
Renjana dan Gumilar kini sudah berada di salah satu Supermarket untuk berbelanja bahan kue yang akan ia gunakan besok bersama Bu Arumi. Renjana dengan antusias memilih berbagai bahan dan memasukkannya ke dalam keranjang belanja.
“Renjana, kurasa bahannya sudah ada semua. Kenapa kau malah semakin menambahkan bahan-bahan lain?” tanya Gumilar kebingungan. Pria itu dengan setia mengekor di belakang Renjana sembari mendorong troli yang sudah hampir penuh.
“Ini sekalian saja aku belanja yang lain. Biar nanti saat membuat kue, kita masih memiliki bahan.” Sebenarnya, itu alasan Renjana. Karena bahan yang ia pilih, akan ia berikan pada Bu Arumi, biar wanita itu tidak perlu berbelanja lagi saat akan membuat kue yang ia jual. Kalau Renjana berkata jujur, Gumilar pasti akan menolaknya.
“Baiklaj!” Gumilar mengalah. “Setelah ini, kita akan ke mana lagi?” tanya pria itu kembali.
“Hmm, di rumahmu ada Snack tidak?” balas Renjana bertanya.
“Aku hampir tidak pernah belanja Snack, karena aku jarang makan-makanan seperti itu. Paling, hanya kue kering buatan Ibu yang aku makan saat santai.”
“Ah, kalau begitu, ayo kita ke rak tempat Snack. Aku akan mengajakmu mencoba Snack ini, sembari menonton TV nanti. Aku tahu kue buatan Ibumu sangat enak, tapi sesekali makan makanan luar tidak apa, kan?” Gadis itu menghadap ke arah Gumilar dengan cengirannya, dan dibalas Gumilar dengan anggukan.
“Kau bebas Tuan Puteri,” canda Gumilar.
“Ckk! Jangan berkata seperti itu. Kau sudah seperti tiga Kakaknya saja, selalu mengatakan itu saat aku menginginkan sesuatu.” Bibir Renjana mengerucut, membuat tawa Gumilar mengurai.
“Kau memang seperti tuan Puteri bukan?” balas Gumilar.
__ADS_1
“Hah, sudahlah. Aku capek berdebat denganmu.” Gadis itu kembali berbalik, dan berjalan menuju rak yang terdapat berbagai macam Snack. Tangannya dengan telaten memilih kemudian memasukkan berbagai macam merek makanan ringan itu ke dalam troli yang dibawa Gumilar.
Saat berada di dekat kasir, Renjana tiba-tiba berbalik dan menatap Gumilar. “Gumilar, bisakah aku minta tolong padamu?” tanya gadis itu.
“Mau apa?” tanya Gumilar bingung.
“Tolong ambilkan aku Ice cream, kakiku sudah capek berjalan ke sana ke mari.” Gumilar mengangguk. Renjana tersenyum senang. Ia kemudian mengambil alih troli di tangan Gumilar, dan menyerahkan belanjaannya ke kasir. Matanya sesekali melirik ke arah tempat Ice Cream yang terhalang rak. Takutnya, Gumilar akan segera kembali.
Sebenarnya, menyuruh Gumilar untuk mengambilkannya Ice Cream itu adalah sengaja. Renjana tidak ingin Gumilar membayar belanjaannya yang banyak ini. Bukannya kege-eran, tapi dengan sikap Gumilar yang seperti itu, pasti pria itu tidak akan membiarkan Renjana membayar belanjaannya sendiri.
“Kau kelihatannya sangat bahagia, pasti pengantin baru ya?” pertanyaan kasir membuat Renjana terkejut, kemudian terkekeh pelan.
“Senyummu sedari tadi mengembang terus. Aku juga melihat kalau kau tadi berbelanja dengan suamimu, kan?” ucap si kasir. Mulutnya berbicara namun tangan dan matanya tetap fokus pada hal yang tengah ia kerjakan.
“Astaga!” tawa Renjana kembali berderai. “Kami bukan pengantin baru. Bahkan, kekasih saja bukan. Kami hanya berteman, kau salah paham.” Renjana meralat pemikiran kasir ramah di depannya itu.
“Oh, begitu. Tapi kalian benar-benar terlihat seperti pasangan. Maaf, kalau membuatmu tak nyaman.” Kasir itu meringis, sementara Renjana menggeleng pelan. “Tidak apa. Aku tidak terganggu, hanya saja sedikit merasa lucu dengan anggapanmu.”
Tak berapa lama, Gumilar sampai dan memberikan apa yang diminta Renjana. Setelahnya, pria itu akan mengeluarkan dompet dan membayar jumlah yang disebutkan kasir, namun kalah cepat dengan Renjana.
__ADS_1
Renjana menatap Gumilar yang tengah menyetir. Pria itu sedari tadi hanya diam, membuat Renjana yakin kalau Gumilar marah.
“Gumilar, apa kau marah?” tanya Renjana pelan.
Gumilar tersentak kaget. “Tidak—tidak. Jangan salah paham, aku tidak marah.” Gumilar nampak panik.
“Tapi, sejak dari Kadir tadi kau nampak diam,” kekeh Renjana. “Kau pasti marah!” ujarnya lagi.
“Tidak, Renjana. Aku hanya—aku—Cuma merasa tak nyaman. Biasanya kan, pria yang membayar belanjaan ketika ia bersama seorang wanita. Tapi, aku sadar. Ini kau. Uangmu bahkan sangat banyak, jadi mana mungkin kau mau kubayarkan.”
Renjana terkejut dengan ucapan Gumilar. Sumpah, dia tidak bermaksud membuat pria itu tersinggung. Maksudnya, ini bukan perkara dia memiliki uang yang lebih banyak dari Gumilar, tapi karena dia tidak mungkin membiarkan Gumilar membayar belanjaannya.
“Gumilar, maaf kalau membuatmu tersinggung. Tapi, maksudku bukan seperti itu. Tadi...belanjaanku terlalu banyak, aku akan merasa tak enak jika kau yang membayarkan,” jelas Renjana.
Gumilar hanya diam. “Emm, begini saja. Aku—bagaimana kalau kau mentraktirku kapan-kapan sebagai gantinya tadi?” tawar Renjana.
Gumilar meliriknya sebentar, kemudian kembali fokus ke arah jalanan. “serius kau ingin ku traktir?”
Renjana mengangguk. “Iya. Bagaimana, apa kau setuju? Oh, atau kau sudah berubah pikiran tak mau lagi mentraktirku ya?” tanya Renjana pelan.
__ADS_1
“Tentu saja tidak. Baiklah, kapan-kapan, kau akan kutraktir. Kau bisa memilih apa saja yang kau inginkan. Hajiku darimu sangat besar, sampai-sampai aku bingung mau di kemanakan.” Renjana hanya tertawa mendengar ucapan Gumilar.