Putri Renjana

Putri Renjana
Dua Puluh Tujuh


__ADS_3

Renjana menatap rintik hujan melalui jendela kaca yang ada di dalam ruangannya. Hujan turun sejak sore tadi, membuatnya terjebak di Restoran ini. Ia merutuki dirinya sendiri karena saat berangkat tadi tidak membawa mobil. Akibatnya, ia malah terjebak di sini.


Renjana turun menuju lantai bawah, ternyata masih banyak pengunjung di sana. Ia menghembuskan napas kasar, padahal ia sudah tidak sabar ingin membaringkan diri di atas kasur. Di ruangannya, Renjana memang tidak menyediakan kasur atau banyak, karena dia belum pernah sekalipun menginap di sini. Berbeda dengan ruangan Gerald yang ada satu ranjang sengaja di letakkan di sana, juga lemari kecil tempat menyimpan pakaian. Itu karena pria itu sering menginap di Restoran jika malas pulang ke Apartemen.


Renjana mendudukkan diri di salah satu kursi kosong, dan kembali menatap hujan yang masih turun dengan derasnya melalui jendela kaca Restoran. Berkali-kali gadis itu menghembuskan napas kasar, karena merasa bosan menunggu.


"Renjana! Kau belum pulang juga?" Gumilar datang menghampirinya. Memang, sudah beberapa hari ini keduanya tak lagi canggung dalam mengobrol. Terlebih, panggilan Gumilar pada Renjana yang sudah berubah santai.


"Belum. Tadi aku lupa membawa mobil, dan...berakhir terjebak di sini. Aku berharap hujan segera berhenti, kalau tidak, pasti setelah ini tak ada lagi taksi yang bisa kutumpangi untuk pulang," keluh Renjana.


"Kau...kenapa belum pulang?" tanya Renjana pada Gumilar.


"aku bawa motor. Hujan begini jalanan pasti sangat licin, dan pandangan jadi tidak fokus ke depan. Aku hanya berjaga agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."


Renjana mengangguk mengerti. Gumilar memang sangat pintar dalam memikirkan sesuatu sebelum bertindak.


"Gumilar, apa aku boleh bertanya sesuatu? Ini...sedikit lebih pribadi." Renjana bertanya ragu.


"Apa? tanyakan saja, asal jangan bertanya kapan aku menikah, karena aku sudah bosan mendengar pertanyaan seperti itu."

__ADS_1


Renjana tertawa kecil, kemudian menggeleng. "Mulai usia dua puluhan, kau memang harus menyiapkan mental untuk pertanyaan seperti itu. Tapi...bukan hal itu yang ingin kutanyakan."


"Kalau begitu, silahkan bertanya."


Renjana menghembuskan napas berat. Ia tidak tahu, apakah ini waktu yang tepat menanyakan akan sesuatu yang menjadi rasa penasarannya selama ini atau tidak.


"Soal Ayahmu." Renjana menatap reaksi Gumilar, namun pria itu terlihat biasa saja.


"Ayahmu...meninggal karena kecelakaan?" tanya Renjana ragu.


Gumilar mengangguk. "Benar. Ayahku meninggal saat aku kelas satu SMP, karena kecelakaan."


"Ditabrak. Dia tidak mengendarai motor ataupun mobil. Tapi, dia ditabrak saat akan me..."


"Dia tertabrak mobil karena menyelamatkan seseorang. Benar begitu, bukan?" potong Renjana. Gumilar terperanjat kaget.


"Dari mana kau tahu?"


"Dua menyelamatkan seorang gadis. Dan gadis itu, aku kan?" Renjana tak menjawab, malah melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


Gumilar menghembuskan napas berat. "Jadi, kau sudah tahu?" tanya Gumilar pelan. Renjana mengangguk.


"Tapi...kenapa aku tak mengingat apapun?" mata gadis itu berkaca-kaca.


"Renjana, aku tidak terlalu tahu. Lebih baik, kau bertanya pada keluargamu soal itu," nasehat Gumilar.


"Lalu...apa kau...membenciku?"


Gumilar menggeleng. " Tentu saja tidak. Sejak seorang manusia di dalam kandungan, Tuhan sudah menuliskan garis takdir akan hidupnya. Kapan, di mana, dan penyebabnya meninggal sudah ditentukan. Jadi, untuk apa membencimu? Lagipula, itu bukan salahmu bukan?"


Air mata Renjana turun seketika. Hatinya berdenyut mendengar ucapan pasrah Gumilar. Kenapa pria ini begitu baik?


"Tapi, aku membuat kau dan Ibumu menderita. Aku tanpa sengaja membuat Ibumu menjadi janda dan berjuang membesarkanmu sendirian. Aku juga membuat kau menjadi yatim karena kehilangan sosok ayah. Itu pasti sangat berat bagi kalian."


Gumilar tersenyum menenangkan. "Dengar, Renjana. Kehilangan Ayah memang berat bagi kami, dan itu merupakan hal yang wajar ketika kita kehilangan seseorang bukan? Tapi, bukan berarti kau menyalahkan takdir. Garis hidup ayah di dunia, sudah sampai di titik akhir. Kau bukan penyebabnya, tapi kau hanya perantara Tuhan mengambil kembali apa yang memang hanya dititipkan pada kami. Jadi, jangan merasa bersalah."


"Aku dan Ibu, sudah mengikhlaskan kepergian Ayah. Lagipula, kami bangga akan ayahku. Dia pergi, karena menyelamatkan nyawa seseorang. Dia seperti sosok pahlawan bukan?"


Renjana mendongak. Menatap wajah Gumilar yang tersenyum hangat padanya. Benar, ayah Gumilar adalah sosok pahlawan. Pahlawan baginya, pahlawan bagi keluarnya, juga pahlawan bagi Gumilar dan Ibunya.

__ADS_1


"Lagipula, keluarga Basuwardi dengan baik hatinya memberikan bantuan pada kami. Bahkan, setelah aku lulus kuliah, aku dimasukkan ke CIC untuk mengajar di sana. Aku tidak dibiarkan kesulitan mencari pekerjaan sendirian. Padahal, itu bukanlah kesalahan mereka. Tapi, mereka sangat menghormati jasa Ayahku. Kau beruntung memiliki keluargamu, Renjana."


__ADS_2