cuma lagi menyibukkan diri dengan pekerjaan. Dan ternyata terjun langsung untuk bekerja seperti itu sangat mengasikkan dibanding hanya menunggu laporan dari rumah," ujar Renjana beralasan.
"Benarkah?" tanya Bagas Basuwardi tak yakin.
"Iya. Makanya aku jadi jarang di rumah. Oh ya, aku ke atas dulu, Pi. Aku ingin mandi, badanku sudah terasa lengket." Renjana berpamitan ke kamarnya, meninggalkan Bagas Bauwardi yang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sepeninggal Renjana, Elena, Jefry, Jendra dan Reandra langsung mendekat ke arah Bagas. Empat orang itu tadi bersembunyi di balik pilar besar yang ada di ruang tengah. Mereka bersembunyi agar Renjana merasa nyaman menjawab pertanyaan Bagas.
Akhir-akhir ini, Renjana tak lagi terbuka pada mereka. Bahkan dengan Jefry sekalipun, dia seolah menjauh.
"Apa Papi percaya dengan jawaban Princess tadi?" tanya Elena pada sang suami.
Bagas menghembuskan napas berat, "Papi tidak tahu," ujarnya.
__ADS_1
"Apa Princess seperti ini karena rencana pertunangannya dengan Pangeran?" tanya Jendra. Ucapannya itu membuat dirinya mendapat sorotan tajam dari Jefry.
"Jangan sembarangan bicara. Princess tidak mungkin seperti itu. Lagipula, dia kan setuju untuk masa percobaan ini."
Reandra mengangguk, "Benar. Aku setuju dengan Kak Jef. Aku merasa, ada hal lain yang disembunyikan Princess."
"Kau sering mengawasinya lebih dari kami, apa kau tak tahu sesuatu?" pertanyaan Jendra yang ditujukan pada Reandra tersebut membuat pria itu menelan ludahnya kasar. Memang, di antara mereka, dialah yang lebih mengawasi gerakan adiknya.
"Aku benar-benar tidak tahu." Reandra tidak mungkin mengatakan kau Renjana akhir-akhir ini dekat dengan Gumilar. Mereka sudah berjanji akan membebaskan Renjana. Lagipula, ia merasa Gumilar tidak mungkin mempengaruhi adiknya. Ia lumayan mengetahui banyak tentang pria itu.
"Kalau begitu, biar Mami yang bertindak. Besok, Mami akan bertanya langsung pada Princess, dan membujuknya untuk lebih terbuka. Mami benar-benar khawatir ada yang mengganggu pikirannya." Elena mengusulkan diri. Semuanya mengangguk setuju.
Di sisi lain, Renjana tengah membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Pandangannya mengarah pada langit-langit kamar, namun pikirannya melayang ke arah lain.
Obrolannya dengan Gumilar tadi terbayang kembali di ingatannya. Semua ucapan kepasrahan akan takdir hidup yang keluar dari mulut Gumilar membuatnya tersadar, kalau Gumilar merupakan pria religius.
Sejak awal, Renjana sudah merasa kagum pada Gumilar. Dan semakin ke sini, kekaguman itu semakin bertambah ketika mereka mulai dekat. Ada hal yang membuat Renjana merasa takut. Ia takut, jika rasa kagum di hatinya malah berubah ke hal lain.
Renjana menggelengkan kepalanya, berusaha menyadarkan diri. Kenapa juga ia berpikir ke sana. Lagipula, itu hanya sebatas kagum biasa kan? semoga saja iya.
__ADS_1
"Ah, sudah beberapa hari aku tak saling menghubungi dengan Pangeran. Apa kabarnya, ya?" tiba-tiba Renjana malah teringat Pangeran. Ia merindukan sahabatnya itu. Gadis cantik Puteri keluarga Basuwardi itu beranjak mendudukkan diri, dan mengambil ponselnya yang masih tersambung dengan charger karena tadi lowbat.
"Astaga, ternyata sudah jam sepuluh malam. Pangeran pasti sudah tidur," gumamnya.
"Ah, lebih baik aku menghubunginya besok pagi saja." Renjana akhirnya merebahkan dirinya di atas ranjang, memejamkan mata dan perlahan gadis cantik itu mulai memasuki alam mimpi.
"Pak, aku ke sana dulu ya. Mau beli cilok!"
"Baik, Nona. Hati-hati, nyebrang ya. Soalnya jalan padat akan kendaraan."
"Iya, Pak!"
Gadis remaja tanggung itu akhirnya menyeberang jalan, sebelum itu ia memastikan kalau jalan aman untuk ia menyeberang.
"Ah, aman!" gumamnya sebelum melangkahkan kaki keluar dari mobil.
Menunggu beberapa menit untuk ia mendapatkan apa yang inginkan akibat antrian di tempatnya membeli. Setelah selesai membayar, gadis itu berbalik dan bermaksud menyeberang ke mobil tempatnya turun tadi. Seperti di awal, dia memperhatikan sekeliling terlebih dahulu sebelum melangkah. Merasa aman, dia mulai berjalan dengan langkah riang.
Namun naas, sebuah mobil yang sedari tadi berdiam diri sekitar seratus meter darinya, melaju dengan begitu kencang ke arahnya. Semua seolah sudah diatur, mobil tersebut mungkin sejak tadi memperhatikannya dan bergerak setelah dia berada di tengah jalan raya. Sang sopir yang sejak tadi menunggu di samping mobil terkejut. Ia berlari sekencang mungkin saat melihat sebuah mobil yang terarah menuju majikannya. Ia akhirnya berhasil mendorong sang majikan sebelum mobil tersebut menyentuh tubuh majikannya. Sayang, dirinya terlambat bergerak sehingga malah dirinya yang menjadi korban tabrakan.
__ADS_1
Mata Renjana langsung terbuka. Napasnya terengah-engah, juga keringat membanjir di sekujur tubuhnya. Kenapa...dia tiba-tiba bermimpi hal mengerikan tadi? Apa ini ada hubungannya dengan kecelakaannya dulu yang melibatkan Ayah Gumilar?