
"Pak Gumilar? Kau masih di sini?" Renjana terkejut melihat keberadaan Gumilar di Restoran miliknya saat ia mengunjungi tempat itu di malam hari.
Kali ini, Renjana tidak datang sendiri. Dia datang bersama Reksa, keduanya sepakat menghabiskan waktu bersama di tempat ini setelah Reksa sibuk karena baru saja terjun mengurus perusahaan keluarga.
"Ah, iya Bu. Setiap pulang Sekolah, aku akan menghabiskan waktu di sini."
Reksa yang berdiri di samping Renjana hanya memperhatikan perbincangan keduanya dalam diam. Namun, matanya berusaha menilai pria di depannya itu. Menurut Reksa, pria yang dipanggil Renjana 'Pak Gumilar' itu terlihat biasa saja. Penampilannya sederhana, namun terlihat sangat rapi. Wajahnya memang tampan, namun Reksa merasa dia jauh lebih tampan. Tapi Reksa yakin, banyak wanita di luar sana pasti melirik pria ini, karena Reksa bisa merasakan kalau Gumilar adalah pria istimewa. Dia seolah punya magnet tersendiri yang membuat orang tertarik padanya, walau dia tak melakukan apa-apa. Jangan-jangan, pria ini yang dikatakan Reandra tempo hari? Kalau seperti itu, Reksa merasa saingannya berat. Karena saingan pria tampan itu adalah pria berkarisma, bukan?
"Astaga, padahal sudah ku katakan kau hanya perlu tiga jam saja berada di sini. Lagipula, ada Bu Arumi yang harus kau perhatikan juga."
Gumilar tersenyum tipis, dan Reksa langsung reflek menghembuskan napas kasar saat melihat lesung Pipit di sebelah kiri pipi pria itu. Astaga! Reksa tak punya itu. Tolong beritahu Reksa, bagaimana caranya agar dia memiliki kecacatan yang kata orang sangat indah itu.
"Ini sudah tugasku, Bu Renjana. Untuk Ibu, kesehatannya sudah sangat membaik. Aku juga mempekerjakan salah satu tetangga untuk jadi asisten ibu. Karena pesanan kuenya mulai banyak."
Mata Renjana langsung berbinar mendengar kata 'kue' yang keluar dari mulut Gumilar. Ia jadi teringat rasa enak dari kue yang ia cicipi saat kunjungannya waktu itu.
__ADS_1
"Ah, syukurlah kalau Bu Arumi sudah sangat membaik. Oh ya, ngomong-ngomong, bisakah besok jika kau ke sini bawakan aku kue buatan Bu Arumi? Aku tiba-tiba jadi rindu rasanya, soalnya hasil tangan Bu Arumi itu sangat enak. Uangnya nanti kutransfer, oke?" Renjana bahkan tak menyadari rasa tidak nyaman Reksa yang harus menunggunya berbicara dengan pria lain. Astaga, dan sialnya dia tidak diajak dalam pembicaraan.
Renjana dan pria ini terlihat sangat akrab. Bahkan Renjana mengenal Ibunya, dan tahu kalau ibu dari pria itu sedang sakit. Kini Reksa menyesal, kenapa dia tidak melepas dunia entertainment sejak lama.
"Ah, tidak perlu Bu Renjana. Ibu pasti akan sangat senang, kalau Bu Renjana menyukai kue buatannya. Dan akan memarahiku jika aku menerima uang pemberian Bu Renjana.," tolak Gumilar.
"ah, tapi aku merasa tak enak. Aku akan tetap mentransfernya, karena aku memang berniat membeli. Dan tolong katakan pada Bu Arumi, aku akan berkunjung ke sana untuk memasak kue dengannya, dan belajar padanya secara gratis."
Gumilar tertawa kecil mendengar candaan Renjana. Pria itu mengangguk, kemudian berpamitan untuk mengecek kinerja karyawan.
"Apa sudah puas berbicaranya, Tuan Puteri?" sindir Reksa. Moodnya mendadak anjlok karena Renjana mengabaikannya sejak tadi.
"Tadi itu Gumilar, pengganti Gilang." Tanpa diminta, Renjana mengatakan siapa Gumilar. Tapi dalam artian, hanya posisi pria itu di Restoran miliknya ini.
"Kau terlihat sangat akrab dengannya?" Kini, Renjana dan Reksa berada di ruangan Renjana. Dua orang itu menunggu makanan yang mereka pesan pada karyawan untuk dibawa langsung ke ruangan bosnya.
__ADS_1
"Hmm, tidak juga. Kami tak sekarang itu. Lalu lihat sendiri kan, pembahasan kamu tadi hanya tentang pekerjaan," ujar Renjana membela diri.
Memang dasarnya Reksa sudah cemburu, pria itu mana tenang kalau hanya mendengar kalimat seperti itu.
"Pekerjaan mana yang membawa-bawa orang tua?" untuk ke sekian kalinya, Reksa menyindir Renjana.
"Ah, aku memang pernah mencicipi kue buatan Ibunya Pak Gumilar. Kau jangan salah paham," ujar Renjana.
"Lalu, bagaimana kau tahu kalau Ibunya sedang sakit?"
Renjana menelan ludah gugup. Meski dia sudah menyiapkan alasan jauh-jauh hari agar suatu saat jika ditanya seperti ini dia bisa menjawab dengan lancar, namun mulutnya tetap saja terasa kaku saat mengeluarkan suara.
"Itu...karena aku pernah menolong Ibunya yang pingsan saat jualan kue." Maafkan Renjana ya Tuhan, karena sudah berbohong.
"benar?"
__ADS_1
"Benar, Pangeran. Lagipula, kenapa kau bisa curiga seperti itu? Bukannya obrolanku dengan Gerald lebih dari seperti tadi saat aku berkunjung ke sini? Tapi kau terlihat sangat mencurigaiku ketika dengan Gumilar."
"karena aku takut alasan perhatian yang kau berikan padanya karena kau mencintainya." Ingin rasanya Reksa mengatakan hal itu, namun ia berusaha menetralkan pemikirannya. "Tidak, aku hanya bertanya saja."