
'Kehadiranmu sangat berarti untukku.'
Tekan 🌟 sebelum membaca
***
Garis senyum terus terukir di bibir pria berkulit pucat yang sedang asik men-drible bola basketnya. Di mana, dia hari ini memilih untuk berlatih, di karenakan kemaren dia tidak sempat melanjutkan latihannya. Walau hanya ia sendiri yang berlatih, tidak menyurutkan senyum di wajah pria itu hilang. Semangatnya untuk berlatih basket sangat kuat, mungkin hatinya saat ini sedang dalam keadaan baik.
Sang kapten team yang baru saja datang memandang heran ke pria itu. Bagaimana mungkin dalam sehari gaya bermain pria tersebut sudah kembali seperti biasanya, tapi ia juga senang melihat pria itu sudah kembali.
Namjoon masih setia mengamati permainan pria itu. Kakinya mambawa melangkah untuk menghampirinya.
"Yoongi-ah," panggil Namjoon. Dia nampak terkejut melihat Yoongi kali ini. Senyum manis terukir indah dibibirnya. Oh good! Walau mereka memang teman dekat, sangat jarang Yoongi menunjukan senyum secerah itu.
Kali ini apa yang membuat Yoongi mau mengumbar tersenyumnya?
"Ada apa, namjoon-ah?"
lebih tak menyangka lagi, Yoongi menanggapinya. Biasanya dia hanya akan menampilkan raut wajah datar, sampai-sampai Namjoon tercengah melihat perubahan Yoongi. Apa kemaren dia habis saja terbentur dinding sehingga membuatnya menjadi seperti itu atau ada kejadian lain.
Apa benar yang ada di hadapannya saat ini adalah Min Yoongi? Yang dulu selalu memperlihatkan wajah sedingin es kutub utara dan sekarang------ ah, Namjoon tak tahu.
"Apa kau sehat?"
Namjoon menempelkan telapak tangannya di dahi Yoongi, memastikan pria itu dalam keadaan baik-baik saja. Dan benar, pria itu sehat.
Namjoon menarik tangannya kembali dan memandang pria itu sekali lagi. Yoongi, masih menunjukan senyumnya, jika ini terus dipikirkan, akan membuat Namjoon semakin gila.
"Kenapa Namjoon-ah?" tanya Yoongi, sorot matanya bergerak kebelakang, seperti sedang mencari sesuatu. Ia kembali berujar. "Kenapa kau sendiri, kemana yang lain? Apa mereka tidak ikut latihan? Sedari tadi aku menunggu kalian di sini."
biarkan Namjoon gila untuk sekarang. Ini pertama kali bagi Namjoon melihat pria di hadapannya berbicara sangat panjang dengannya. Boleh kah Namjoon memukul kepala Yoongi? Hanya untuk memastikan bahwa pria ini benar-benar sehat. Tapi, itu semua tidak mungkin di lakukan olehnya, dia tak mau mati di tangan Yoongi.
***
"Sohyun~ie maaf'kan aku,"
Pria dengan bentuk tubuh pendek terus mengikuti kemana gadis Kim itu pergi, hanya untuk mendapatkan permintaan maaf darinya. Sudah ke berapa kali pria Park itu memintak maaf, tapi tak di gubrisnya. Ia masih setia mengikuti kemana gadis Kim pergi. Ini mungkin kesalahannya, tapi ia terus mencoba untuk membuat gadis Kim itu mau memaafkannya.
"Sohyun~ie,"
Masih pria bermarga Park yang memanggilnya. Sedangkan Sohyun, dia terus melanjutkan langkahnya, tidak mempedulikan pria pendek itu memanggil namanya. Bagi Sohyun, pria itu harus di beri pelajaran.
Sekarang, yang harus di lakukan adalah pergi menuju ke lapangan. Sungguh, saat ini ia tidak mau bertemu dengan Yoongi. Kejadian kemaren masih teringat jelas di kepalanya. Ia belum bisa melupakan bagaimana Yoongi mengungkapkan perasaannya.
Tapi ia harus menemuinya demi permintaan sahabatnya. Kalau bukan karena sahabatnya, ia tidak ingin bertemu dulu dengan pemuda Min itu.
"Sohyun masih belum mau berbicara denganmu, Oppa?" tanya Rose yang sedari tadi mengikuti mereka.
"Apa kau tidak lihat." ujar Jimin yang masih setia mengikuti Sohyun pergi, ia mengusap wajahnya, kenapa begitu sulit merayu Sohyun agar mau memaafkannya.
"Ini semua salah Oppa. Kau menginap di apartementnya tanpa sepengetahuan darinya, dan juga----- Apa kau menganggapnya sebagai asistenmu? Kau menyuruhnya untuk ikut pergi ke apartement mu dengan mobilnya. Hanya untuk menemanimu berganti baju. Apa Oppa gila?!"
Jimin hanya berdecis tak terima bahwa yang di salahkan hanya dirinya. Ini bukan sepenuh salahnya, ia juga sudah berusaha untuk bicara dengan Sohyun. Tapi, Sohyun mengabaikannya, melirik ke arahnya pun tidak.
