Putri Renjana

Putri Renjana
Sembilan


__ADS_3

"Baby, kau dari mana saja?" Sambutan penuh rasa kesal yang dilontarkan oleh Reksa membuat Renjana tertawa.


"Kau sudah dewasa, Pangeran. Apalagi dengan badan kekarmu, sangat tak cocok dengan rengekanmu yang seperti anak kecil polos."


Reksa mendengus. "Ah, kau keterlaluan sayang. Aku sedang marah, dan kau bukannya membujukku, malah mengejekku."


"Aku tadi merasa lapar, dan memutuskan untuk makan di kantin. Sempat bertemu salah satu kenalanku, dan berbincang sejenak. Maaf, kalau aku membuatmu kebingungan mencari ku." Renjana menjelaskan pada Reksa. Pria itu terlihat menyipitkan matanya saat menyadari ucapan Renjana tadi.


"Kenalan? Siapa?"


"Bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang tak sengaja aku kenal dan berpapasan denganku tadi. Jadi, kami mengobrol sekedar basa-basi saja," jelas Renjana. Ia tidak ingin jujur. Karena kalau dia jujur, sahabatnya itu akan menanyakan lebih. Renjana tidak ingin orang lain mengetahui, kalau dia berniat membantu salah satu guru di CIC. Bukannya apa, dia tidak ingin Gumilar akan semakin canggung ketika banyak yang mengetahui.


"Oh ya, ini kan buburmu. Kau belum makan? Astaga! Bubur ini sudah dingin, Pangeran." Renjana memekik kaget saat mengecek nampan yang terletak di atas nakas dan berisi bubur yang telah dingin.


"Suster sudah dari tadi meletakkannya di situ. Aku menunggumu menyuapiku, tapi kau terlalu lama. Kau tahu sendiri kan, kalau aku masih sulit makan sendiri," ujar Reksa beralasan.

__ADS_1


Mata Renjana menyipit, menatap pria itu penuh selidik. "Kau bahkan sudah bisa duduk bersandar, tapi kau mengatakan tak bisa makan sendiri. Bilang saja kalau kau ingin kusuapi!" cibir Renjana.


Reksa tertawa kecil. "Kau memang sangat mengerti diriku, Love!" ucapnya dan mendapat dengusan malas dari Renjana. Pria ini memang sangat suka mencari perhatiannya.


"Kau mau ke mana? Apa kau marah? Aku kan sudah bilang, kalau..."


"Diamlah Pangeran! Aku akan menemui Suster, dan memintanya mengganti makananmu dengan yang baru. Kau sangat cerewet, padahal dalam keadaan sakit," potong Renjana merasa jengah.


"Ah, begitu. Baiklah!" Reksa akhirnya membiarkan Renjana keluar dari ruangannya.


Beberapa menit kemudian, Renjana masuk ke dalam ruangan dengan seorang suster yang mengikuti langkahnya di belakang. Renjana mengambil alih nampan yang berisi makanan yang baru itu, sedangkan sang suster beralih ke nampan yang ia bawa dua jam yang lalu untuk ia bawa keluar.


"Baiklah, big baby. Sekarang waktunya kita makan!" Renjana duduk di samping ranjang Reksa dan mulai menyuapi pria itu.


"Cukup, Honey!" Reksa menahan tangan Renjana yang tengah menyodorkan sendok ke mulutnya karena merasa mual.

__ADS_1


"Kenapa? Ini baru suapan ke lima, Pangeran. Kau harus banyak makan agar tubuhmu kembali sehat. Oh, atau kau mau sakit terus-terusan, hah?" omel Renjana.


"Bukan begitu, Princess. Aku merasa mual, rasa buburnya terasa buruk di lidahku. Lagipula, aku rela sakit berlama-lama, asal kau yang merawatku setiap saat."


Renjana mendengus malas mendengar ucapan sahabatnya itu. "Kau terlalu banyak alasan, Pangeran Antareksa. Dan apa tadi? Kau tahu sendiri kalau aku tidak akan termakan rayuan gombalmu itu." Namun, gadis itu menuruti ucapan Reksa untuk menghentikan suapannya. Ia kemudian kembali menyimpan mangkuk bubur itu ke nampan yang ada di atas nakas.


"Hahahaha! Baiklah, baiklah! Kau memang gadis yang berhati baja. Tak akan goyah hanya karena sebuah gombalan murahan." 'padahal itu bukan sekedar gombalan,' sambung Reksa dalam hati.


"Diamlah! Sekarang minum. Setelah ini, aku akan menemui dokter untuk menanyakan apakah kau bisa makan selain makanan yang disediakan rumah sakit." Renjana menyodorkan gelas ke depan mulut Reksa yang tengah berkicau, seraya membantu pria itu untuk minum. Setelahnya, ia membantu Reksa meminum obat yang tersedia bersama mangkuk bubur tadi.


"Oh ya, aku melupakan sesuatu. Astaga! Bisa-bisanya aku lupa mengabari Tante Selvi dan Om Fathan." Renjana reflek menepuk jidatnya.


"Tak apa. Aku tadi sudah mengabari Mami. Mereka lagi dalam perjalanan ke sini. Aku juga sudah mengatakan untuk tidak terburu-buru, karena ada kau yang menjagaku di sini."


Renjana langsung menghembuskan napas lega mendengar ucapan Reksa. "Aku yakin, Tante Selvi akan mengomelimu nanti."

__ADS_1


Reksa tertawa. "Kau benar. Jadi, aku sudah memikirkan cara agar kemarahan Mami bisa surut."


__ADS_2