Putri Renjana

Putri Renjana
Delapan Belas


__ADS_3

"aku dengar, kau mempekerjakan orang baru di Renjana Resto." Ucapan Jefry di tengah suasana makan malam, membuat semua mata menatap penuh tanya ke arah Renjana.


"Iya. Aku akan mengirimkan Gerald mengurus cabang yang baru buka, jadi mau tak mau aku harus mengisi posisi Gerald dengan orang baru," jawab Renjana, menyembunyikan fakta sebenarnya.


"Oh ya, kau tau dari mana, kak?" tanya Renjana pada Jefry.


"Kau lupa, siapa kakakmu ini?" balas Jefry, membuat Renjana mengangguk maklum.


"Kau yakin langsung menjadikan dia pengganti Gerald? Apa itu tidak berbahaya? Ayolah, Princess. Dia adalah orang baru, dan kau memberikannya kepercayaan begitu mudah?"


Renjana menghembuskan napas berat. Sejujurnya, menjawab pertanyaan kakaknya itu sedikit berat. Terlebih yang bertanya adalah Jefry. Selain sering bermanja pada kakak sulungnya, Renjana juga takut akan kemarahan pria itu.


"Ayolah, Jef! Biarkan adikmu mengambil keputusan, dia pasti tahu sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Apalagi ini masalah Restorannya, kita tidak perlu terlalu mencampuri. Berikan dia kebebasan." Nasehat dari Bagas akhirnya menyelamatkan Renjana dari pertanyaan maut sang kakak.


"Ah, Papi benar Kak Jef. Lagipula, Princess kita sudah dewasa, iya kan?" Jendra ikut membela, karena merasa Jefry seolah menyudutkan Renjana. Dia juga tentu sama khawatirnya dengan Jefry, namun ia punya cara lain untuk menyelidiki siapa pria itu. Renjana yang mengambil keputusan tanpa mengatakan terlebih dahulu pada mereka jelas sudah terasa janggal. Ia yakin, ada sesuatu yang adik bungsunya itu sembunyikan. Namun jika bertanya secara terang-terangan seperti yang dilakukan Jefry, pasti Renjana tak akan mengaku.


"Kalian ini, makanlah! Tidak baik membicarakan masalah bisnis saat makan!" Perkataan Elena akhirnya mampu mencairkan suasana. Dan Renjana semakin merasa terselamatkan.


Sebelum ini, setiap mengambil keputusan pasti ia selalu merundingkan dengan keluarganya. Tapi kali ini, ia tidak melakukan hal serupa, dan berakhir membuat keluarganya menaruh curiga.


Selepas makan malam, Renjana langsung beranjak menuju kamarnya. Ia menghindar berkumpul di ruang keluarga, takut mereka kembali membahas tentang seseorang yang akan ia suruh menggantikan Gerald di Restoran miliknya.


Ponsel Renjana bergetar, sebuah pesan dari dokter Revi terpampang di layarnya.


Dokter Revi

__ADS_1


Operasi berjalan lancar. Respon tubuh Bu Arumi juga bagus untuk ginjal baru. Semua aman terkendali


Renjana menghembuskan napas lega. Baguslah, usahanya membantu Bu Arumi ternyata tak sia-sia. Jika ada waktu luang, Renjana akan berusaha pergi diam-diam untuk menemui Bu Arumi secara langsung untuk mengucapkan selamat.


Renjana berbaring dengan posisi terlentang, matanya menatap ke atas langit-langit kamar. Senyuman Bu Arumi tiba-tiba terlintas kembali di pikirannya. Kenapa ia merasa sangat familiar?


Gerald bilang, dia akan menemui sang pacar besok. Semoga saja Gerald berhasil meminta tolong pada si anggota dewan untuk memberinya satu orang mata-mata yang terpercaya.


...***...


Seminggu telah berlalu, hari ini Renjana mendapat kabar dari Gerald kalau seorang pria datang menemuinya di Restoran dan mengaku sebagai pria yang dipercayai oleh Renjana untuk menggantikannya. Karena hal itu, di sinilah Renjana sekarang, berdiri di depan pintu ruangan Gerald yang tertutup.


Mengetuk beberapa kali, gadis itu membukanya dan langsung masuk ke dalam. Ia dapat melihat, seorang pria duduk berhadapan dengan Gerald, dan membelakangi pintu. Pria itu berbalik saat mendengar suara langkah kaki, dan langsung berdiri dan menunduk berkali-kali ke arah Renjana sebagai sapaan hormat.