"Kau tak membantu sama sekali. Dia juga salah kenapa menga-"
"Selain bantet, Oppa juga bodoh. Bagaimana mungkin Oppa menyalahkannya? Wajar saja jika dia tidak peka bahwa oppa menyuka-"
Jimin langsung membekap mulut Rose dengan tanganya. Ini yang di takutkan. Kalau Rose sudah bicara, ia tidak melihat dimana dirinya beranda. Jika Rose bukan adiknya, mungkin saja Jimin akan memukul orang ini.
__ADS_1
"Kecilkan suaramu. Bagaimana jika Sohyun dengar hah!"
Rose menepis tangan Jimin. "Oppa benar-benar bodoh. Bagaimana Sohyun bisa dengar? Dia sudah menjauh." Rose menggeleng-gelengkan kepalanya.
Jimin yang melihat tidak ada Sohyun di hadapannya segara berlari mencarinya. Ia tahu bahwa Sohyun akan pergi ke lapangan, karena ia sempat mendengar pembicaraan Sohyun dengan Jisoo di ruangan tadi.
***
Sohyun tersenyum, melihat keberadaan Jungkook di lapangan, ia langkahkan kakinya untuk mendekat, tapi manik nya menatap gerak gerik Jungkook yang tanpa tidak sehat hari ini. Mata Jungkook seperti mata panda. Apa pemuda itu tidak tidur semalaman sehingga matanya seperti itu.
"Kookie. Kau baik-baik saja?"
Entah kenapa Sohyun merasa mengkhawatirkan dengan keadaan Jungkook. Ia menempelkan telapak tangannya di dahi Jungkook memastikan pemuda itu sehat.
"Kenapa dengan matamu?"
Masih Sohyun yang bertanya keadaannya. Jungkook tidak bergemih sama sekali. Dia menjatuhkan kepalanya di pundak Sohyun. Memejamkan matanya sesaat, menghirup aroma parfum milik Sohyun yang dapat membuatnya merasa nyaman.
"Ini semua gara-gara si alien itu. Sohyun~ie izinkan aku seperti ini, Aku butuh istirahat sebentar." lirih Jungkook dengan rengekan kecil. Dan kenapa setiap Jungkook bertingkah seperti ini Sohyun tidak menolaknya.
"Eoh.... Tidurlah." ucap Sohyun dengan menepuk-nepuk punggung Jungkook. Ia membiarkan Jungkook untuk tertidur, kalau kita lihat dari ke jauhan, posisi Jungkook saat ini seperti sedang memeluk Sohyun, sebab tangannya melingkar di pinggang ramping milik Sohyun.
"Soh-"
Langkah Jimin terhenti, ia juga tidak dapat melanjutkan ucapannya, melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini, membuat dadanya terasa sesak.
Menghembuskan nafasnya secara kasar. Ia menghampiri Sohyun dan mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja.
"Yak! Apa yang kalian lakukan?" tegur Jimin memandang ke dua pasangan yang sedang asik berpelukan itu.
Sohyun memutar bola matanya malas, ia hanya melirik sekilas ke arah Jimin.
"Jangan berisik Hyung." ujar Jungkook yang masih memejamkan kedua matanya, berniat untuk melanjutkan lagi tidurnya.
"Aww..."
Jungkook segara menjauhkan tubuhnya dari Sohyun. Ia memegangi punggung nya yang terasa sakit akibat seseorang melempar bola basket ke arah punggungnya.
"Oh... Maaf aku tidak sengaja."
Jungkook membalikan badanya, mendapatkan Yoongi yang sedang mengambil bola basketnya. Ia Merasa kesal dengan Hyungnya itu.
"Apa yang kau lakukan hyung?" Jungkook berujar sembari mengelus-elus punggungnya yang terasa nyeri. Sohyun yang melihat Jungkook meringis kesakitan menatap Yoongi tajam. Ia tidak mengerti mengapa pemuda itu melakukan hal ini.
"Eoh... Jungkook-ah kenapa dengan matamu?" tanya Namjoon yang juga ikut menghampiri mereka. Niatnya ingin langsung mengajak mereka segera latihan. Tapi ia urungkan, melihat kondisi Jungkook yang tidak memungkinkan untuk ikut latihan.
"Gara-gara Taehyung-Hyung aku tidak bisa tidur semalam. Aku takut dia menghancurkan barang-barang di apartement ku. Dia mabuk, aku sampai gila menemaninya." Jelas Jungkook dengan memijat pelipisnya. Hawa ngatuk mulai menghantuinya saat ini.
"Ck! Apa aku tidak salah dengar? Taehyung tidak mungkin menghancurkan barang-barangmu Jungkook. Kalau kau yang mabuk mungkin iya. Kau yang bisa menghancurkan barang-barang yang ada di sekitarmu." bela Jimin, dia tahu bagaimana mana jika Jungkook sedang mabuk. Jimin memang sudah mengalaminya, barang yang ada di apartementnya hampir semuanya hancur di buat Jungkook saat mabuk.
