Putri Renjana

Putri Renjana
Enam


__ADS_3

Renjana menggerutu kesal selama perjalanan. Meski begitu, raut khawatir tergambar jelas di wajah gadis itu.


Tadi, saat tengah asik membaca buku di dalam kamar, Renjana menerima telepon yang mengatakan kalau Reksa masuk Rumah Sakit. Pasti pria itu memforsir tenaganya habi-habisan beberapa minggu ini. Berprofesi sebagai aktor, belum lagi sesekali membantu mengurus perusahaan keluarganya, pasti membuat pria itu kelelahan. Belum lagi di saat luang, pria itu suka memasak dan menjadikannya konten untuk ia posting  di Instagram dan YouTube.


Renjana membuka pintu kamar rawat VVIP itu dengan sentakan kasar. Dengan langkah cepat, dia menghampiri ranjang tempat Reksa terbaring. Tak peduli kondisi Reksa yang tengah sakit, gadis itu malah melayangkan pukulan ke bahu sahabatnya itu.


"Kau benar-benar bebal, Pangeran Antareksa! Sudah kukatakan, untuk tak memforsir tenagamu secara berlebihan. Ini akibatnya karena kau terlalu ceroboh, kau malah jatuh sakit!" pekiknya kesal. Matanya sudah berkaca-kaca karena khawatir akan kondisi Reksa.


"Maaf, Honey!" Reksa terkekeh pelan. Ia kemudian mengambil punggung tangan Renjana, dan mengelusnya dengan lembut.


"Kau...kau membuatku khawatir, Pangeran! Aku takut kau kenapa-napa. Apa kau tak ingat, terakhir kali sakit, kau hampir mati. Apa kau mau seperti itu lagi, hah? Kau mau meninggalkanku? Kau bilang, mau tak ingin membuatku menangis. Tapi kalau kau sakit begini, jelas aku akan menangis karenamu." Renjana menumpahkan semua kekesalan dan rasa khawatirnya. Ia sangat ingat, saat Reksa sakit waktu itu. Pria itu terkena tipes. Belum lagi asam lambungnya naik. Hampir saja nyawanya melayang.


Reksa memaksakan diri untuk bangun, kemudian menarik gadis itu ke pelukannya. Ia benar-benar mengutuk dirinya sendiri karena membuat Princess kesayangannya itu menangis.

__ADS_1


"Ekhm." Deheman seseorang menyadarkan dua insan itu kalau masih ada manusia lain di ruangan tersebut.


"Ah, maaf. Aku tadi tak melihat kalau ada orang di sini!" Renjana menjauhkan tubuhnya dari Reksa, dan meringis meminta maaf pada gadis seksi yang tengah duduk di sofa.


"Hahaha, tidak apa. Kau pasti tadi sangat menghawatirkan Reksa." Gadis cantik yang Renjana tahu adalah lawan main Reksa itu tersenyum maklum.


"Baiklah, karena kau sudah ada yang menjaga, aku ingin pamit pulang dulu. Aku tidak ingin menjadi nyamuk di sini!" Ia kemudian berdiri, mengambil tasnya dan bersiap pergi.


"Apa yang kau katakan. Memangnya, kenapa kau harus menjadi nyamuk? Lagipula, kau kan manusia." Reksa mengulum senyumnya mendengar perkataan Renjana. Sudah dia katakan kan, sebelumnya, kalau Renjana itu tidak mengerti kode. Sementara Ameera Ragadi langsung menganga. Masa ucapannya yang sejelas itu tidak dimengerti seorang putri Basuwardi? Apa dia benar-benar tidak mengerti, atau hanya pura-pura? Tapi kalau diperhatikan melalui wajahnya, sepertinya gadis itu benar-benar tidak paham.


Ameera langsung tertawa, setelah menyadari sepolos apa bungsu Basuwardi itu. "Sama-sama! Emm...Renjana, aku pamit duluan!" Renjana mengangguk sebagai jawaban.


"Jadi, dia yang mengantarmu ke sini tadi?" tanya Renjana beberapa saat setelah kepergian Ameera dari dalam ruangan Reksa.

__ADS_1


"Iya. Sebenarnya dengan Fenita tadi, tapi Fenita sakit perut. Makanya dia berpamitan untuk periksa juga sekalian izin untuk langsung pulang. Aku malah dititipkannya pada Ameera."


"Ameera itu ternyata baik juga, ya. Apa kau sama sekali tidak naksir padanya?"


Pertanyaan Renjana yang  tiba-tiba itu membuat Reksa tanpa sadar berdecak pelan. Bagaimana dia mau naksir cewek lain, sedangkan hatinya sudah sejak lama tertaut pada gadis tak pernah peka di hadapannya ini.


"Ameera itu teman yang bagus diajak ngobrol santai. Bukan diajak bicara tentang masa depan," jawab Reksa seadanya.


"Ah, sayang sekali. Padahal, aku langsung suka padanya di pertemuan pertama kami. Aku yakin, dia akan sangat cocok jadi pendampingmu. Dia terlihat sangat perhatian, dan juga penyayang."


"Kau terlalu mengada-ada sayang. Sudahlah, sekarang beri aku pelukan sekali lagi. Aku begitu merindukanmu." Reksa mengalihkan pembicaraan ke arah lain.


"Ckk, kita baru saja menghabiskan waktu berdua kemarin. Lebih baik, kau tidur. Kau pasti butuh istirahat lebih," suruh Renjana. "Tidurlah, Pangeran. Aku akan menemanimu di sini." Gadis itu menarik satu kursi dan mendekatkannya ke Samping ranjang Reksa. Tangannya terangkat, membelai dengan lembut rambut pria itu.

__ADS_1


'rambut yang dibelai lembut, kenapa hatiku yang berantakan? Astaga, Pangeran Antareksa! Ini sudah sekian lama kalian bersama, tapi kenapa reaksimu tidak juga berubah?' batin Reksa berteriak heboh.


__ADS_2