Putri Renjana

Putri Renjana
Tiga Puluh Empat


__ADS_3

Seperti rencana kemarin, Renjana kini akan menuju rumah Bu Arumi untuk membuat kue bersama.


“Kau akan ke Restoran?” tanya Elena pada sang Putri. Wanita paruh baya itu tengah membaca majalah fashion di ruang tengah.


“Iya. Tapi, sebelum itu, aku ingin mengunjungi Bu Arumi,” jawab Renjana jujur.


“Untuk apa? Kau ada keperluan dengannya?”


Renjana mengangguk. “Sejak bertemu Bu Arumi, aku tahu beberapa hal tentangnya. Salah satunya adalah, dia memiliki usaha berjualan kue sebelum dia sakit. Iseng-iseng, aku memintanya mengajariku, dan ternyata dia bersedia. Mami tahu, aku bahkan sudah menguasai beberapa resep kue dan juga masakan.” Ia bercerita dengan antusias. Elena tertegun sejenak, wanita itu baru sadar kalau selama ini puterinya seolah terkurung di sangkar emas. Kalaupun keluar, pasti akan didampingi salah satu kakaknya, atau bersama dengannya, suaminya, atau dengan Reksa. Kalau semuanya tidak memiliki kesempatan, ya pasti disuruh dampingi bodiguard.


“Mami jadi iri, kau pasti melupakan Mami saat bersama Bu Arumi.” Elena berpura-pura merajuk.


Renjana mendekat pada sang Mami, dan memeluk wanita itu. “siapa bilang? Sampai kapanpun, aku tentu saja tidak akan melupakan wanita terspesial di hidupku. Jangan bicara begitu lagi, ya, Mamiku tercinta.”


Elena tertawa kecil, serta mengelus lengan Renjana yang melingkari tubuhnya. “Mami hanya bercanda. Lagipula, wajahmu terlihat sangat bahagia belajar memasak dengannya. Mami akan dukung apapun yang ingin kau lakukan Princess. Selagi itu hak baik, Mami akan turut senang.”

__ADS_1


“Terima kasih, bidadarinya Renjana. Kalau begitu, aku pamit pergi dulu, Mami.” Renjana melayangkan kecupan di pipi sang Mami. Ya, begitulah mereka. Kadang bertengkar, kadang sangat lengket ketika damai.


“Hati-hati, Princess,” pesan Elena, dan dibalas dengan lambaian tangan serta anggukan dari Renjana.


Mobil Renjana kini tengah memasuki halaman rumah Bu Arumi. Rumah dengan bentuk sederhana namun terlihat sangat asri itu terlihat sepi, pintu juga tertutup rapat.


“Apa Bu Arumi tidak ada di sini?” gumam Renjana pelan. Dia turun dari mobilnya, dan duduk di kursi yang ada di teras rumah. “Biar kutunggu beberapa menit saja. Siapa tahu, dia sedang keluar rumah dan tak lama akan kembali.” Sebenarnya, dia bisa menelpon wanita itu. Namun, takutnya malah mengganggu jika Bu Arumi sedang melakukan hal penting.


Lima belas menit berlalu, akhirnya wanita paruh baya itu datang dengan diantar oleh gojek.


Renjana tersenyum maklum. “Tidak apa, Bu. Renjana juga baru datang.”


“Ya sudah, ayo masuk, Nak!” Bu Arumi membuka kunci rumah, dan mempersilahkan Renjana untuk masuk ke dalam.


“Ibu sudah tidak memiliki keperluan lain? Kalau masih, lebih baik kita tunda dulu Bu. Biar masak kuenya besok saja.” Renjana merasa tak enak.

__ADS_1


“Oh, sudah tidak kok. Tadi Ibu hanya dari kios langganan Ibu, mengantarkan kue untuk di titip di sana.” Bu Arumi menjelaskan, membuat Renjana bernapas lega. Syukurlah dia tidak mengganggu waktu wanita paruh baya itu.


“Oh ya, kata Gumi, kau ingin belajar membuat kue putu, ya?” tanya Bu Arumi. Keduanya kini sudah berada di dapur.


“Iya, Bu. Dulu pernah mencicipi saat salah satu ART aku membuatnya. Tapi, baru beberapa hari kemudian ART itu sudah pamit pulang, karena umurnya yang sudah tua. Katanya ingin menghabiskan masa tua di kampung halaman. Jadinya, sampai sekarang nggak pernah makan lagi,” cerita Renjana.


“Oh ya? Lalu, kenapa tidak beli saja atau minta tolong yang lain untuk membuatkan?”


“Itu dia masalahnya, Bu. Aku tidak sempat menanyakan nama kuenya. Nanti kemarin, pas Gumilar tanya apa aku minta membuat kue putu dan dia memperlihatkan gambar kuenya, baru aku tahu.”


Bu Arumi tertawa mendengar cerita Renjana. “Ya sudah, kalau begitu ayo mulai kita buat.” Keduanya kemudian mulai sibuk mempersiapkan bahan untuk dieksekusi.


“Oh ya, setelah ini Nak Renjana akan pulang atau ke Restoran?” tanya Bu Arumi. Renjana yang tengah menikmati kue putu yang baru saja selesai mereka masak akhirnya menghentikan kegiatannya. “Akan ke Restoran dulu, Bu,” jawabnya.


“Ibu ingin menitipkan bekal makan siang untuk Gumi. Juga beberapa potong kue, nantinya. Bisa kan?” Renjana mengangguk seraya tersenyum. “seperti biasa. Titipan akan mendarat dengan selamat dan akan dinikmati dengan lahap oleh Gumilar,” ujarnya bercanda. Bu Arumi ikut tertawa. Bersama Renjana, ia jadi merasa memiliki anak perempuan. Kedatangan gadis itu ke tempat ini, sering membuat rasa kesepiannya langsung hilang begitu saja. Terlebih pembawaan Renjana yang lucu, sehingga mampu menghiburnya. Andai saja Renjana berasal dari keluarga biasa saja seperti mereka, dia pasti sudah meminangkan gadis di hadapannya itu untuk sang anak. Sayangnya, Bu Arumi sadar, benteng kokoh yang bernama kasta begitu tinggi membentang di antara mereka. Dia sadar diri, mana mungkin dia tega meminang seorang Puteri untuk hidup bersama mereka di tempat seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2