Jungkook tidak menggubris ucapan Jimin, yang dia butuhkan sekarang adalah; istirahat.
"Lebih baik kau istirahat Jungkook-ah. Lalu di mana Taehyung sekarang?"
"Aku akan istirahat 15 menit Hyung. Baru aku akan ikut latihan. Taehyung-Hyung ada di perpustakaan. Katanya mau mengambil sesuatu."
"Sohyun~ie bisa kau menemaniku?" Jungkook memelas di hadapan Sohyun, berharap gadis itu mau menemaninya. Sohyun yang tak tega melihatnya menganggukan kepalanya tanda setuju. Sebelum pergi Sohyun sempat melirik ke arah Yoongi yang menatap mereka tidak suka.
Jimin menepuk-nepuk pundak Yoongi untuk menenangkan pemuda ini. Ia tahu, pastinya Yoongi cemburu melihat Jungkook menggandeng lengan Sohyun.
__ADS_1
Yoongi melempar bolanya ke sembarang tempat. Untung nya, J-hope dapat menghindar dari bola itu. Kalu tidak, di pastikan wajahnya yang akan terkena bola tersebut.
Namjoon yang sempat melihat perubahan raut wajah Yoongi memincingkan matanya. Bukannya tadi pemuda itu tanpa baik-baik saja, dan sekarang, kenapa kembali bersikap dingin hanya melihat Jungkook bersama Sohyun?
Namjoon mengetahui sesuatu.
Apa mungkin Yoongi cemburu?
***
"Kenapa tinggi sekali." celuh Jisoo, yang ingin meraih buku di rak yang lumayan tinggi, ia sampai berjinjit hanya untuk meraih buku yang akan ia baca. Tapi tetap juga tinggi badannya tidak dapat menjangkau buku itu.
Dari arah belakangnya seorang pemuda mengambil buku tersebut, Jisoo membalikan badanya, matanya memandang dada bidang seorang pemuda, ia mendongakan kepalanya, sekedar untuk menatap siapa orang ini.
Deg...
Jantung keduanya berdegup lebih cepat, saat tanpa sengaja keduanya saling memandang, Jisoo yang masih setia mengamati bentuk wajah pemuda yang ada di hadapannya saat ini menelan ludanya kasar. Ia tidak menyangka bisa sedekat ini dengan pemuda itu. Menurutnya, pemuda itu lebih tampan jika memandang dari jarak sedekat ini.
"Apa kau akan terus memandangiku?"
Jisoo tersadar dari lamunannya. Ia segera mengambil buku dari tangan pemuda yang membantunya tadi.
Jisoo segera pergi menjauh dari pemuda itu. Ia memegangi dadanya, jatungnya masih berdegup tak berirama, menangkup kedua pipinya, beruntung saja pemuda itu tidak melihat kedua pipinya yang memerah.
"Ada apa denganku." lirihnya,
Dia masih memegangi kedua pipinya yang terasa panas. Melangkah kakinya terburu-buru agar cepat keluar dari perpustakaan.
Sedangkan pemuda itu sedang mngembangkan senyumnya, melihat tingkah gadis itu yang mulai menjauh darinya.
•
•
•
•
Sohyun masih setia mengamati bentuk wajah Jungkook yang lagi tertidur pulas di pangkuannya. Memainkan surai hitam pemuda itu, menggulung-gulungkan di jari tangannya. Ia tersenyum melihat wajah damai Jungkook saat tidur.
"Aku tahu aku tampan. Bisakah kau tidak memandangiku terus?" puji Jungkook yang masih memejamkan kedua matanya. Entah sejak kapan pemuda itu sudah terbangun dari tidurnya.
"Kookie, apa kau masih mempermainkan wanita?" Jungkook membuka kelopak mata indahnya, memandang Sohyun yang tanpa cantik terkena sinar matahari.
"Wae?"
"Ani... Hanya saja aku tidak melihat kau mengoda wanita lagi. Apa sifat playboy-mu sudah hilang?"
Jungkook tersenyum mendengar tuturan Sohyun. Apa Sohyun sekarang memata-matainnya?
"Eoh... Aku bosan dengan mereka. Karena di sini sudah ada yang menepati." jawab Jungkook yang meletakan tangannya di bagian dada kanannya, ia juga menatap dalam-dalam manik indah Sohyun.
"Sepertinya kau sudah membaik. Ayo ke lapangan mereka pasti menunggumu." Sohyun bangkit dari duduknya. Dan dengan cepat Jungkook juga bangun dari tidurnya. Kalu tidak, bisa saja kepala Jungkook membentur re-rumputan.
"Apa kau tidak ingin tahu siapa orangnya, Sohyun~ie?" teriak Jungkook yang melihat Sohyun sudah berjalan lebih dulu.
Sohyun hanya Menghendikan bahunya, ia tidak mempedulikan dengan ucapan Jungkook.
***
__ADS_1
(To be continue)