
Renjana mengikuti langkah pria yang baru saja ia ketahui bernama Gumilar itu memasuki ruangan Ibunya.
Wanita yang tengah terbaring lemah di atas ranjang itu menoleh ketika mendengar suara pintu yang dibuka dari luar.
"Gumi, kau sudah kembali, nak?"
Gumilar menghampiri sang ibu. "Iya, Bu."
"Oh ya, siapa itu di belakangmu?" Arumi bertanya ingin tahu, ketika melihat seorang gadis berjalan menunduk di belakang putranya.
"Ah, kenalkan Bu. Ini Bu Renjana. Ayahnya pemilik sekolah tempat Gumi bekerja." Gumi berpindah ke arah kiri sang Ibu, memberi Renjana ruang untuk memperkenalkan diri secara langsung.
"Renjana, Bu." Renjana menjabat tangan ibu dari Gumilar itu, dan menyalaminya.
"Arumi, mamanya Gumi. Maaf ya Non, Ibu tidak bisa bangun untuk menyambut kedatanganmu karena tubuh Ibu terlalu lemah," ujar Arumi merasa bersalah.
"Ah, tak apa Bu Arumi. Seharusnya aku yang minta maaf, karena datang berkunjung tak membawa apa-apa sebagai buah tangan."
Bu Arumi menggeleng. "Jangan bilang begitu, Non. Kedatangan Non ke sini saja, sudah sangat luar biasa bagiku."
Renjana tersenyum kecil. "Ibu terlalu berlebihan. Dan lagi, Ibu cukup panggil aku dengan sebutan Renjana saja. Jangan Nona."
"Tapi kan..."
"Ini permintaanku, Bu. Biar kita tidak terlalu canggung." Bu Arumi akhirnya mengangguk.
"Oh ya, bagaimana bisa Renjana di sini?" tanya Bu Arumi ingin tahu.
"Aku kebetulan lagi menjaga teman juga di sini. Dan tanpa disangka bertemu dengan Pak Gumilar yang sedang makan di kantin. Saat tahu kalau Ibunya dirawat di sini, aku akhirnya meminta izin untuk menjenguk."
__ADS_1
"Ternyata benar kata orang-orang. Meskipun dari keluarga kaya, keluarga Basuwardi benar-benar baik tak pilih-pilih," ujar Bu Arumi.
"Terima kasih, Bu. Tapi, aku rasa ungkapan itu terlalu berlebihan. Sudah sepantasnya kan, kita memperlakukan orang lain dengan baik."
Bu Arumi tersenyum, kemudian mengangguk setuju dengan ucapan Renjana.
Asik berbincang, Renjana tiba-tiba jadi teringat Reksa. Astaga, dia sudah meninggalkan pria itu terlalu lama.
"Bu, aku pamit dulu, ya. Aku sudah meninggalkan ruangan temanku terlalu lama, takut dia sudah bangun dan kebingungan karena aku tak berada di sana."
"Iya. Terima kasih, atas kunjungan Renjana ke sini." Renjana mengangguk kecil. Ia kemudian kembali menyalami tangan Bu Arumi.
"Antarkan Renjana ke depan, Nak!" perintah Bu Arumi pada Gumilar yang sedari tadi hanya duduk diam di sofa, memperhatikan perbincangan Ibu dan anak dari pemilik sekolah tempatnya bekerja itu.
"Baik, Bu."
"Oh ya, Bu. Lain kali, aku akan datang berkunjung lagi. Bisa kan?" Sebelum mencapai pintu, Renjana berbalik dan melayangkan pertanyaan pada Bu Arumi.
Renjana memilin kedua tangannya dalam diam setelah keluar dari ruangan Bu Arumi. Ia memikirkan sesuatu, tapi ia takut mengungkapkannya pada Gumilar, karena takut pria itu tersinggung. Tapi, melihat keadaan Bu Arumi tadi, Renjana jadi tak tega.
"Pak Gumilar." Panggilan dari Renjana membuat Gumilar menoleh pada gadis di sampingnya itu. Keduanya kini tengah berdiri di depan ruangan Bu Arumi, dengan pintu ruangan yang sudah tertutup.
"Kalau seandainya Bu Arumi mendapat pendonor ginjal saat ini, apa yang akan Pak Gumilar lakukan?" tanya Renjana ragu.
"Aku...aku akan berusaha mencari dana untuk operasi, bagaimanapun caranya. Demi kesembuhan Ibuku," ujar Gumilar tanpa ragu.
"Bagaimana kalau aku bantu mencari pendonor dan juga biaya untuk operasi?"
