
Usai mengunjungi rumah Bu Arumi, Renjana kembali ke rumah. Reksa tadi menghubunginya, pria itu sudah berada di rumahnya. Reksa merengek ingin menghabiskan waktu berdua dengan Renjana. Maklum saja, karena kesibukannya sebelum ini mereka jarang bersama. Kini, karena dia sudah resmi hengkang dari dunia selebriti, dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Renjana.
"Kau dari mana saja? Akhir-akhir ini kudengar kau sering pergi ke luar? Biasanya, kau lebih senang berdiam diri di dalam rumah." Reksa yang cerewet membuat Renjana mendengus sebal.
"Aku mengurung diri di rumah selalu mendapatkan protes dari kalian semua kecuali Papi dan Kak Jef, dan sekarang saat aku sering keluar rumah, kalian protes juga. Ah, menjadi aku memang selalu saja salah." Renjana berujar dengan memasang raut tersakiti, membuat Reksa tertawa kencang. Hal seperti inilah yang sering ia rindukan dari Renjananya.
"Aku hanya sekedar bertanya Putri. Apa salah kalau aku ingin mengetahui kegiatanmu akhir-akhir ini? hmm?" Reksa mengangkat alisnya, bertanya.
"Ah, tentu saja tidak," jawab Renjana. Ia kemudian mendudukkan diri di samping Reksa, dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Reksa reflek mengelus lembur rambut Renjana.
"Aku hanya bosan berada di rumah terus. Seringnya aku ke luar hanya mengunjungi Cafe, karena mengurus persiapan pemindahan Gerald ke cabang baru."
Untung saja Reksa percaya, dan Renjana begitu bersyukur akan hal itu.
"Ah, aku begitu merindukanmu. Gara-gara kesibukanku menyelesaikan syuting terakhir aku jadi jarang menghabiskan waktu denganmu." Gumaman Reksa dijawab Renjana dengan senyuman lebar. Ia menatap wajah Reksa, dan menangkup wajah pria itu dengan kedua tangan kecilnya.
__ADS_1
"Ah, Pangeranku memang sangat manis. Aku juga begitu merindukanmu." Mereka kemudian tertawa bersama.
"Ehem-ehem, kalau ketemu dunia layaknya milik berdua saja. Yang lainnya hanya mahluk tak kasat mata." Ejekan itu berasal dari Reandra yang baru saja datang. Pria dengan setelan rapi khas kantor itu melangkah mendekat ke arah sofa yang diduduki Renjana dan Reksa. Pria itu kemudian duduk di samping Reksa.
"Cepatlah bergerak, aku merasa target mulai tertarik dengan umpan lain," bisik Reandra di telinga Reksa. Pria itu takut Renjana mendengar ucapannya.
Reksa langsung menegang. Ia melihat ke arah Reandra dan kemudian menatap Renjana setelahnya.
"Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Renjana kebingungan. "Kakak, apa yang kau katakan pada Pangeran? Kau jangan jahil!" peringat Renjana.
"Aku tak mengatakan apapun, Putri. Kau terlalu mencurigaiku," elak Reandra.
"Aku tak percaya!" balas Renjana tak mau kalah. Dia yakin, pasti Reandra mengatakan sesuatu pada Reksa sehingga pria itu masih tetap menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Kakaknya itu sangat jahil, jadi Renjana tidak akan percaya begitu saja ucapannya.
"Astaga! Kau memang adik durhaka. Bisa-bisanya kau menuduh Kakakmu dengan tuduhan keji!" Reandra memasang ekspresi nelangsa, namun bukannya berhenti Renjana, malah makin curiga.
__ADS_1
"Benar, Putri. Dia tidak mengatakan hal aneh. Dia hanya mengatakan kalau kau semakin cantik, dan aku pasti menyesal karena tak menemuimu akhir-akhir ini. Makanya aku menatapmu, dan ternyata ucapan Reandra benar." Reksa membela Reandra. Renjana yang mendengar ucapan Reksa akhirnya bernapas lega.
"Syukurlah. Eh, tapi...mana mungkin Kak Reandra memujiku tiba-tiba?" Reandra yang merasa posisinya dalam bahaya langsung melarikan diri. Renjana yang akan bertanya langsung pada kakaknya hanya mampu mendengus, karena sudah tak menemui keberadaan kakak ke-tiganya itu.
"Putri, jika ada seorang pria yang datang mendekatimu dan membuatmu terkesan. Jika diberikan pilihan untuk memilih antara aku dan dia, kau akan memilih siapa?"
Renjana tersentak, kaget karena Reksa tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?" tanya Renjana. Matanya memicing curiga, kini dia semakin yakin kalau Reandra mengatakan hal aneh-aneh pada Reksa.
"Tidak ada. Aku hanya memikirkan bisa saja kemungkinan seperti itu akan terjadi antara kita, bukan?"
Renjana tersenyum. Dengan tegas ia akhirnya berkata, "aku akan memilihmu, Pangeranku. Karena sejak dulu, seorang Putri tetap milik Pangeran bukan?" jawaban Renjana sontak membuat Reksa tersenyum lega. Dengan cepat, ia membawa Renjana ke dalam pelukannya, dan memberi kecupan di puncak kepala gadis itu berkali-kali.
"Syukurlah. Sudah kuduga, kau tak akan pernah melupakan keberadaanku meski ada orang baru." dan gumaman Reksa yang didengar jelas oleh Renjana kini semakin menimbulkan tanya di benaknya.
__ADS_1