
Sejak kesepakatan malam itu, Renjana lebih memilih menyibukkan diri dengan berbagai hal. Dia bingung dengan dirinya sendiri. Jujur, dia tidak menolak apa yang dikatakan oleh Reksa dan juga keluarga mereka. Sejauh ini, dia belum mengerti bagaimana perasaannya pada sahabatnya itu. Mereka terbiasa sejak kecil, Renjana tentu saja menyayangi Reksa. Namun, rasa sayang dalam bentuk yang bagaimana, hal itu yang tak ia pahami.
Renjana lebih sering ke luar rumah, dibanding berdiam diri di dalam rumah seperti dulu. Ia merasa lebih nyaman berada di Restoran miliknya, dari pada menghabiskan waktu di rumahnya. Ia juga meminta pada Reksa agar tidak terlalu sering menghubunginya, agar dia bisa dengan cepat mengetahui apa yang diinginkan hatinya.
Ponsel milik Renjana berbunyi, membuat perhatian gadis yang tengah berkutat dengan laporan pemasukan dan pengeluaran Resto miliknya itu teralihkan. Panggilan dari Gerald, membuat Renjana buru-buru menjawab, takut terjadi sesuatu di Restoran cabang yang diurus pria itu.
“Halo, Rald!” sapa Renjana.
“Halo, Renjana. Bagaimana kabar di sana?” tanya Gerald, membuat Renjana menghembuskan napas lega. Mendengar ucapan Gerald membuat Renjana yakin kalau Gerald dan Restorannya di sana baik-baik saja.
“di sini baik. Kau bagaimana? Nyaman di tempat baru?” balas Renjana bertanya. Terakhir Gerald menelponnya adalah saat pria itu sampai di kota tempat Restoran cabang yang baru dibuka. Jadi, Renjana baru bisa menanyakan bagaimana keadaan pria itu selama di sana sekarang.
“Gila, di sini cuacanya lebih dingin dari pada di situ. Tiap subuh, aku selalu terbangun karena suhunya membuat badanku menggigil.”
“benarkah?” tanya Renjana sedikit tidak percaya. Pasalnya, tempat yang baru itu juga berada di perkotaan.
“tentu saja. Kau akan tahu sendiri ketika kau menginap di sini saat berkunjung nanti.”
__ADS_1
“Bukankah di situ area perkotaan juga?” tanya Renjana.
“Benar. Tapi, meski di sini area perkotaan, tapi belum sepadat di tempat lama. Di sepanjang jalan banyak ditanami pepohonan, dan tempat ini juga dekat dengan perkebunan.” Renjana mengangguk mengerti. Kota tempatnya membangun cabang baru memang bukanlah perkotaan besar.
“Lalu, bagaimana? Kau nyaman di sana? Atau kau ingin kembali ke sini? Kalau kau mau, nanti biar kucarikan seseorang untuk menggantikanmu di sana,” tawar Renjana. Walau bagaimanapun, Gerald adalah sahabat dekatnya. Tak mungkin dia membiarkan sahabatnya merasakan ketidak nyamanan.
“Tak perlu. Aku hanya mengatakan suasana di sini dingin, bukan tempatnya tidak nyaman. Aku senang berada di sini, meski menderita tiap subuh, setidaknya tubuhku selalu dimanjakan dengan kesejukan tempat ini tiap harinya," jelas Gerald.
Renjana menghembuskan napas lega. “syukurlah. Tapi, kalau kau memang merasa tak nyaman, jangan sungkan.”
“astaga, Renjana. Sejak kapan aku sungkan padamu? Bukankah selama ini aku selalu mengatakan apa yang aku inginkan? Jadi, percayalah. Aku benar-benar merasa nyaman di sini.”
“Oh ya, omong-omong, aku sebenarnya menghubungimu karena ingin menyampaikan sesuatu.”
Renjana menautkan alisnya. “apa?”
“ini perihal suruhanmu untuk mencari tahu keluarga si anak baru. Info yang selama ini susah didapatkan, akhirnya bisa ia kantongi juga.”
__ADS_1
Renjana langsung menegang. Entah kenapa, akhir-akhir ini ia malah melupakan sesuatu yang sejak lama membuatnya penasaran.
“benarkah? Apa...benar kecurigaanku, kalau keluarga Bu Arumi ada hubungan dengan keluarga Basuwardi?” tanya Renjana.
“Aku tidak bisa mengatakannya padamu, lebih baik kau membaca informasinya langsung. Aku sudah mengirimkannya melalui email sejak semalam, tapi sepertinya kau belum membukanya. Makanya aku menghubungimu.”
Renjana mengangguk mengerti. "Ah, baiklah. Aku akan memeriksanya. Oh ya, untuk bayarannya akan ku transfer nanti.” Setelah berpamitan, Renjana segera mengakhiri panggilan keduanya dan langsung memeriksa email yang dikirimkan Gerald.
Tangannya terasa gemetar membuka file tersebut, jantungnya juga berdebat keras. Renjana berharap, kenyataan yang akan diketahuinya nanti bukanlah sesuatu buruk.
Nama suami dari Bu Arumi adalah Khairudin. Dia dulunya bekerja sebagai sopir pribadi keluarga Basuwardi. Khairudin meninggal bukan karena kecelakaan biasa saat mengendarai mobil. Tapi karena menyelamatkan satu-satunya puteri keluarga Basuwardi saat gadis kecil itu menyeberang jalan dan hampir ditabrak oleh mobil yang ternyata pengendaranya adalah suruhan saingan bisnis Bagas Basuwardi. Karena tewasnya Khairudin, keluarga Basuwardi akhirnya bertanggung jawab membiayai seluruh keperluan keluarga Khairudin. Termasuk pendidikan anaknya yang masih SMP akan ditanggung hingga menjalani masa perkuliahan. Keluarga Basuwardi akan menghentikan bantuan jika anak dari Khairudin sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap.
Begitulah penjelasan yang dimuat di dalam email tersebut, disertai dengan beberapa foto sebagai bukti. Salah satunya adalah foto Khairudin yang tengah bersama dengan beberapa pekerja di rumah Bagas Basuwardi. Juga ada foto kecelakaan miliknya, dan foto pelaku tabrak lari yang berada di baik jeruji besi mengenakan pakaian tahanan.
Renjana terduduk lemas. Puteri satu-satunya keluarga Basuwardi, itu berarti dirinya bukan? Tapi...kenapa.dia tidak mengingatnya? Keluarganya juga berbohong, mereka mengatakan tak mengenal Bu Arumi. Tapi ternyata, kenyataan di balik ini membuat Renjana syok. Dia pernah menyebabkan orang lain meninggal. Membuat seorang wanita menjadi janda dan seorang anak menjadi yatim. Tapi, dengan bodohnya, dia tidak mengingat sama sekali.
“Kenapa...? Kenapa mereka menyembunyikan semuanya? Kalau begitu, bukankah Bu Arumi juga tahu? Tapi...kenapa dia tidak mengatakan apapun?”
__ADS_1
“Kalau sudah seperti ini, aku harus apa? Aku...ternyata pernah membuat orang lain menderita. Lalu, kenapa aku tak mengingat sedikitpun?"