Putri Renjana

Putri Renjana
Tiga Puluh Satu


__ADS_3

“Jadi, kau mengenal anak Bu Arumi?” tanya Bagas Basuwardi pada Renjana. Obrolan keluarga itu kini kembali santai, tak selalu beberapa hari ini. Semua yang disembunyikan Renjana terbongkar, termasuk ia yang membantu Bu Arumi untuk mendapatkan pendonor juga membiayai operasi pencangkokan ginjal wanita paruh baya itu.


“Iya. Awalnya hanya tak sengaja berpapasan di CIC saat Papi menyuruhku untuk menggantikan kunjungan rutin Papi. Lalu, saat aku menemani Pangeran di rumah sakit adalah yang ke dua kalinya, dari sana aku tahu kalau Ibu dari Pak Gumilar sedang sakit.”


“Dan kau langsung menawarkan untuk membantunya?” tebak Reandra.


“Tidak juga. Tadinya, aku hanya meminta izin ingin menjenguk Ibunya, dan ternyata diizinkan. Pas ketemu Bu Arumi, entah kenapa, aku merasa mengenalnya. Wajah itu tidak asing menurut penglihatanku. Akhirnya, hatiku tergerak untuk membantunya, meski dengan paksaan pada Gumilar agar menerima tawaranku untuk membiayai operasi Bu Arumi.”


Renjana pikir, Papinya akan marah. Namun ternyata ia salah, pria paruh baya itu malah tersenyum lembut padanya. “Papi tidak marah?” tanya Renjana.

__ADS_1


“Untuk apa? Oh, jadi kau menyembunyikan masalah kau membantu Bu Arumi, karena takut dimarahi? Princess, dengarkan Papi. Papi tidak akan pernah memarahiku, apalagi ketika kau melakukan kebaikan.”


Renjana menghembuskan napas pelan, lalu tersenyum. “terima kasih, atas pengertian kalian padaku.”


“Lalu, apa kau bisa jelaskan alasanmu memilih Gumilar yang menggantikan posisi Gerald di Restoranmu?” Reandra bersuara, membuat Renjana langsung menatap Kakaknya itu. Jefry dan Jendra ikut menatap Reandra.


“Iya. Ah, kalian ingat kan, ucapanku tadi, di mana aku memaksa Gumilar menerima bantuanku. Dia pria yang baik, karena tak ingin dianggap memanfaatkan orang lain, dia menerima bantuanku dengan syarat akan mengembalikan uangku nanti dengan cara dicicil. Dia juga berjanji akan melakukan apapun yang kuinginkan, ya sudah, kumanfaatkan saja dia di Restoran. Lagipula, Gumilar orang yang baik dan juga jujur, Papi juga pasti tahu hal itu. Di jaman sekarang, susah mencari orang jujur. Itulah sebabnya aku memilih dia!”


“Jadi, dia bekerja tanpa kau gaji?” Jendra bertanya, matanya melotot tak menyangka.

__ADS_1


Renjana mendengus. “Kak Jen, aku mana bisa Setega itu? Kau pikir aku orang sejahat itu apa?” kesalnya.


Jendra meringis, “maaf, Princess. Aku...hanya mengira-ngira,” ujarnya.


“Aku tetap menggaji Gumilar, sebagiannya akan ia gunakan untuk melunasi hutang padaku tiap bulan. Aku sengaja membuatnya seperti itu, agar gajinya sebagai guru di CIC akan tetap utuh untuk kebutuhannya dan Bu Arumi. Kasihan juga kalau dia membayar dengan semua gaji miliknya. Padahal kan, di awal niatku membantu.” Penjelasan Renjana membuat semuanya menghembuskan napas lega.


“Tapi, Princess. Kenapa kau malah menerima dia mengganti uangmu?” tanya Elena.


“Itu kan sudah perjanjian awal, Mami. Gumilar yang mau. Lagipula, aku menggajinya dua kali lipat. Jadi...kalian mengerti kan, maksudku?” ujarnya tersenyum manis. Kalau Gumilar digaji dua kali lipat dan setengahnya untuk Renjana, berarti...sama saja Gumilar tidak membayar pada Renjana. Karena gajinya tetap utuh seperti karyawan Restoran lain.

__ADS_1


__ADS_2