Putri Renjana

Putri Renjana
Enam Belas


__ADS_3

Malam ini, kediaman Basuwardi terlihat sangat ramai. Lebih tepatnya di taman belakang rumah keluarga Basuwardi, tengah diadakan acara barbeque.


Di sana terdapat Bagas, Elena, Jefry, Jendra, Reandra, Renjana, Reksa, Fathan, Selvi, dan Rania. Acara itu diadakan untuk merayakan keberhasilan Reandra karena memenangkan tender bernilai milyaran rupiah.


Renjana saat ini duduk di samping Reksa yang tengah memangku gitarnya. Pria itu memang hanya tiga hari menginap di rumah sakit, dan setelah sudah diperbolehkan untuk pulang. Kini, kedua orang itu tengah memperhatikan Reandra yang sedang berdebat dengan Rania. Dua manusia itu kalau sudah bertemu pasti akan adu mulut. Semua mereka jadikan bahan debat, bahkan hal yang tak penting sekalipun.


"Sudah kubilang, kau harus adil membakarnya. Lihatlah, sebelah jagung itu terlihat menghitam, sementara yang satunya tidak. Seharusnya jika sebelah hitam, yang sebelahnya juga harus hitam agar adil." Itu suara Reandra. Pria itu tengah menunjuk jagung yang baru saja diangkat oleh Rania. Jagung itu memang terlihat menghitam sebelah karena terlambat dibalik.


"Reandra, entah bagaimana kau bisa memenangkan tender itu, aku jadi kebingungan. Orang gila mana yang membakar jagung sudah hangus sebelah, malah membiarkan yang sebelahnya lagi ikutan hangus? Hah?" Renjana dan Reksa terkekeh mendengar balasan Rania. Tapi mereka heran, sudah tahu ucapan Reandra tak masuk akal, gadis itu masih juga mau meladeni.


"Itu tidak bisa dikategorikan gila, Rania. Itu keadilan. Keadilan itu dimulai dari hal-hal kecil. Negara kita ini sudah kekurangan orang yang mengerti makna adil, kau jangan menambah daftarnya lagi!"


Rania mengepalkan tangannya, dan memperlihatkannya pada Reandra. "Berhenti mengatakan hal tak masuk akal seperti itu, atau tinjuku akan melayang ke wajahmu," ujar Rania jengah.

__ADS_1


Reandra yang mendapatkan ancaman sontak langsung mengulum bibirnya, dengan ekspresi tertekan. Jangan sampai dia yang merupakan tuan acara malah babak belur karena gadis bertulang pria di sampingnya ini.


Merasa bosan berdiam diri di tempatnya, Reandra memilih mendekati Renjana dan Reksa yang tengah asik menertawakannya. Dua manusia itu benar-benar sangat suka melihatnya ditindas oleh Rania.


Pria itu mengambil alih gitar di pangkuan Reksa, dan kemudian mulai memetiknya dengan nada random. Wajahnya ditekuk, kentara sekali ekspresinya sangat bosan.


"Kau yang memiliki acara, tapi kenapa wajah yang kau pasang seperti itu bentukannya?" cibir Renjana.


"Bentuk wajahmu kan banyak. Ada bentuk monyet, bentuk Kukang, dan yang paling sering kau pasang bentukan buaya," ucap Renjana santai. Mendengar hal itu, Reksa langsung terbahak. Astaga, sahabatnya ini benar-benar suka bersifat menyebalkan ketika berhadapan dengan Reandra.


"Princess, kau mau dicap jadi adik durhaka? Mau ku kutuk jadi batu?" ancam Reandra.


Renjana mengangkat bahunya tak acuh. "Coba saja. Lagipula, yang kutahu memiliki wewenang mengutuk itu seorang Ibu, bukan seorang Kakak. Apalagi bentukan Kakaknya kaya kau. Bisa-bisa, kutukannya malah berbalik padamu!"

__ADS_1


Reksa kembali terbahak mendengar ucapan Renjana itu. Sementara wajah Reandra semakin masam saja. Astaga, Rania dan Renjana memang sangat kompak jika untuk membuat moodnya buruk.


"Diamlah Pangeran Antareksa, atau restuku untukmu akan kucabut. Biar kucari kandidat lain yang mau berdiri siaga di sampingku ketika melawan Renjana!" Reandra yang jengah mendengar tawa Reksa akhirnya mengeluarkan ancaman mautnya.


Tawa Reksa sontak terhenti. "Ah, kau benar-benar sangat menyebalkan. Ancamanmu selalu itu-itu saja. Lagipula, kau akan mendapatkan kandidat di mana yang melebihi kualitasku?" cibir Reksa sekaligus menyombongkan dirinya.


"Ckk, di atas langit masih ada langit. Lagipula, tak semua orang suka memandang langit. Banyak orang yang lebih suka menunduk dan menatap rumput hijau yang tumbuh di atas tanah."


"Ah, kata-katamu boleh juga. Terdengar sangat bijak, meskipun aku tak tahu kenapa kau mengucapkan hal itu pada Pangeran." Renjana bersuara membuat Reandra dan Reksa menghembuskan napas kasar secara bersamaan.


"Ah, sudahlah Princess. Peribahasa kau sangat cepat mengerti, giliran masalah perasaan, otakmu mendadak lemot seperti jaringan 3G." Reandra yang jengah akan ketidak pekaan adiknya itu langsung berdiri, memilih menghampiri yang lain.


"Astaga, kenapa kakakku yang satu itu sikapnya sangat aneh?" gumam Renjana sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2