
Renjana terkejut ketika baru saja keluar dari kamar mandi, dan mendapati sang mami tengah duduk santai di atas ranjang miliknya.
"Mami? Ada apa? Tumben Mami mendatangi kamarku sepagi ini?" Renjana mencecar Elena dengan pertanyaannya.
"Mami hanya ingin menemuimu saja. Apa tidak boleh?" Elena memasang wajah sendu, membuat Renjana merasa bersalah.
"Tentu saja tak apa. Aku hanya terkejut saja." Renjana melangkah mendekat, dan duduk di samping maminya.
Elena menghembuskan napas kasar, wanita itu menatap lamat-lamat wajah anaknya. "Ah, Mami tak menyangka kalau kau ternyata sudah dewasa. Bahkan, tubuhmu lebih sudah lebih tinggi dari Mami."
Renjana semakin kebingungan. Kenapa tiba-tiba menjadi aneh seperti ini? Oh, dia tahu. Pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan maminya.
"Apa ada yang ingin Mami bicarakan padaku?" tanya Renjana langsung.
Elena kembali menghembuskan napas kasar. "Sekentara itu ya?" balas Elena.
Renjana mengangguk. "Hmm. Soalnya, sejak tadi Mami bertingkah sedikit aneh," jawab Renjana jujur.
"Baiklah. Kalau begitu, Mami akan langsung bertanya. Apa beberapa hari ini, ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Renjana terdiam. Ia memeluk sang mami dari samping, dan dibalas elusan lembut di rambutnya dari wanita paruh baya itu.
"Aku...tidak tahu, Mi," jawabnya pelan.
__ADS_1
"Kenapa tidak tahu? Akhir-akhir ini, kau terlihat berubah. Kau seolah-olah menjauh dari kami," mulai Elena. Renjana memilih diam, gadis itu malah semakin menenggelamkan kepalanya di dada sang mami.
"Apa ini karena perbincangan kita dengan keluarga Pangeran tempo hari?"
Renjana menggeleng pelan. "Tidak. Aku...apa jika aku bertanya sesuatu pada Mami, Mami akan menjawab dengan jujur?"
Elena diam terlebih dahulu, berpikir apa yang sebenarnya ingin ditanyakan sang anak.
"Tentang apa?"
"Mami berjanji terlebih dahulu akan menjawab jujur, barulah kuberi tahu."
"Mami tidak yakin. Sebaiknya, kita bicarakan langsung bersama Papi dan Kakak-kakakmu, ya?" bujuk Elena.
"Kalau begitu, ayo kita turun ke bawah. Mereka sedang menunggu di meja makan tadi."
Sampai di meja makan, seluruh anggota keluarga seolah melemparkan tatapan penuh kode tersembunyi pada Elena, dan dibalas wanita itu dengan senyuman.
"Karena kita sudah berada di meja makan semua, lebih baik kita langsung sarapan. Setelah ini, Princess akan mengatakan sesuatu pada kita," jelas Elena.
Semua menurut. Mereka makan dalam diam, tak ada percakapan atau saling melemparkan candaan seperti biasanya. Bahkan Reandra yang jahil, kini lebih memilih diam.
"Ehm, bagaimana kabarmu akhir-akhir ini, Princess?" tanya Bagas Basuwardi membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Aku baik, Ayah." Renjana menjawab jujur. Dia juga bisa merasakan, kalau dirinya seolah berjarak dengan keluarganya yang lain.
"Papi melihatnya tidak seperti itu," tembak Bagas langsung, membuat Renjana menunduk.
"Hal apa yang sebenarnya mengganggumu? Jujurlah, Princess," pinta Bagas memohon.
Renjana menghembuskan napas berat, sebelum mendongak. "Aku...beberapa Minggu yang lalu, tak sengaja bertemu dengan seorang Ibu yang tengah dirawat di rumah sakit kita. Dia menderita gagal ginjal."
"Lalu?" Elena bertanya bingung.
"Bukan itu sebenarnya yang menggangguku. Tapi...wajah Ibu itu yang kurasa familiar di penglihatanku. Aku sudah berusaha bertanya apa kalian mengenal dia, tapi jawaban kalian adalah tidak. Akhirnya, aku mencari tahu sendiri."
Semuanya seketika menegang. Mereka ingat, Renjana pernah menyinggung masalah seorang Ibu yang tengah dirawat di rumah sakit keluarga Basuwardi.
"Kenyataan yang aku ketahui, membuat aku merasa bersalah. Satu yang ingin aku tanyakan ke kalian, kenapa kalian menyembunyikan semuanya dariku?" Renjana menatap mereka satu persatu.
"Ibu itu...adalah istri salah satu sopir pribadi kita dulu kan? Dan sopir itu yang menyelamatkanku dari sebuah kecelakaan. Benar, bukan? Tapi kenapa, kalian tak pernah menyinggung masalah itu, kalau dulu aku pernah membuat nyawa seseorang melayang?" tubuh Renjana bergetar, mengatakan hal itu.
"Bisa-bisanya aku hidup dengan tenang selama ini, padahal aku pernah menjadikan seorang istri menjadi janda. Dan juga, seorang anak menjadi Yatim. Kalian membuatku menjadi sosok jahat, apa kalian sadar akan hal itu?" Air matanya mengalir, karena rasa bersalah itu kembali muncul. Apalagi ia teringat dengan kepasrahan Gumilar dan Ibunya akan takdir Tuhan, bukannya rasa bersalah itu berkurang, malah makin bertambah.
"Princess, bukan seperti itu. Kecelakaan itu...tidak sesederhana yang kau pikirkan." Elena mendekat, memberi pelukan pada puterinya.
"Lalu, kalau kejadiannya tidak sesederhana itu, kenapa kalian malah menyembunyikannya?" tanya Renjana lemah.
__ADS_1
"Baiklah. Papi akan jujur padamu. Ini mungkin sudah waktunya kau mengetahui kejadian kelam beberapa tahun lalu."