
Renjana mengatur degub jantungnya, kini gadis itu tengah berada di depan ruangan milik Gumilar yang dulunya adalah ruangan yang ditempati Gerald. Tadi, dia bertanya pada salah satu karyawan apakah Gumilar sudah berada di sana atau belum, dan karyawan itu mengatakan kalau Gumilar baru saja datang dan ada di ruangannya.
Renjana mengetuk pintu berbahan kayu itu, dan mendorongnya saat mendengar jawaban Gumilar dari dalam. Jika dengan Gerald dia akan sembarangan masuk tanpa pusing-pusing mengetuk, dengan Gumilar tentu saja hal seperti itu tak bisa ia lakukan. Mereka tidak akrab, akan sangat awkward jika Renjana berlaku seenaknya meskipun Gumilar adalah bawahannya. Terlebih lagi, saat ia mengetahui kenyataan kalau dia mempunyai dosa besar pada pria itu dan keluarganya di masa lalu. Satu hal yang Renjana pikirkan, apakah pria itu juga tahu?
“Bu Renjana?” panggilan dari Gumilar membuat Renjana tersentak. “ah, maaf kalau aku mengagetkan Ibu. Soalnya, sejak datang Ibu hanya berdiam diri di depan pintu membuat saya bingung.” Gumilar menjelaskan dengan pandangan merasa tak enak. Ia merasa bersalah karena membuat Renjana kaget.
“oh, tidak apa. Aku...hanya lagi banyak pikiran. Seharusnya, aku yang meminta maaf, karena pasti sikapku tadi membuatmu tidak nyaman.”
“Tidak apa, Bu Renjana. Saya tidak masalah, hanya saja saya tadi sempat khawatir. Takut ada apa-apa dengan Bu Renjana.” Renjana kembali tertegun. Gumilar sangat baik dan menghormatinya, apakah pria itu juga tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu sama sepertinya? Lalu, kalau dia tahu, apa dia akan membenci Renjana?
“Duduklah, Bu Renjana!” Gumilar mempersilahkan Renjana untuk duduk. Renjana mengangguk, dan mendudukkan diri di seberang meja tepat berhadapan dengan Gumilar.
“Ada apa? Apa ada yang bisa kubantu?”
Renjana kebingungan. Jujur saja, ia bingung untuk apa tujuannya mendatangi ruangan Gumilar.
__ADS_1
"Ehm...aku hanya ingin bertanya. Apa sebelum pertemuan kita di sekolah waktu itu, kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Renjana.
Gumilar menggeleng tegas, raut wajahnya juga terlihat kebingungan karena pertanyaan Renjana.
"Seingatku, kita sebelumnya tidak pernah bertemu. Memangnya, ada apa Bu Renjana bertanya hal itu?" tanya Gumilar balik.
"Ah, tidak. Kupikir, sebelumnya kita pernah berpapasan. Ternyata aku salah."
Gumilar mengangguk mengerti. "Oh ya, apa kedatangan Bu Renjana hanya ingin menanyakan hal itu?" setelahnya, lakk-laki itu merutuki mulutnya sendiri dalam hati. Bisa-bisanya ia memberikan pertanyaan bodoh seperti tadi pada sang atasan. Mau apa Renjana datang ke ruangan ini tentu saja sesuka gadis itu. Ini Restoran miliknya, jadi dia bisa bebas pergi ke ruangan mana saja sesuai keinginannya.
"Tidak apa-apa. Kau bertanya seperti itu adalah hal wajar. Lagipula, terlihat aneh bukan, jika kedatanganku hanya bertanya hal tak penting seperti tadi?" Renjana tertawa kaku.
"Aku datang ke sini hanya ingin menanyakan, bagaimana menurutmu selama bekerja di sini. Apa kau nyaman? Atau...kau memiliki saran untuk membuat Restoran ini lebih maju, mungkin?" tambahnya. Untung saja, ia bisa mengingat beberapa hal yang memang ingin ia tanyakan pada Gumilar beberapa hari ini, namun selalu ia lupa.
"ah, itu...aku nyaman berada di sini. Untuk saranku, aku memang memikirkan beberapa hal akhir-akhir ini. Entah Bu Renjana akan setuju atau tidak, namun aku ragu mengatakannya pada Bu Renjana. Tapi, karena Bu Renjana bertanya langsung, itu aku anggap sebagai kesempatanku untuk memberi tahu."
__ADS_1
Renjana mengangguk. "Silahkan!"
"Aku melihat tanah di belakang Restoran masih sangat luas, bagaimana kalau tanah itu kita bangun bagian Restoran dengan tema yang menarik para remaja. Seperti ala-ala Cafe modern.
"Restoran bagian depan, kalau diperhatikan, suasananya terlalu kaku karena pengunjungnya juga ditujukan untuk umum. Tapi kalau di bagian belakang kita hias sedemikian rupa, itu pasti akan menarik banyak perhatian pengunjung remaja. Kita gunakan media sosial sebagai bahan promosi, dan ada beberapa orang karyawan Restoran yang kurasa juga media sosialnya banyak pengikut. Dua barista kita kurasa sangat populer, itu bisa kita manfaatkan untuk mempromosikan bagian baru dari Restoran kita nanti."
Renjana mengangguk setuju, akan ide Gumilar. Gerald memang pernah menyarankan hal yang hampir-hampir serupa dengan ide Gumilar, tapi karena sebelumnya mereka sedang fokus pada pembangunan Restoran cabang baru, akhirnya ide itu terlupakan.
"Baiklah, kurasa idemu sangat bagus. Gerald juga pernah mengusulkan hal yang hampir sama, tapi karena ada pembangunan Restoran cabang baru, kami lebih memfokuskan di sana. Syukurlah karena kau mengusulkan ide ini. Halaman belakang memang masih sangat luas, dan masih kosong. Kau silahkan rancang bagaimana ide untuk designnya nanti. Semua kuserahkan untuk kau urus. Tenang saja, aku pasti akan memberimu bonus jika semuanya berjalan lancar."
Gumilar tertawa mendengar ucapan Renjana. Dan tawa itu, untuk pertama kalinya entah kenapa membuat Renjana tidak nyaman. Renjana seperti merasakan kalau...jantungnya berdebar kencang, karena tawa lepas Gumilar.
"Bu Renjana terlalu berlebihan. Jika terlalu lama bekerja dengan Bu Renjana, bisa-bisa aku cepat kaya," canda Gumilar. Renjana tersadar dari lamunannya, dan ikut tertawa juga.
"Sudah tugas seorang bos memakmurkan karyawannya, bukan?" balas Renjana. keduanya kemudian tertawa bersama. Tanpa sadar, kalau suasana antara keduanya perlahan mencair dan menimbulkan kedekatan lain.
__ADS_1