
Hari ini, entah tersambar angin apa, Renjana tiba-tiba ingin berkunjung ke Restoran miliknya. Sudah sebulan lebih ia tak pernah berkunjung, hanya memantau dari rumah melalui orang kepercayaannya yang ia minta mengurus di sana.
"Pagi, Bu Renjana!" sapa seorang karyawan saat Renjana masuk ke dalam.
"Pagi!" balas Renjana tak kalah ramah.
Renjana langsung melangkah menaiki anak tangga menuju lantai ke tiga Restoran, di mana ruangannya dan ruangan Gerald--sahabatnya semasa kuliah sekaligus orang yang ia percayakan mengurus Restorannya--berada.
Renjana mengetuk pintu bercat coklat tua itu, dan membukanya setelah mendapat sahutan dari dalam.
"Wow! Setelah sekian purnama, akhirnya pemilik Renjana Resto datang berkunjung juga. Ku pikir, kau sudah melupakan salah satu ladang uangmu ini!" Sambutan Gerald mendapat balasan berupa dengkusan keras dari Renjana.
"Jangan bertingkah lebay, Gerald. Sudah cukup aku menghadapi Kak Reandra dan Pangeran, jangan menambah jumlah orang yang membuatku sakit kepala!" sarkas Renjana.
"Hahaha, baiklah-baiklah! Lama tak bertemu, mulutmu semakin pedas saja." Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah prihatin.
"Oh ya, kapan hari saat kau menelponku, kau bilang akan ada tambahan karyawan. Kapan dia akan masuk?" tanya Gerald setelah mereka mengobrol basa-basi.
"Lebih tepatnya orang yang akan menggantikan posisimu, karena kau akan ku kirim mengurus cabang Resto di kota B!"
"Ah, begitu. Baguslah, kalau kau sudah mendapatkan penggantiku. Aku tadinya khawatir, meninggalkan tempat ini sebelum ada yang mengurusnya. Kuharap, dia bisa dipercaya." Ucapan Gerald dihadiahi tatapan aneh dari Renjana.
"Kau tidak terkejut saat tahu kalau akan ku utus untuk mengurus cabang Resto di kota B?"
Gerald tertawa, "tentu saja tidak! Pikirkan saja, memangnya siapa yang akan mengurus di sana selain aku? Kau mana mau! Iya, kan?"
Renjana mendengus geli, karena yang dikatakan Gerald semuanya benar.
"Kau memang sangat pengertian, Gerald!" sinis Renjana. "Oh ya, dia mungkin akan masuk Minggu depan. Nanti, kau ajari saja dia, karena aku yakin dia orangnya cepat mengerti," ujar Renjana. Gerald pun mengangguk. Tadi, Renjana mendapat kabar dari dokter Revi kalau operasi pencangkokan ginjal Bu Arumi akan dilakukan hari ini. Renjana tentu tak bisa berkunjung langsung ke sana, karena bisa mengundang curiga. Renjana hanya bisa mendoakan dari jauh, semoga operasinya berjalan dengan lancar.
"Oh ya, ini laporan bulanan 'Renjana Resto', sengaja aku tak mengirimkannya melalui email agar kau punya alasan untuk berkunjung ke mari dan mengambilnya langsung," ujar Gerald sembari memberikan map yang terletak di atas meja.
"Ckk! Kau memang bawahan yang luar biasa, Gerald. Bahkan kau sangat senang mempersulit bosmu sendiri," cibir Renjana.
__ADS_1
Tawa Gerald kembali berderai mendengar cibiran Renjana. "Aku hanya membantumu mengatasi penyakit malas gerakmu itu."
"Maka dari itu aku segera mengirimkanmu ke kota B, agar kau tak bisa mengganggu waktu rebahanku lagi."
Usai berbicara dengan Gerald, Renjana beralih menuju ruangannya. Dia akan memeriksa semua laporan di sana.
Ponsel miliknya yang tadi ia letakkan di atas meja menyala, menandakan ada seseorang yang mengiriminya pesan.
+6285xxx
Bu Renjana, terima kasih banyak. Ibu saya saat ini sedang menjalani operasi
Saya akan mengucapkan terima kasih secara langsung nanti, setelah masa pemulihan Ibu saya.
Membaca pesan itu, Renjana langsung tahu siapa pengirimnya. Entah pria itu mendapatkan nomornya dari mana, yang jelas Renjana tersenyum kecil karena berhasil memberikan bantuan padanya.
Ya. Sama-sama. Semoga operasinya berjalan lancar.
Renjana membalas pesan tersebut dengan doa. "Kau benar-benar anak yang berbakti, Gumilar. Semoga Bu Arumi cepat sembuh!" gumam Renjana sembari menatap layar ponselnya.
