RABBIT HOLE

RABBIT HOLE
Chapter 15


__ADS_3

'Jika kau bahagia, aku akan ikut bahagia. Namun, aku tidak tahu seberapa lama memendam semua perasaan ini.'


"Park Jimin"



***


"Hentikan!" tegur pemuda bersurai hitam gelap, namun tetap saja tindakannya tidak di hiraukan oleh Yoongi.


Bagi Yoongi, menikmati segelas wine yang berkadar alkohol tinggi bisa membuat pikirannya menjadi tenang.


Nyatanya tidak, tetap saja ia masih merasakan hatinya semakin perih.


"Berikan lagi." Yoongi menyodorkan gelas kosong di hadapan pemuda itu.


"Andwae! Kau sudah sangat mabuk Min yoongi." pemuda itu mengangkat satu tangannya, memberi peringatan terhadap Yoongi yang dirinya tidak tahu jika menjadi sorotan orang-orang yang berada di club malam ini.


"Cepat berikan!" tegasnya. Membuat Daniel menelan ludanya dengan kasar. Jika seperti ini Yoongi sangat mengerikan, dengan terpaksa Daniel menuangkan minuman wine itu ke dalam gelasnya.


"Lagi."


"Apa kau mau mati!"


"Eoh." Jawaban Yoongi singkat, yang mampu membuat Daniel menganga mendengarnya.


Daniel memijat pelipisnya, ia begitu pusing menghadapi pemuda satu ini, yang datang dengan kondisi sangat kacau dan jangan lupakan kedua tangan nya yang di lumuri darah kering. Entah apa yang terjadi oleh pemuda itu.


"Kemana Namjoon-Hyung." lirih Daniel.


Dia sudah tidak tahan melihat keadaan Yoongi. Ini pertama kalinya Yoongi datang dalam kondisi seperti ini. Daniel sangat mengenal baik Yoongi, ia tahu sifat Yoongi seperti apa. Namun kali ini ia tidak tahu apa yang sedang di alami Yoongi sekarang.


Daniel melirik jam di tangannya, ini sudah setengah jam dia menunggu ke hadiran Namjoon.


Yoongi menatap pemuda itu dengan tatapan tajam sembari mengambil minuman botol dan ingin langsung meneguk nya, tapi ia kalah cepat, sebuah tangan menghalanginya.


"Cukup."


Yoongi melirik pemuda itu, ia mendengus kesal. "Pergi!"


"Ayo kita ke rumah sakit." ajak Namjoon sembari menarik botol wine itu dengan kasar.


"Pergi Namjoon-ah. Biarkan aku sendiri."


Namjoon tidak menggubris ucapan Yoongi, ia malah menatapnya dengan iba, kenapa Yoongi bisa seperti ini. Se-taunya Yoongi tidak pernah melakukan hal gila seperti yang di lakukannya sekarang. Apa yang membuat pemuda ini nekat membuat dirinya menderita? Kemana sifat dingin dan angkuhnya itu.


"Namjoon-ah... Dia meninggalkan-ku." ucap Yoongi dengan senyum kecil di bibirnya.


Namjoon tergelak. Apa yang di maksud Yoongi, ia masih menatapnya, membiarkan pemuda ini menjelaskan semuanya.


"Dia meragukan cinta-ku Namjoon-ah... Aku sangat mencintainya, kenapa dia melakukan ini kepada-ku."


Yoongi menundukan kepalanya, membiarkan air matanya jatuh untuk kedua kalinya. Kenapa sesak di hatinya tidak kunjung hilang, isakan demi isakan terus keluar dari mulut Yoongi.


Namjoon masih tidak menjawab ucapan pemuda itu. Siapa wanita yang mampu menghancurkannya, begitu besar'kah Yoongi mencintai wanita itu?


Ia menepuk-nepuk punggung pemuda itu untuk menenangkannya, Namjoon juga tidak tahu apa yang harus di lakukannya sekarang.


