Putri Renjana

Putri Renjana
Tujuh


__ADS_3

Renjana menatap wajah Reksa yang tengah tertidur. Wajah pria itu terlihat tampan dan teduh. Berbeda ketika bangun, pria itu selalu terlihat ceria dan terkadang menyebalkan.


Memastikan Reksa sudah tertidur nyenyak, Renjana bangkit dari tempat duduknya. Gadis itu merasakan perutnya yang keroncongan meminta untuk diisi.


"Tidurlah yang nyenyak, Pangeran! Aku akan kembali setelah perutku sudah terisi, okey! Jangan bangun sebelum aku datang." Renjana tertawa kecil, menertawakan dirinya yang tengah berbicara sendirian. Setelah itu ia mengambil tasnya, dan keluar dari ruangan menuju kantin rumah sakit.


Renjana mengedarkan pandangannya, memilih tempat yang menurutnya bagus untuk menikmati makanan. Matanya kemudian tertuju ke arah pojok Kantin, ia tersenyum kecil dan segera melangkah ke sana.


Tiga meter lagi jarak Renjana dan tempat yang ia tuju, seorang pria datang dan mendudukkan diri di sana. Renjana menghembuskan napas kecewa. Ia akan berbalik mencari tempat lain, namun ia urungkan karena merasa familiar dengan pria yang duduk di sana.


"Permisi. Apa aku bisa duduk di sini?" tanya Renjana basa-basi. Pria itu mendongak, keterkejutan nampak jelas di raut wajahnya saat bersitatap  dengan  Renjana.


"Ah, si...silahkan," jawabnya terbata.


"Terima kasih."


Pria itu hanya mengangguk dan tersenyum kecil sebagai jawaban. Renjana melirik pria itu dalam diam. Meski tersenyum, namun wajah itu terlihat sendu, Renjana akhirnya merasa tergelitik untuk bertanya.

__ADS_1


"Kau salah satu guru di CIC, kan?" tanya Renjana basa-basi.


"Iya, Bu Renjana."


"Kalau aku boleh tahu, kau sedang apa di sini? Apa kau baru selesai memeriksakan kesehatan? Atau ada keluargamu yang sakit?" Renjana seketika mengutuk dirinya sendiri yang terlihat terlalu ingin  tahu urusan orang lain.


Pria itu mengernyitkan alisnya, sedetik kemudian tertawa kecil. Ia merasa lucu dengan tingkah Renjana, yang ternyata sangat cerewet.


"Keluargaku ada yang sedang dirawat di sini," ucapnya cepat ketika melihat wajah Renjana yang memerah. Mungkin gadis itu malu akan tingkahnya sendiri. Selain cerewet, anak pemilik yayasan tempatnya bekerja itu ternyata juga gampang merasa malu.


"Oh, begitu. Sakit apa?" Lagi, untuk kedua kalinya Renjana mengutuk mulutnya yang seenaknya bicara.


"Maaf. Aku, terlalu banyak bertanya, ya?"


Pria di depannya itu terkekeh. "Tidak apa-apa, Bu Renjana. Lagipula, semua pertanyaan Ibu adalah pertanyaan normal."


"Baiklah. Kalau seperti itu, apa aku boleh bertanya lagi? Aku bosan tak ada teman mengobrol. Orang yang aku jenguk tengah tidur," curhat gadis itu.

__ADS_1


"Silahkan. Ibu bebas menanyakan apapun."


Renjana tersenyum senang. "Keluargamu yang sakit itu, siapa? Maksud ku siapamu yang tengah sakit?"


Pria itu lagi-lagi tersenyum saat menjawab pertanyaan Renjana. Renjana sampai bingung, sekuat apa pria di hadapannya ini. Bisa-bisanya ia selalu menampakkan senyuman, padahal dari penampilannya saja terlihat sedang tidak baik-baik saja?


"Ibuku. Ibuku yang sedang dirawat di sini."


"Ah, begitu. Sudah berapa hari?" Dia bebas bertanya apapun kan?


"Baru masuk tadi. Padahal, baru tiga hari yang lalu dia ke sini untuk cuci darah."


Renjana meringis pelan, merasa bersalah karena melihat wajah sedih pria itu.


"Kenapa tidak mencari pendonor?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Renjana.


Pria yang berstatus sebagai guru di CIC itu tersenyum miris. "Cari pendonor itu susah, Bu. Dan biayanya juga tidak sedikit. Bahkan, aku pernah meminta pada dokter biar ginjalku saja yang didonorkan pada Ibu. Tapi setelah melalui beberapa tahap pemeriksaan, ginjalku dan Ibu tidak cocok."

__ADS_1


Renjana mengangguk mengerti. "Apa aku boleh menjenguk Ibumu nanti?"


Pria itu tersentak kaget. Seorang putri keluarga Basuwardi, yang bahkan gajinya pun berasal dari kekayaan keluarga itu, meminta izin menjenguk ibunya? Mimpi apa dia semalam?


__ADS_2