
Renjana melangkah riang menuju ruangan Gumilar. Ia tadi baru saja selesai menghubungi Bu Arumi. Wanita itu ternyata menitipkan makanan untuknya melalui sang anak. Renjana senang bukan main. Pasalnya, ia tadi pagi berangkat buru-buru dan lupa sarapan.
“Renjana?” Gumilar terkejut saat Renjana membuka pintu ruangan, tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ini sudah terjadi beberapa hari setelah mereka akrab, Renjana tak lagi merasa canggung pada pria itu. Baginya, Gumilar sudah seperti Gerald.
“Mana makananku? Kata Bu Arumi, dia menitipkan makanan untukku melalui kau?” gadis itu menengadahkan tangan kanannya, seolah meminta uang pada Gumilar, membuat Gumilar terkekeh.
“Kau pemilik Restoran terkenal, tapi kau sangat suka makanan buatan ibu dari karyawanmu,” ujar Gumilar merasa geli.
Renjana mendengus, “kau tahu, masakan ibumu bahkan terasa lebih enak dibandingkan Chef Restoran ini.
“Kalau Chef Ameer tahu, dia pasti akan merasa sakit hati,” canda Gumilar.
“Dia tak akan tahu, kecuali kau yang melaporkan ucapanku tadi padanya. Lagipula, Chef Ameer tidak akan sanggup marah padaku,” ujar Renjana. Yang Renjana katakan benar. Chef itu tidak akan bisa marah padanya. Karena Renjana tahu apa kelemahan Ameer, cowok tampan. Ah, satu lagi, jangan dikira Chef Ameer itu pria. Dia adalah wanita. Nama sebenarnya adalah Ameera Ruqayya, tapi karena terlalu panjang, Gerald yang dulu mewawancarainya malah seenaknya menyingkat jadi Ameer. Sudahlah, Gerald memang pria menyebalkan yang suka seenaknya. Bahkan, di awal Ameer dan Gerald sering bercekcok karena panggilan itu. Renjana bahkan sempat berpikir, kalau Gerald dan Ameer akan berakhir pacaran.
“Ayo, mana makananku. Perutku sudah lapar, dan langsung meraung minta diisi saat Bu Arumi mengatakan kalau dia menitipkan makanan untukku.”
__ADS_1
Gumilar mendengus, kemudian menyerahkan rantang berisi makanan yang dikirimkan Ibunya. Bu Arumi memang sering menitipkan makanan untuk Renjana saat gadis itu tidak mengunjunginya. Dan akan menitipkan makanan untuk Gumilar, saat Renjana datang memasak dengannya. Karena itu juga Renjana dan Gumilar semakin akrab.
“Hmmm, wanginya!” Renjana langsung memuji ketika bau masakan menguar saat ia membuka tutup rantang. Sementara Gumilar, hanya mampu menggelengkan kepala melihat tingkah bos cerewetnya itu.
“Cumi saus asam manis, wow!” Mata Renjana berbinar, hal yang sering terjadi ketika ia mengagumi sesuatu.
“makanlah, Renjana. Kau terlalu basa-basi hanya untuk sekedar makan.” Renjana mendengus pelan, “itu namanya menghargai makanan, Gumilar. Ckk!”
Renjana mulai memakan makanannya, bahkan ia tak mau repot-repot menawarkan Gumilar.
“Hmm. Aku berencana akan memasak kue bareng Bu Arumi,” jawab Renjana sembari mengunyah makanan.
“Memangnya kau mau membuat kue apa? Ibu tadi suruh nanya, biar bahannya pas pulang kerja nanti akan kubeli.”
Renjana berpikir sejenak. “Nggak tahu juga, sih, mau buat kue apa. Tapi, kayanya aku mau kue yang sederhana saja. Nantilah, kupikirkan lagi.”
__ADS_1
“Kue Putu enak. Apa kau pernah memakannya?” tanya Gumilar.
Renjana mendongak, ia mengalihkan tatapan dari makanan ke wajah Gumilar. “kue putu? Tunggu...itu yang bentuknya seperti apa?” Ia kemudian mengangkat sebelah tangannya saat Gumilar menatapnya penuh keterkejutan. Kue enak seperti itu, Renjana tidak tahu? Ah, Gumilar lupa, kalau Renjana berasal dari keluarga Sultan.
“Maksudku, aku pernah makan beberapa kue sederhana. Tapi, aku tidak terlalu tahu namanya,” ralat Renjana.
Gumilar mengangguk mengerti. Ia kemudian mengambil ponselnya, dan membuka internet serta mengetikkan kalimat ‘gambar kue putu’ di sana. Setelahnya, muncul bermacam-macam gambar di laman tersebut, dan ia segera menunjukkannya pada Renjana.
“Oh, aku ingat. Aku pernah makan ini saat Bi Susi masih kerja di rumah. Rasanya enak. Ini, yang pakai kelapa parut itu kan?” ujarnya antusias.
Gumilar mengangguk. “Iya.”
“Sayangnya, Bi Susi sudah pulang kampung. Aku juga tidak tahu nama kuenya, jadi bingung kalau ingin menyuruh ART di rumah membuatnya.” Gumilar terkekeh geli, karena ekspresi cemberut juga kalimat lucu yang diucapkan Renjana.
“Ya sudah. Besok, aku ingin membuat kue ini saja dengan Bu Arumi. Oh ya, nanti kalau kau akan pulang, panggil aku ya. Kita pulang sama-sama saja, biar kutemani kau saat belanja nanti.”
__ADS_1