"Ada apa, Bu Bos? Laporannya ada yang salah?" tanya Gerald kaget karena Renjana membuka pintunya tanpa permisi. Untung saja Gerald tidak sedang dalam posisi aneh-aneh. Lagipula, dia bukan pria seperti itu.
"Aku bahkan baru membaca lembar pertama laporan itu," ujar Renjana.
"Lalu? Ah, aku tahu, laporan memang sesuatu yang sangat membosankan untuk dibaca."
Renjana mendengus, dengan santai ia mendudukkan diri di sofa yang terdapat dalam ruangan itu.
"Aku butuh bantuanmu, ini bukan masalah restoran. Ini bantuan sebagai teman," jelas Renjana.
"What? Seorang putri keluarga Basuwardi meminta bantuan pada rakyat jelata seperti hamba?" Gerald berujar lebay, membuat Renjana berdecak sebal karena ulahnya. Renjana tahu, Gerald sedang mengejeknya.
"Ini hal yang tidak bisa aku mintai bantuan ke salah satu keluargaku. Dan yang aku pikirkan hanya kau, jadi berhenti memasang wajah menyebalkan seperti itu," sungut Renjana.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah! Jadi, kau mau aku membantumu tentang apa? Jangan bilang kau meminjam uang, karena uangku jelas tak akan cukup untuk kebutuhanmu. Bahkan uang itu berasal dari gaji yang kau berikan."
Renjana menatap Gerald tajam. "Astaga, Gerald! Apa mulutmu tak bisa berhenti berceloteh hal tak penting?" Gerald langsung menyengir, mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
"Damai Bu, damai!"
"Apa kau punya kenalan mata-mata?" Renjana langsung memelototi Gerald saat cowok itu akan membuka suara. "Jangan potong omonganku!" peringatnya. Gerald mengangguk.
"Aku ingin mencari tahu sesuatu yang menggangguku akhir-akhir ini. Bertanya pada keluargaku pun percuma, karena mereka tak mau memberitahu." Renjana pernah iseng bertanya pada Reandra, apa pria itu mengenal Bu Arumi. Pria itu menjawab tidak, tapi wajahnya terlibat aneh seperti dokter Revi tempo hari. Sebenarnya, Bu Arumi itu siapa?
Gerald mengangguk mengerti. "Kau tau Mia Andara? Dia salah satu teman seangkatanku saat SMA. Kami juga saat ini berhubungan baik. Aku mungkin bisa meminta bantuannya."
"Mia Andara? Anggota dewan yang cantik itu?" tanya Renjana terkejut. Gerald mengangguk.
"Wow!" ucap Renjana karena tak menyangka.
"Dia pasti memiliki kenalan yang mengerti hal seperti itu." Renjana mengangguk.
"Tapi, Rald. Aku sepertinya tak yakin kalau kalian hanya sebatas teman seangkatan. Apa jangan-jangan dia..."
Gerald mendengus. Renjana memang sangat gampang membaca mimiknya. "Hmm. Kau cukup tahu saja. Aku tidak ingin direpotkan oleh media kalau mengetahui hal ini." Astaga! Renjana kembali menganga. Gerald, sahabatnya memiliki hubungan dengan Mia Andara? Si gadis cantik anggota dewan yang sering diperbincangkan karena parasnya dan usianya yang masih sangat muda.
"Dia juga lebih tua dariku empat tahun. Makanya aku memilih bersembunyi. Jangan sampai ada berita aneh-aneh yang muncul tentang dia." Renjana tersenyum melihat bagaimana tekad Gerald yang ingin melindungi gadisnya.
"Walau terlihat sangat menyebalkan, kau ternyata sangat manis ketika jatuh cinta, Gerald!"
Gerald mendengus, pria itu memilih mengalihkan pembicaraan karena saat ini pipinya terasa memanas akibat perkataan Renjana. Entah itu sebuah pujian atau hinaan, anehnya Gerald malah tersipu. Sial!
"Jadi, hal apa yang ingin kau cari tahu?" tanya Gerald.
Renjana mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tasnya, yang berisi data Bu Arumi yang ia dapatkan dari rumah sakit.
"Mencari tahu tentang wanita ini dan keluarganya. Cari tahu apa mereka pernah punya hubungan dengan keluarga Basuwardi di masa lalu atau tidak. Dan tolong, rahasiakan kalau ini permintaanku."
__ADS_1
Gerald mengangguk mengerti. Ini sulit, karena berhubungan dengan keluarga Basuwardi. Tapi karena yang memintanya salah satu anggota keluarga itu, bagaimana bisa Gerald menolak?