Putri Renjana

Putri Renjana
Tiga Puluh


__ADS_3

"Pak Udin, begitu kita sering memanggilnya. Dia pria baik, dan bekerja sudah bertahun-tahun dengan keluarga kita. Kau sering bertemu dengan istrinya, karena istrinya selalu mengantarkan bekal pada Pak Udin, meskipun kita sudah menyiapkan makanan untuk para pekerja. Istrinya dulu juga sering membawakanmu kue yang dibuatnya." Bagas Basuwardi mulai bercerita.


"Kau juga sangat dekat dengannya, karena dia lah yang sering mengantarmu ke Sekolah. Sejak dulu, kau tak pernah mau diantar semobil dengan Kakak-kakakmu, kau ingat, kan?" Renjana mengangguk. Saat akan berangkat atau pulang, dia memang tidak ingin semobil dengan kakaknya ataupun Reksa.


"Waktu itu, Papi mendapat tawaran kerja sama dari salah satu perusahaan besar. Tapi Papi menolaknya, karena merasa kerja sama itu merugikan perusahaan kita. Papi pikir, orang itu tak menyimpan dendam. Ternyata Papi salah. Diam-diam, dia menyelidiki keluarga kita, dan kau tahu...dia mengincarmu."


"kenapa aku?" tanya Renjana.


"karena kau satu-satunya putri keluarga Basuwardi. Kau tahu, Princess, jika kami kehilanganmu, entah bagaimana kehidupan kami. Itu sebabnya dia mengincarmu."


Renjana mengangguk mengerti. "lalu?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Papi yakin kau mengingat kalau dulu, kalian bepergian tanpa diikuti oleh orang-orang Papi karena kalian merasa risih. Itu sebabnya, Papi hanya menyuruh orang-orang Papi mengawasi dari jauh saja. Tapi, ternyata Papi kecolongan."


"Diam-diam, suruhan saingan bisnis Papi itu mengikutimu, dan seperti yang kau ketahui. Dia merencanakan untuk membunuhmu, dengan membuat seolah-olah itu hanya kecelakaan mobil biasa. Tapi, ternyata Pak Udin dengan baik hatinya menyelamatkanmu."


"Pak Udin sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi ternyata dia tidak bisa tertolong. Dia kemudian menitipkan anak dan istrinya pada Papi, dan Papi menyanggupinya."


"Sementara keadaanmu syok berat. Kau sering mengalami mimpi buruk, karena kecelakaan itu terjadi di depan matamu langsung. Kami berusaha untuk mengobati dengan membawamu ke psikiater, tapi tetap saja ingatan buruk itu malah membuat kondisimu semakin kacau."


Renjana terdiam, mencerna penjelasan sang ayah. "Jadi...ingatanku memang sengaja dihapus?"


Bagas Basuwardi mengangguk. "Benar. Karena terapi biasa tak bisa membuatmu berdamai dengan kenangan buruk itu."

__ADS_1


Renjana kembali terdiam. Dia tidak bisa menyalahkan keluarganya, karena ini juga bukan salah mereka.


"Baiklah. Aku mengerti," ujarnya pelan.


"Princess, setelah penjelasan ini, jangan lagi menyalahkan dirimu sendiri. Papi takut akan kondisimu jika kau terus-terusan memikirkan kecelakaan itu. Ingatan burukmu pasti akan terbuka paksa, dan itu akan berbahaya. Asal kau tahu, kau sempat koma selama tiga hari, setelah sesi terapi. Dan saat bangun, kau sudah melupakan kejadian itu."


"Apa?" Renjana terkejut. "Maksud Papi, aku koma bagaimana? Kenapa bisa?" tanya Renjana kepo.


"Kondisimu waktu itu mengkhawatirkan. Kau bahkan tidak ingin makan ataupun minum. Tubuhmu juga menjadi lemah, padahal kamu sedang menjalani terapi. Papi ingat saat itu, Mamimu berteriak histeris karena mendapati dirimu pingsan dan tergeletak lemah di lantai kamar. Saat dibawa ke Rumah Sakit, mereka menyatakan kalau dirimu koma. Tiga hari lamanya kekhawatiran menyelimuti kamu, dan ternyata Tuhan begitu baik di hari ketiga, kau membuka mata. Kejadian itu tak lagi membayangiku, dan psikiater yang menanganinya mengatakan, terapi untuk mempengaruhi alam bawah sadarnya kalau kecelakaan itu tidak pernah terjadi, yang kita lakukan sebelum kau jatuh pingsan ternyata berhasil."


"Jadi, Papi mohon. Jangan buat suasana mencekam itu kembali kami rasakan. Princess, kau adalah berlian keluarga Basuwardi. Bahkan, kau lebih berharga dari pada banyaknya harta keluarga kita." Renjana tertunduk. Dia merasa bersalah, karena sempat berpikiran buruk pada keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2