Urusan cinta? Ayolah, Namjoon tidak tahu banyak tentang cinta, dia sendiri belum mengalaminya.


"Bahkan dia menyuruh-ku menjadi kekasih temannya."


Namjoon menghentikan gerakan tangannya. "Apa gadis itu Sohyun?" tanyanya. Entah kenapa pikirannya menuju ke nama gadis itu, yang jelas Namjoon pernah melihat Yoongi cemburu melihat gadis itu dengan pemuda lain.


Yoongi mengangkat kepalanya memandang lurus kedepan, mengingat semua perkataan gadis itu membuatnya tersenyum miris.


"Dia bahkan menghinaku dengan semua kata-kata yang menyakitkan dirinya. Aku tahu dia juga mencintai-ku Namjoon-ah, tapi kenapa..." Yoongi tidak dapat melanjutkan lagi ucapannya. Dia memejamkan matanya membiarkan buliran air mata terus jatuh membasahi pipinya. Yoongi tak sanggup untuk kehilangan gadis itu, rasanya ia ingin mengakhiri hidupnya.


Tanpa gadis itu, tidak ada lagi Yoongi yang menampilkan senyum manisnya. Kebahagiaan Yoongi ada di gadis itu, jika gadis itu pergi darinya.


siapa yang bisa membuat dia kembali bahagia?


Namjoon yang sedari tadi mendengar semua ungkapan Yoongi, ingin rasanya ikut menitihkan air matanya. Tapi ia mencoba untuk menahannya, Namjoon tidak mau membuat pemuda itu semakin sedih jika melihatnya juga ikut menangis. Namjoon kembali menepuk-nepuk punggung pemuda itu.

__ADS_1


"Yoongi-ah lebih baik kita ke rumah sakit, lihatlah tanganmu. Bagaimana bisa kau ikut dalam pertadingan besok, jika kondisi kau seperti ini..."


Yoongi melirik tangannya, noda darah yang sudah mengering dan rasa sakit di tangannya terus bertambah. Yoongi sempat mengabaikan itu semua.


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Penuhi keinginannya."


Yoongi menatapnya dengan pandangan sendu. "Aku tidak bisa."


"Kalau begitu pertahankan dia. Buat dia yakin kalau kau sangat mencintainya, Dan bicarakan semuanya dengan baik-baik."


***


"Gomawo Jimin-ah." ujar So Hyun dengan suara serak.


Jimin hanya tersenyum kecil. "Eoh... Masuklah, adikku pasti sedang menunggumu."


"Jimin-ah soal yang kau bicarakan tadi..."


"So Hyunie," Jimin mendekatkan dirinya dengan gadis itu.


"Kau pantas untuk bahagia."


Mendengar kata bahagia membuat So Hyun kembali menitihkan air mata. Bagaimana mungkin ia bisa bahagia jika orang yang di cintainya harus ia relakan bersama dengan sahabatnya sendiri.


Jimin mengusap kedua pipi Sohyun untuk menghapus jejak-jejak air mata yang terus membasahi pipi gadis itu. Sejujurnya Jimin tidak tega melihat gadis yang di cintainya harus menangisi orang lain. Ingin rasanya Jimin mengungkapkan perasaannya saat ini kepada gadis itu, tapi ia tidak mungkin melakukannya.


"Jangan menangis So Hyunie... Kau harus membuka hatimu untuk orang lain." Jimin menatap mata sembab gadis itu dalam-dalam.


So Hyun yang juga ikut menatap mata Jimin entah kenapa membuatnya meresa mendapatkan kehangatan dari tatapan mata itu.


Seolah Jimin sedang menyalurkan kekuatan untuk gadis yang di cintainya.


Sohyun tersenyum hambar. "Bisakah aku melupakannya, Jim?" tanyanya.


