
Reksa menatap bangunan di depannya lama. Hatinya seolah ragu saat akan beranjak turun dari mobil. Pria itu menghembuskan napas berat, kemudian mengusap kasar rambutnya berkali-kali.
Sejujurnya, Reksa kebingungan sendiri. Kalau dipikir-pikir, kenapa dia dan seseorang yang tak lain adalah pemilik bangunan ini malah menjadi seperti orang asing? Padahal, rencana peresmian hubungan mereka dimaksudkan agar keduanya semakin dekat. Tapi kenapa sekarang malah sebaliknya?
Dengan hati yang dipaksa yakin, Reksa melangkah keluar dari dalam mobilnya. Pria itu kemudian memasuki Restoran yang tengah ramai pengunjung, maklum saja, ini jam makan siang.
Melirik ke sana ke mari, guna mencari keberadaan sosok yang sudah beberapa waktu tak saling bertukar kabar dengannya. Saat merasa tak menemukan kehadiran sosok itu, ia akhirnya bertanya pada salah satu pelayan.
“Prin—mm, maksudku, Renjananya ada?” tanya Reksa. Kebiasaannya memanggil Princess malah terbawa-bawa sampai ia akan berbicara dengan orang lain. Padahal, orang lain mana tahu siapa yang dipanggilnya dengan sebutan spesial itu.
“Ah, ada Pak. Tadi baru saja datang. Bapak ada perlu dengannya? Apa perlu kupanggilkan?”
Reksa menggeleng. “tidak usah. Biar aku langsung menemuinya saja.” Pelayan itu hanya mengangguk, dan membiarkan Reksa berjalan menuju lantai dua bangunan. Walau bagaimanapun juga, mereka jelas mengenal siapa sosok pria tadi. Jadi, tidak masalah mengizinkan dia menemui sang atasan.
__ADS_1
Reksa membuka pintu ruangan Renjana, namun ia tak mendapati sosok gadis itu. Pria itu menggaruk kepalanya padahal tak merasakan gatal di sana. Dia hanya kebingungan, perasaan tadi pelayan itu mengatakan kalau Renjana baru saja naik. Apa gadis itu di toilet?
Lima menit menunggu dan merasakan tak ada tanda-tanda keberadaan Renjana, Reksa berjalan keluar ruangan. Ia kemudian menuju ruangan yang satunya lagi, ruangan yang setahu Reksa adalah tempat Gerald—pria yang menjadi kepercayaan Renjana di Restoran ini tempati. Dan setahu Gerald, pria itu kini sudah diutus mengurus cabang lain, dan digantikan oleh salah satu kenalan Renjana.
Pintu ruangan terbuka, membuat Reksa berjalan semakin cepat ke arah ruangan tersebut. Langkahnya perlahan menelan saat mendengar suara tawa yang berasal dari dalam sana. Dengan mengendap, pria itu sampai di depan pintu dan sedikit mengintip. Dua orang tersebut asik bercanda dan tertawa tanpa menyadari kedatangannya.
Reksa seketika merasakan sesak di dada. Jantungnya berdebar kencang, namun terasa begitu menyakitkan. Dulu, Renjana memang sering tertawa seperti itu dengan Gerald. Tapi itu karena Gerald dikenalinya sejak lama. Tapi pria itu, bukankah mereka baru beberapa bulan bertemu? Namun, pria itu kini bisa menikmati tawa kencang Renjana.
Seketika Reksa merutuki dirinya sendiri. Ia pikir, dengan keluarganya menawarkan pertunangan dengan Renjana, gadis itu akan aman dari jangkauan pria lain. Terlebih dengan percaya dirinya, Reksa malah membebaskan Renjana untuk mencoba dekat dengan orang lain sebagai penentu perasaan gadis itu. Tapi ini, belum apa-apa, Reksa malah merasa ketakutan sendiri. Bagiamana kalau ternyata Renjana malah jatuh cinta pada pria itu?
Kalau ada yang disalahkan di sini, maka mungkin dirinyalah orangnya. Dia terlalu percaya diri, karena selama ini orang terdekat Renjana adalah dirinya. Tapi ini? Bukankah kalau dipikir-pikir, pria itu lebih unggul? Dia baru saja saling mengenal dengan Renjana, tapi dia sudah mampu akrab dengan gadis itu.
Renjana adalah salah satu tipe orang yang susah untuk berteman, dan Reksa tahu itu. Dulu, saat mereka masih sekolah, Renjana memang sering iseng mengajak pria berkenalan untuk mengerjai tiga kakak dan juga satu sahabatnya. Tapi hanya sekedar berkenalan, dan selanjutnya dia tidak akan menjalin pertemanan lebih meski dirinya bukanlah orang yang sombong. Dia hanya berteman biasa, namun tidak akan terlalu akrab. Tapi ini, lihatlah! Bahkan dia terlihat begitu nyaman bercanda dengan pria itu.
__ADS_1
Terlalu lama melamin, Reksa tak sadar kalau Renjana dan Gumilar tengah menatap ke arahnya. Dia anak manusia itu terkejut akan kehadiran seorang pria yang tengah menatap mereka dengan tatapan kosong. Renjana yang menyadari kalau Reksa mungkin mendatanginya segera berdiri.
“Gumilar, aku akan ke ruanganku. Pangeran datang ke sini pasti karena ingin menemuiku,” ujarnya.
Gumilar mengangguk, namun wajah ya terlihat tak enak. Dia takut, menyebabkan kesalah pahaman pada dua orang itu. “O—oke,” jawabnya terbata.
Renjana langsung menubruk kan dirinya ke tubuh Reksa. Memeluk pria itu, dan menghirup aroma tubuh yang sangat ia rindukan. Sementara Reksa yang tengah melamun dengan pemikirannya, langsung tersentak kaget. Untung saja pertahannya kuat, kalau tidak, dia dan Renjana bisa saja jatuh terduduk di lantai.
“Astaga Princess, kau membuatku kaget.” Meski protes, namun ia membalas pelukan Renjana dan sesekali mencium rambut gadis itu. Matanya kemudian melirik ke dalam ruangan, guna memastikan reaksi pria di dalam sana. Namun ternyata, pria itu malah tengah membaca berkas di tangannya dan tak mempedulikan dramanya dengan Renjana.
’apa dia tidak cemburu?’ Gumilar membatin.
“Kau yang membuatku kaget. Tanpa menghubungiku, kau malah sudah berdiri di sini entah sejak kapan.” Ucapan Renjana membuatnya kembali fokus pada gadis itu.
__ADS_1
“Aku hanya sedikit ingin memberimu kejutan.” Pria itu terkekeh pelan. “Oh ya, ngomong-ngomong, kita masih di depan pintu ruangan karyawanmu dengan posisi berpelukan seperti ini,” beritahu Reksa. Renjana tersentak menyadari hal itu. Ia melepaskan pelukan sembari tersenyum canggung saat melirik ke belakang. Gadis itu menghembuskan napas lega karena ternyata Gumilar tidak sedang memperhatikan mereka.
“Ayo ke ruanganku. Kau sudah lama tidak mengunjungiku, benar-benar menyebalkan,” marahnya pada Reksa. Kedua orang tersebut kemudian meninggalkan ruangan Gumilar tanpa repot-repot berpamitan. Sedangkan Gumilar, pria itu melepas berkas di tangannya kemudian menghembuskan napas kasar. Ekspresinya tetap datar, entah apa yang sedang dipikirkan pria itu.