Putri Renjana

Putri Renjana
Dua Puluh


__ADS_3

Renjana memperhatikan dengan seksama rumah yang ada di depannya. Rumah berukuran kecil yang sederhana, namun terlihat sangat asri karena di depannya terdapat banyak tanaman bunga. Sekali lagi Renjana memastikan dengan cara melihat kertas di tangannya, apa rumah ini benar-benar yang ia cari atau tidak.


Setelah yakin, gadis itu turun dari mobil miliknya. Mengetuk pintu rumah yang tertutup itu beberapa kali, dan terdengar jawaban dari dalam sana.


"Loh, Nak Renjana?" Bu Arumi terkejut melihat siapa yang berdiri di balik pintu. Wanita paruh baya itu membulatkan matanya tak percaya, karena tuan putri keluarga Basuwardi itu bisa berada di depan pintu rumahnya.


"Iya, Bu. Ini aku, Renjana." Bu Arumi dengan cepat mempersilahkan Renjana memasuki rumah.


"Duduk di sini dulu, Nak. Maaf, kalau kursinya mungkin membuatmu tak nyaman." Bu Arumi meringis pelan, ketika mempersilahkan Renjana duduk. Wanita itu merasa tak enak, karena kursinya hanya yang terbuat dari plastik. Bukan sofa empuk seperti yang biasa duduki.


"Astaga, Bu. Tak mengapa. Aku juga di rumah memiliki kursi seperti ini di kamarku." Renjana tahu pikiran wanita itu. Hal seperti ini sebenarnya tidak ia sukai. Karena berasal dari keluarga Basuwardi yang kaya raya, orang-orang pun memperlakukannya dengan hati-hati. Padahal, Renjana juga seperti mereka. Bukan berarti dia yang terbiasa hidup mewah, ingin diperlakukan dengan mewah juga ketika berkunjung ke tempat orang lain. Renjana bukanlah orang seperti itu.


"Ibu ambilkan minum dulu, ya. Teh hangat, tidak apa-apa kan?"

__ADS_1


Renjana tersenyum. "Iya, Bu. Tak apa." Setelah itu, Bu Arumi berpamitan ke dapur, dan meninggalkan Renjana sendirian di ruang tamu yang berukuran kecil itu.


Renjana memperhatikan sekeliling. Di ruang tamu ini hanya ada kursi dan meja, serta satu lemari bufet berukuran sedang yang di dalamnya berisi berbagai macam barang Bu Arumi.


Sepuluh menit berlalu, Bu Arumi kembali dengan segelas teh hangat di tangan kanan, serta setoples kue kering di tangan kirinya.


"Silahkan diminum, Nak Renjana."


Renjana menurut. Menyesap teh buatan Bu Arumi, yang terasa begitu lezat di lidahnya. Kemudian mengambil satu kue dari dalam toples, dan mencicipinya.


"Ah, terima kasih pujiannya, Nak. Nanti, Ibu siap kapanpun jika kau memang ingin belajar." Senyum Bu Arumi mengembang sempurna, hatinya terasa gembira mendapat pujian dari gadis baik hati di hadapannya itu.


"Oh ya, bagaimana keadaan Ibu?" tanya Renjana.

__ADS_1


"Setelah operasi, keadaan Ibu terasa kembali membaik. Ibu berharap, semoga kesehatan Ibu akan kembali normal. Bahkan, satu hari yang lalu Ibu mencoba membuat kue ini," cerita Bu Arumi.


"Syukurlah, kalau keadaan Ibu sudah baik-baik saja," ujar Renjana tulus.


"Ini semua berkat nak Renjana, bukan? Kau memang gadis berhati baik. Ibu bahkan tidak tahu, akan membalas semua kebaikanmu dengan apa." Bu Arumi tertunduk, setelahnya wanita paruh baya itu menghembuskan napas kasar.


"Ibu tidak perlu melakukan apapun, karena aku benar-benar tulus. Ibu hanya perlu menjaga kesehatan Ibu saja, aku rasa itu sudah cukup." Gadis itu kemudian tersadar akan sesuatu. "Tunggu, Ibu tahu kalau aku yang membantu operasi Ibu dari mana?" tanya Renjana.


"Gumilar yang memberi tahu Ibu. Bahkan, kamu dengan baik hatinya memberi dia pekerjaan."


Renjana mengangguk mengerti. Gumilar ternyata anak yang tak pernah menyembunyikan apapun dari Ibunya. Pria itu terlihat sangat menyayangi sang Ibu.


"Ibu beruntung punya anak sebaik Gumilar. Dia bahkan rela aku menambah pekerjaannya demi Ibu," puji Renjana.

__ADS_1


"Iya, kamu benar. Ibu memang sangat beruntung memilikinya."


__ADS_2