Jimin menganggukan kepalanya. "Kau pasti bisa. Kembalilah seperti dirimu yang dulu So Hyun, Jangan bersedih lagi. Kau sangat jelek jika menangis." canda Jimin dengan kekehan kecil.


Sohyun mengembangkan senyumnya. "Jim, bisakah kau..."


Sedangkan So Hyun tidak menolak apa yang di lakukan Jimin, dia malah memejamkan matanya, merasakan gejolak aneh di dalam dadanya saat menerima kecupan hangat dari pemuda itu.


"Jangan kau anggap serius ucapan-ku tadi..." Jimin menjeda, menarik nafas sedalam-dalamnya.


"Bukalah hatimu untuk... Jung...kook."


Sohyun mengkerutkan dahinya, ia memundurkan badannya, dia tersenyum sinis, apa tujuan Jimin melakukan ini?


"Kau..."


"Dengarkan ak-"


"Stop!" sela Sohyun, ia mengangkat kedua tangannya, yang membuat Jimin menghentikan gerakan tangannya yang ingin meraih tangan Sohyun.


Sohyun menyunggingkan senyum kecil. "Kau tahu, kalau ak-"


"Jungkook menyukai-mu!"


***


Hari ini adalah hari yang paling bersejarah bagi kampus Hanyang. Dimana hari ini telah di laksanakan  turnament basket antara kampus hanyang dan kampus Yonsei. Kesempatan emas yang tidak akan di buang sia-sia oleh kampus Hanyang.


Mengingat tahun-tahun lalu kampus Hanyang selalu kalah melawan kampus Yonsei. Jangan dianggap remeh mahasiswa kampus Yonsei, justru kampus mereka sangat handal untuk urusan pertandingan basket. Kampus mereka juga di kenal 'tidak pernah kalah melawan kampus manapun'. Itu julukan yang pas untuk kampus mereka.


Ini pertandingan besar. Kampus mereka selalu di pertemukan dalam turnament basket, dan kampus Hanyang selalu kalah melawannya. Dan kali ini pun kampus Hanyang tidak akan terkalah-kan,  mereka saling memberi semangat satu sama lain. Walau pun babak pertama telah selesai dan skor masih di pimpin oleh tim Yonsei, mereka tetap optimis untuk memenangkan turnament kali ini.


Suara-suara supporter yang saling mendukung tim masing-masing begitu bergemuruh di dalam gedung olahraga itu. Seorang gadis yang dengan santai nya berjalan memasuki gedung olahraga itu, tapi kita tidak tahu bahwa di dalam hatinya ia sedang mengumpati sahabatnya.


Maniknya terus ia edarkan untuk mencari sosok sahabatnya yang selalu pergi lebih dulu darinya. Ini kenapa So Hyun selalu mengumpati Jisoo, gadis itu tidak pernah mau menunggunya sama sekali. Makanya ia dengan sengaja datang terlambat.


Mungkin lebih baik dia tidak datang, tapi hatinya yang menyuruhnya untuk melihat pertandingan ini. 'Min yoongi' nama itu terlintas di pikirannya, dan entah kenapa ia merasa mengkhawatirkan pemuda itu.


Maniknya menangkap tiga orang yang ada di antara sekumpulan gadis-gadis yang sedang bersorak riang. Ia menghela nafasnya, memutuskan untuk menghampiri mereka. Dan menerobos masuk di antara para supporter lain kampus nya, ia juga tidak peduli mendapatkan cibiran dari orang-orang yang tak di sengaja terinjak kakinya oleh So Hyun. Ia mengabaikan itu, yang terpenting ida segera sampai ke tempat sahabatnya. Untungnya, sahabatnya selalu berbaik hati menyediakan tempat kosong untuk dirinya.

__ADS_1


Menepuk pundak salah satu sahabatnya, dan duduk sejejar dengan mereka. Jisoo yang melihat kehadiran So Hyun menatapnya dengan tajam.


"Kau sangat lama..." sindir Jennie.


