Putri Renjana

Putri Renjana
Dua Belas


__ADS_3

"Kakak!" teriak Renjana saat sampai di rumahnya, dan menemukan Jefry--kakak tertuanya--sedang duduk di sofa ruang keluarga.


Gadis itu langsung melompat ke samping kakaknya, dan memeluk pria berumur 28 tahun itu. "Aku sangat merindukanmu. Akhir-akhir ini kau sangat sibuk. Bahkan saat Papi menjanjikan kalau kau akan datang makan malam dengan kami tempo hari, kau tetap tidak datang," keluhnya.


Jefry terkekeh pelan. "Ada pekerjaan yang memang harus ku selesaikan bulan ini, Princess. Maaf, kalau membuatmu sedih. Kakak juga sangat merindukanmu." Pria itu mengelus rambut adiknya dengan lembut.


"Oh ya, Papi dan Mami, mereka belum pulang dari Kota S?" Renjana mendongak, bertanya pada sulung Basuwardi itu.


"Belum. Mereka akan pulang dengan penerbangan besok pagi."


"Hei Princess! Jadi, kau hanya ingin memeluk Kak Jefry saja? Mentang-mentang kita setiap hari bertemu, kau tak mau memelukku lagi?" Suara bariton seseorang yang baru saja masuk ke ruang keluarga itu membuat Renjana dan Jefry menoleh. Terlihat, Reandra yang tengah berjalan mendekat, dan diikuti Jendra di belakangnya.


"Ah, aku memang merindukanmu. Tapi, aku jelas lebih merindukan Kakak sulungku. Jadi, jangan ganggu waktuku dengan Kak Jefry, oke?" balas Renjana yang tentu saja hanya bercanda.

__ADS_1


"Kau benar-benar tega menyakitiku, Princess."


"Jadi, malam ini kita hanya makan malam berempat saja?" Jendra yang sedari tadi diam kini bersuara. Pria itu mendudukkan dirinya di sofa yang berhadapan dengan tempat duduk Jefry dan Renjana.


"Hmm. Sepertinya, Bi Siti sudah menyiapkan makan malam."


"Ayo langsung ke sana. Kita lanjut mengobrol di meja makan saja." ajak Reandra. Sebelum beranjak, ia menyempatkan menyentil jidat Renjana yang tengah memeluk lengan Kakaknya, membuat gadis itu meringis.


"Reandra, kau benar-benar jahil!" tegur Jendra. Sementara Jefry, malah memelototi adik ke tiganya itu.


Langkah Reandra terhenti. Ia berbalik, dan menatap ngeri ke arah Renjana.


"Princess, dengar. Apapun akan kulakukan untukmu, asal kau mau mencabut sumpahmu yang tadi. Apa tidak ada gadis lain selain Rania?"

__ADS_1


Jefry dan Jendra sudah terbahak di tempat saat melihat wajah yang ditampilkan Reandra. Sementara Renjana, hanya menatap datar ke arahnya.


"Aku tidak memerlukan apapun, tuh!" balasnya acuh.


"Ah, jangan berkata seperti itu Princess. Kau mau apa? Tas keluaran terbaru? Aku lihat, kau belum memiliki tas merk kesukaanmu itu yang edisi bulan ini. Iya, kan? Atau kau mau apa? Emm...tiket liburan? Kau pasti lagi butuh liburan kan?" Reandra berusaha membujuk, namun Renjana tetap tak acuh.


"Dasar bodoh! Kau lupa kalau Reksa sudah membelikannya tas itu? Pesanannya bahkan baru datang kemarin," ujar Jendra masih menertawakan raut wajah konyol adiknya itu.


"Baiklah. Akan kucabut sumpahku tadi. Tapi, untuk permintaanku biar kupikirkan."


"Ah, terima kasih Princess. Kau memang layak disebut peri di keluarga Basuwardi ini."


Renjana mendengus, "aku rasa kau memang berjodoh dengan Rania. Buktinya, kau memiliki kemiripan dengan dokter Revi, alias calon mertuamu itu. Dia juga sering menyebutku peri."

__ADS_1


Reandra kembali menampilkan raut wajah konyolnya. "Jangan aneh-aneh Princess. Lebih baik kau mendoakanku berjodoh dengan seratus gadis, dibanding dengan Rania."


Jefry menggelengkan kepalanya pelan. "Itu sih maumu! Dasar buaya darat!" 


__ADS_2