Putri Renjana

Putri Renjana
Lima Belas


__ADS_3

Renjana menelan ludah gugup saat sampai di kantin, dan mendapati tiga Kakaknya sudah berdiri di sana sembari bertanya dengan wajah panik pada beberapa orang yang tengah makan.


"Kakak!" teriak Renjana, menghentikan kepanikan tiga kakaknya.


Tiga pria itu langsung berjalan ke arahnya dengan cepat, memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu bersamaan menghembuskan napas lega.


"Kau...kau dari mana saja? Astaga, Princess!" Jendra bertanya sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tidak bisakah kau berpamitan dengan benar, Putri Renjana? Kalau berpamitan ke kantin, pergilah ke kantin. Bukan ke tempat lain, dan membuat kami semua panik. Kau tidak tahu bagaimana khawatirnya kami saat bertanya pada orang-orang yang sedang makan di sini, kalau kau sama sekali tidak terlihat oleh mereka sejak tadi!" omel Reandra, rahang pria itu bahkan terlihat mengeras pertanda ia sangat marah.


"Sudah, sudah! Asalkan Princess sudah di sini, jangan marahi dia lagi. Lebih baik, kita bertanya baik-baik padanya." Jefry langsung menarik gadis yang menjadi sasaran omelan dua adiknya itu ke dalam pelukannya.


Renjana meringis pelan, sudah ia duga ketiga kakaknya itu akan menyusul ke tempat ini.


Jendra dan Reandra menghembuskan napas kasar. Wajah keduanya berangsur normal, dan berganti dengan raut bersalah karena memarahi si bungsu kesayangan keluarga itu.

__ADS_1


"Lebih baik, kita bicara di sana!" Jefry menunjuk salah satu meja kosong, dan mengajak ketiganya untuk ke sana.


"Jadi, bisa kau jelaskan kau dari mana, Princess?" Jendra bertanya dengan tatapan penuh selidik.


"Aku...aku tadi ke Toilet dulu sebelum ke mari," jawab Renjana terbata.


"Ke Toilet? Selama itu?" Reandra menatapnya dengan tatapan menghakimi.


"Hmmm, iya. Perutku tadi sangat sakit, jadi ya, maklum kalau lama. Aku juga tidak menghubungi kalian, karena tidak mungkin kan, hanya ke toilet aku harus berpamitan juga?"


"Iya. Aku janji."


Renjana terkadang heran, kenapa tiga kakaknya ini sangat berlebihan. Salah, bukan hanya tiga kakaknya, tapi seluruh keluarganya. Ketika mereka pergi bersama, Renjana tak boleh hilang dari pandangan mereka. Padahal, terkadang dia sering bepergian sendirian. Setidaknya, itu menurut Renjana. Tanpa ia ketahui, kalau saat pergi sendiri, Renjana akan diikuti beberapa bodyguard di belakangnya dengan jarak yang cukup aman, agar gadis itu tidak curiga.


"Jadi berarti kau belum makan kan?" Renjana mengangguki tebakan Jendra. Mereka semua sudah kembali normal, ekspresi ketiganya sudah tidak sekaku tadi.

__ADS_1


"Reandra, kau pergilah memesan makanan, dan aku yang akan memesan minuman," titah Jendra. Reandra menurut. Pria itu tidak seperti biasanya yang akan protes dan adu mulut terlebih dahulu sebelum pergi, karena tenaganya seakan terserap habis karena menghawatirkan Renjana tadi.


"Maafkan kami, kalau sikap kami terlihat sangat berlebihan Princess. Pasti terasa sangat menyebalkan jika berada di posisimu. Tapi yang harus kau tahu, kami seperti itu untuk kebaikanmu. Kami...sangat takut sesuatu terjadi padamu," ujar Jefry sembari mengelus kepala gadis yang duduk di sampingnya itu.


"Tenang saja, Kak! Aku sangat mengerti. Meskipun terkadang aku merasa sebal, tapi hal itu tak akan bertahan lama. Karena aku sadar, kalian seperti itu karena terlalu menyayangiku." Renjana tersenyum menenangkan.


"Lagipula, aku tahu, dengan posisi keluarga kita yang seperti ini jelas sering mengundang bahaya. Pesaing bisnis Papi, kau, Kak Jendra, dan Kak Reandra, bahkan Pangeran pun bukan sekali dua kali menargetkan aku. Benar, kan?" Jefry membulatkan matanya karena terkejut.


"Kau...dari mana kau tahu, Princess?" tanya pria itu syok.


"Meski aku diam, aku jelas tahu kalau bahaya sering mengintaiku. Bukankah dulu kakak yang bilang hal serupa saat menyuruhku untuk belajar bela diri dulu?"


Jefry memutar otaknya, mencari memori lama tentang perkataannya pada Renjana. Setelah ingat, ia menganggukkan kepalanya pelan. "Ya, kau benar. Aku dulu sering mengatakan itu ketika kau dengan keras kepala tak ingin latihan bela diri. Bahkan, aku harus rela mengikhlaskan separuh uang jajanku untuk membelikanmu eskrim sebagai rayuan."


Renjana tertawa kecil mengingat momen itu. Jefry memang sudah semanis ini sejak kecil. Sebenarnya bukan hanya Jefry saja, semua pria di sekelilingnya bersikap sangat manis padanya. Termasuk Reandra yang meskipun di satu waktu akan bertingkah menyebalkan. Dan karena semua itu, Renjana sangat bersyukur di lahirkan di tengah-tengah orang-orang yang menyayangi dan menjaganya layaknya permata berharga.

__ADS_1


__ADS_2