Gumilar terkejut akan perkataan Renjana. "Maaf, Bu Renjana. Tapi, itu tidak perlu. Ibuku adalah tanggung jawabku. Jadi, Ibu Renjana tidak perlu repot-repot membantuku."
__ADS_1
Renjana terlihat tak terima dengan ucapan Gumilar. Dia sudah tahu, pria itu pasti akan menolak. Tapi, dia tidak akan kehabisan cara.
"Aku tahu. Memangnya, siapa yang mengatakan Ibumu tanggung jawabku? Aku hanya ingin membantu. Jujur, aku tak tega melihat kondisi Bu Arumi. Dia hampir seumuran Ibuku, jadi ketika melihatnya aku langsung teringat pada Ibuku."
"Aku tahu maksud Bu Renjana baik. Tapi, aku tetap menolak tawaran Ibu. Aku tidak ingin terkesan memanfaatkan Ibu. Kita tidak terlalu mengenal, bahkan kita bertemu baru dua kali. Akan sangat tidak pantas jika aku menerima bantuan dari orang asing, apalagi Ibu adalah anak dari pemilik yayasan yang selama ini menjadi tempatku mencari nafkah," ujar Gumilar lembut.
"Kau tidak memanfaatkan siapapun. Aku benar-benar ingin membantu. Kau tadi bilang, akan melakukan apapun, dan aku menawarimu bantuan." Gumilar terdiam mendengar ucapan Renjana. Hatinya mulai ragu. Apa ia harus menolak kesempatan ini? Tapi, bukankah dirinya terlihat seperti orang tidak tahu diri, yang memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya?
"Pak Gumilar, lihatlah kondisi Bu Arumi. Aku memohon padamu, jangan egois. Aku murni ingin membantumu."
Gumilar menghembuskan napas kasar. "Jika aku menerima tawaran Bu Renjana, apa yang harus aku lakukan sebagai balasan?" Gumilar akhirnya goyah. Rasa sayangnya pada sang Ibu, mengikis harga dirinya yang tinggi.
"Kau tak perlu melakukan apapun. Karena aku murni ingin menolong. Bahkan bisa dikatakan, aku tidak menolongmu. Tapi menolong Bu Arumi. Dia wanita kuat, dan baik. Sudah cukup dia menderita penyakit itu selama ini, anggap saja aku sebagai perantara kesembuhannya."
Gumilar menatap tak percaya pada Renjana. Bagaimana mungkin, gadis ini berpikiran seperti itu? Renjana terlalu lugu. Apa dia tidak takut, jika orang di luar sana memanfaatkan kebaikannya?
"Aku akan menerima tawaran Ibu, dengan syarat aku akan mengganti semua uang Ibu nanti. Tapi dengan cara...dicicil. Kalau Ibu tidak keberatan, aku juga akan setuju."
Renjana berpikir sejenak. Ia bersumpah, benar-benar tulus membantu pemuda ini. Lebih tepatnya, Ibu dari pemuda ini.
"Baiklah. Tapi bukan dengan cara mengganti. Kau hanya perlu mengurus salah satu Restoran milikku yang terletak tidak jauh dari CIC. Kau bisa mengunjunginya di waktu luang, atau di malam hari. Aku akan memberikan gaji padamu juga sebagaimana semestinya. Nanti, separuh gajimu setorkan ke aku, dan separuhnya untuk biaya hidupmu dengan Bu Arumi. Jadi, gajimu bekerja di Sekolah akan tetap aman. Bagaimana?"
Gumilar menggeleng. "Itu terdengar menguntungkan di pihakku saja."
Renjana mendengus pelan, pria di depannya ini benar-benar keras kepala. "Tidak, itu sepadan. Ayolah, ini demi Ibumu. Aku juga diuntungkan, karena yakin kau tak mungkin menghianati kepercayaanku saat bekerja di sana. Karena mencari karyawan jujur itu sangat susah. Terlebih untuk posisi yang tinggi. Dengan semua halyang sudah kulakukan padamu, kau pasti akan menjaga amanahku. Iya, kan?"
Gumilar memejamkan matanya. Demi sang Ibu, akhirnya pria itu mengangguk.
"Ah, kau memang anak yang berbakti Pak Gumilar. Baiklah, nanti akan kukabari jika aku sudah menemukan pendonornya. Aku pamit dulu kalau begitu."
__ADS_1
"Aku akan mengantarkan Ibu."
Renjana menggeleng. "tidak perlu. Kau jaga saja Ibumu. Aku tidak akan tersesat di tempat ini, jadi kau tenang saja." Tanpa mempedulikan balasan Gumilar, Renjana melangkah pergi dari sana.