Putri Renjana

Putri Renjana
Dua Puluh Enam


__ADS_3

Renjana baru saja datang ke Restoran pukul dua siang. Ia tadi habis mengunjungi Bu Arumi dan memasak bersama wanita paruh baya itu. Kedatangan Renjana, bertepatan dengan datangnya Gumilar yang baru saja pulang dari Sekolah.


"Gumilar, tunggu!" Renjana meneriaki Gumilar saat pria itu berpamitan akan menuju ruangannya.


"kau belum makan siang, kan? kebetulan, aku tadi habis mengunjungi ibumu, dan kami memasak bersama. Aku belum makan di sana karena perutku tadi masih merasa kenyang. Akhirnya, Bu Arumi menyarankanku untuk membungkusnya."


Gumilar menautkan alis, masih belum mengerti. "Makanan ini kurasa terlalu banyak, jadi bisa kita bagi. Ayo, kita makan di ruanganku saja!" tanpa menunggu balasan Gumilar, Renjana malah sudah melangkah ke ruangannya.


Gumilar mau tak mau akhirnya mengikuti langkah Renjana. Perutnya memang merasa lapar.

__ADS_1


Saat sampai di depan pintu, Gumilar merasa ragu. Ia merasa tak enak jika harus masuk ke ruangan Renjana yang notabenenya adalah atasannya.


"Gumilar, masuklah! Aku sudah menyiapkan makanan untuk kita santap." Renjana kembali muncul di depan pintu, dan mempersilahkan Gumilar untuk masuk. Gumilar mengangguk. Ia memasuki ruangan Renjana dengan canggung, pintu juga dibiarkan terbuka agar tidak menimbulkan kecurigaan orang lain jika mengetahui mereka berada dalam ruangan yang sama. Lagipula, dua manusia itu mengerti, tak baik dua orang berlawanan jenis berlama-lama dalam ruangan tertutup.


Renjana membuka rantang berisi makanan yang tadi dimasaknya bersama Bu Arumi. Aroma harum masakan langsung menguar, membuat keduanya tak sabar ingin menyantap hidangan nikmat tersebut.


"Kau tahu, aku dan Ibumu tadi memasak udang saus asam manis dan sayur bening. Ini juga ada bakwan jagung. Astaga, Bu Arumi tadi begitu sabar mengajariku memasak." Renjana bercerita dengan raut ceria, membuat Gumilar perlahan akhirnya mulai merilekskan tubuh.


"Hmm. Aku yakin, jika kau memiliki istri nanti, dia pasti akan sangat beruntung karena memiliki mertua sebaik dan sesabar Bu Arumi. Walaupun dia tidak tahu masak, Bu Arumi pasti dengan sabar akan mengajarinya. Iya, kan?" goda Renjana dan disambut tawa oleh Gumilar.

__ADS_1


"Hahaha, bahkan aku belum berpikir ke arah sana. Tapi Bu Renjana benar, calon istriku nanti akan sangat beruntung."


Renjana mulai menuangkan nasi dan juga laik ke dalam piring. Tak lupa, ia juga menyiapkan untuk Gumilar.


"Terima kasih. Aku merasa tak enak, karena Bu Renjana malah menyiapkan makanan di piringku," ujar Gumilar merasa tak enak.


"Tak apa. Aku terlalu senang karena mempelajari sesuatu dari Bu Arumi hari ini, dan berhasil membuat makanan ini meski dengan bantuannya tentu saja. Karena kau anaknya, kau akan kecipratan rasa terima kasih itu," ujar Renjana sembari tertawa.


"Ngomong-ngomong, kita bicara sudah sesantai ini. Bisakah kau menghilangkan embel-embel 'Ibu' di depan namaku? Aku merasa terlalu tua jika kau memanggilku dengan sebutan itu," pinta Renjana.

__ADS_1


"Baiklah. Karena Bu...maksudku kau sendiri yang meminta, maka akan aku lakukan. Kau sudah terlalu sering meminta hal ini, tapi aku merasa tak enak. Maaf jika panggilanku membuatmu tak nyaman." Renjana mengangguk senang karena respon Gumilar.


"Bagus, aku sudah mengatakan bukan kalau aku tidak ingin suasana kerja kita kaku? Kau lihat saja bagaimana aku dan Gerald saat berbicara. Jadi, kau bisa lebih banyak belajar padanya," ujar Renjana bercanda. keduanya kemudian kembali fokus menikmati makanan.


__ADS_2