"Pagi Pak Gumilar. Oh, ya! Tidak perlu sampai seperti itu, Pak Gumilar. Apa kau tidak melihat, Gerald tetap duduk dengan santai di tempatnya?"


Gerald terkekeh pelan mendengar ucapan Renjana, sementara Gumilar tersenyum kikuk. Ia merasa tak ada yang berlebihan dari hal yang baru saja dilakukannya. Renjana pantas mendapat penghormatan seperti itu dari dia, jadi bagian mananya yang salah?


"Kau tau Renjana, tadi aku sempat berpikir, kau mendapatkan sosok robot di mana? Untuk ukuran seorang manusia, dia terlalu kaku. Bahkan, dia tadi melakukan hal yang sama padaku." Gerald berujar seraya tertawa, dan mendapat sambutan keterkejutan dari Renjana.


"Benar kau memberi hormat juga pada Gerald seperti tadi?" tanya Renjana. Gumilar mengangguk kaku, membuat Renjana menggelengkan kepalanya pelan. "Dengar, Pak Gumilar. Kau tidak perlu berlaku terlalu formal seperti itu. Aku tidak suka suasana kerja yang kaku, karena itu akan membuat kecanggungan. Jadi, berusahalah santai. Kau mengerti?"


Gumilar mengangguk pelan, meski tak berjanji akan berlaku santai. Ia terbiasa seperti ini. Berdiri di hadapan dua orang yang strata sosialnya lebih tinggi dari dia membuat Gumilar canggung. Terlebih, mereka adalah atasannya.


Renjana mengambil tempat duduk di samping kursi Gumilar tadi. Sementara Gumilar, tetap setia berdiri. Rasanya sangat canggung, jika harus duduk berdampingan dengan Renjana.

__ADS_1


"Pak Gumilar, duduklah! Masih banyak hal yang akan kita bahas, dan kakimu pasti akan kesemutan jika tetap berdiri sampai pembahasan selesai." Renjana menghembuskan napas kasar, menyadari Gumilar yang  tak kunjung duduk di kursinya.


"Ah...baik, Bu!" Dengan kikuk, Gumilar kembali duduk di tempatnya tadi. Sementara Gerald yang melihat hal tersebut, menggelengkan kepalanya pelan. Astaga, pasti Renjana akan cepat merasa bosan bekerja dengan pria kaku ini nantinya.


"Apa kau sudah menanda tangani kontrak kerja?" tanya Renjana, dan dijawab Gumilar dengan gelengan kepala.


"Aku sengaja menunggumu terlebih dahulu, agar dia menanda tangani kontraknya dengan disaksikan olehmu," ujar Gerald. Renjana mengangguk mengerti.


"Ini kontrak kerjanya!" Gerald menyerahkan sebuah map ke arah Gumilar, dan disambut oleh pria itu. Membaca deretan kalimat yang ada di dalamnya, Gumilar kemudian mengambil pulpen dan tanpa ragu membubuhkan tanda tangan di sana.


"Kau yakin sudah membaca semua kontrak kerjanya? Kau bisa meminta pertimbangan jika ada sesuatu yang tak sesuai dengan keinginanmu di sana!" ujar Renjana.


Gumilar menggeleng dan memberikan senyuman tipis pada Renjana. "Tidak ada yang merugikan saya di sana. Saya yakin, Ibu Renjana tidak mungkin memanfaatkan pria biasa seperti saya. Benar, kan?" Pertanyaan Gumilar langsung diangguki oleh Gerald. Dia setuju dengan pria itu. Bahkan, Gerald rasa malah Gumilar lah yang paling banyak diuntungkan.


"Bagus kalau begitu!"


"Gerald, kau silahkan ajari pekerjaanmu selama di sini. Dan Pak Gumilar, kau tidak harus setiap waktu berada di Restoran ini karena kau memiliki kesibukan lain. Jadi aku memaklumi hal itu. Setidaknya, sehari kau bisa menyempatkan tiga jam untuk kau habiskan mengontrol Restoran ini."


"Baik, Bu!"


"Siap, bos!"


Gumilar dan Gerald menjawab bersamaan.


"Gerald, setelah ini kau segera menyusul ke ruanganku. Ada sesuatu yang akan aku bicarakan denganmu. Sebelum itu, berikan dia beberapa berkas untuk ia pelajari," ujar Renjana sebelum berpamitan untuk keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2