
"Pagi, Pak Gumi!"
"Pagi!"
"Pagi, Pak!"
"Pagi!"
Seorang pria melangkah santai menuju ruangannya, sambil sesekali menjawab sapaan yang diberikan oleh beberapa siswa dan guru yang berpapasan dengannya.
Sudah lebih dua tahun ia bekerja di sini. Tempatnya begitu nyaman, penghuninya pun rata-rata bersikap ramah. Terlebih, gajinya bisa menutupi kebutuhannya selama sebulan penuh dan juga bisa menambah angka di rekening tabungannya. Sekolah milik keluarga Basuwardi itu memang terkenal dengan sekolah bergengsi. Banyak orang tua yang menginginkan anaknya masuk di sana. Juga, banyak lulusan yang ingin menjadi tenaga pendidik di sini. Tapi, untuk masuk ke tempat ini seleksinya begitu ketat. Dia bahkan bisa berada di sini karena rekomendasi dosennya saat di kampus dulu. Gumilar memang menyelesaikan pendidikannya hanya tiga tahun setengah bulan. Dia mendapat penghargaan sebagai wisudawan tercepat, juga lulus dengan gelar cumlaude.
__ADS_1
Mengajar di sini, selain menyenangkan, Gumilar juga bisa menyisihkan uangnya sebagai tabungan. Dia hanya berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya sudah lama meninggal, dan Ibunya sudah sakit-sakitan. Dari gajinya juga, akhirnya Gumilar bisa membayar biaya berobat untuk sang Ibu. Gumilar tak memiliki saudara, itu sebabnya dia bertanggung jawab penuh terhadap keluarganya. Untuk kuliahnya dulu saja, ia hanya mengharapkan beasiswa. Untung saja ia dianugerahi otak yang pintar.
"Hai, suami masa depannya Inces Keisya!" Sapaan centil itu membuat Gumilar tersenyum geli. Pria itu menghentikan langkah. Ia menggeleng pelan melihat remaja yang berdiri di depannya dengan tangan yang terdapat kipas berwarna hitam. Di belakang gadis remaja itu, terdapat dua temannya yang selalu setia mengikutinya ke manapun.
"Pagi juga Keisya! Tapi untuk yang ke sekian kalinya kukatakan, kau masih terlalu kecil untuk jadi istriku," balas Gumilar.
"Ah, Pak Gumi menyakiti hatiku." Keisya meringis lebay, sedetik kemudian wajahnya kembali normal. "Eh, Pak. Hari ini ada kunjungan pemilik Yayasan, kan?"
"Oh. Lalu? Bukannya sama saja?" tanya Gumilar bingung.
"Ah, memang sih. Tapi, aku hanya mengingatkan saja. Kak Renjana itu sangat cantik dan menawan. Hati-hati, nanti Bapak terjerat dalam pesonanya!"
__ADS_1
Ucapan Keisya disambut tawa oleh Gumilar. "Jadi, hanya karena itu. Kau takut kalau aku naksir padanya?"
Keisya menggeleng. "Tidak juga. Bisa dikatakan untuk ukuran pasangan, aku rasa kalian terlihat serasi. Aku hanya tidak ingin Bapak jatuh cinta padanya dan malah bertepuk sebelah tangan. Soalnya Kak Renjana itu terlalu cuek untuk ukuran seorang gadis cantik. Ckk! Bahkan di usia 23 tahun dia belum memiliki satupun mantan kekasih." Keisya yang tak habis pikir, malah tak sadar sedang menggosipkan sepupunya.
Gumilar kembali tertawa. "Terima kasih karena sudah mengingatkanku. Baiklah, aku rasa setelah ini akan memasang tembok di hati agar tidak jatuh cinta pada sepupumu," ujarnya dengan perasaan geli. Lagipula, siapa yang berani naksir tuan putri keluarga Basuwardi itu. Gumilar sadar diri dia siapa. Terlebih, gajinya selama ini berasal dari keluarga itu. Mana berani dia berangan tinggi. Begini saja sudah cukup.
"Bagus. Tapi tenang saja, karena kebetulan aku sedang mencari kandidat untuk sepupuku itu, aku akan memasukkan nama Bapak juga. Kalau dia sudah membuka diri, baru Bapak kukabari." Gumilar kembali tertawa mendengar ucapan ngawur muridnya itu.
"Kau ini sangat lucu! Lagipula, kenapa harus aku?"
"Ah, karena Bapak sama sekali tidak goyah meskipun setiap hari kugoda. Jadi, aku yakin kalau Bapak adalah pria baik. Sangat cocok dengan Kak Renjana yang baik!" Gumilar hanya kembali menanggapi ucapan polos Keisya dengan tawa.
__ADS_1