"Kenapa datang kemari." kali ini Rose yang menyindir So Hyun, tetapi perkataan mereka tidak di gubris oleh So Hyun. Dia dengan santainya duduk dan mengambil cemilan milik mereka.


"Yak! Dari mana saja kau hah?! Pertandingan sudah mau selesai kau baru datang... " celoteh Jisoo.


"Omo... Kenapa dengan matamu." ucap Jisoo lagi dengan menunjuk-nunjuk matanya.


"Ah..." So Hyun menggigit bibir bawahnya, seharusnya dia tidak datang ke kampus hari ini. Alasan apa yang harus di berikan oleh So Hyun dengan mereka. So Hyun mengumpati dirinya sendiri, kenapa ia sempat melupakan mata sembabnya.


"Ini... Biasa." cengir Sohyun, mencoba untuk menampilkan senyum cerianya di depan sahabatnya.


"Kau... Selalu seperti itu jika sedang menonton drama. Aigoo..." Jisoo menggeleng-gelengkan kepalanya.


Priittt...


Suara peluit dari wasit yang memimpin pertandingan itu, pertanda babak kedua akan segera di mulai. Ke empat gadis itu mengahlikan fokus mereka ke lapangan, melihat pertandingan yang sudah di mulai. Kedua tim saling memberi umpat ke masing-masing temannya. Saat ini bola masih berada di pihak tim lawan, men-dribble bola tersebut, berlari dan melempar bola ke ring dan hasil cukup memuaskan untuk tim lawan.


Skor masih di pegang di tim lawan, kampus mereka harus segera memberi skor, sebelum babak kedua akan berakhir. Waktu pertandingan semakin lama semakin menipis.


Yoongi yang berhasil menangkap bola yang di berikan oleh Jimin, men-dribble bola itu sampai menuju ke ring lawan. Tiba-tiba Langkahnya terhenti di tengah jalan, ia merasakan tangannya mulai berdenyut nyeri.


Yoongi melirik ke arah temannya, mereka semua menyuruhnya untuk segera memasukan bola tersebut sebelum bola dapat di ambil oleh pihak lawan. Dengan menahan sakit ditangannya, Yoongi melemparkan bola dari jarak yang cukup jauh.


Dan bola itu berhasil masuk.


Suara riuh terdengar nyaring di telinganya. Para supporter kampus Hayang berteriak menyebutkan namanya. Tetap ini semua belum berarti apa-apa bagi tim Hanyang, mereka harus berkerja lebih keras lagi untuk mengumpulkan skornya. Dan mereka juga tidak mengetahui kondisi Yoongi saat ini.


Bola saat ini berada di tangan Namjoon, Namjoon sempat melirik ke arah kanan melihat di layar monitor hasil skor mereka yang se-imbang. Ini kesempatan buat Namjoon untuk mencetak skor waktu sudah tinggal beberapa detik lagi, dengan segera Namjoon mengoper bola itu ke arah Yoongi yang langsung diambil olehnya. Yoongi men-dribble bola tersebut dengan menahan tangannya yang terus berdenyut nyeri. Melompat dengan tinggi men-shoot bola itu dari jarak jauh dan...


Berhasil masuk kembali...


Prriitt...


Wasit meniupkan peluitnya bahwa pertandingan telah selesai.


Suara teriakan para supporter kampus Hanyang terus bergemuruh. Ini adalah moment yang sangat berharga bagi kampus mereka. Mereka berhasil merebut juara yang selalu dipertahankan oleh kampus Yonsei, dan kali ini mereka meruntuhkan kejuaraan itu. Kampus Hanyang berhasil memenangkan turnament ini berkat kerjasama tim Hanyang.


Sang ketua tim menghampiri Yoongi yang sedang berbaring di tengah lapangan. Ia memegangi tangannya yang bergetar bahwa ia sedang menahan rasa yang teramat sakit.


"Kau baik-baik saja Yoongi-ah..."


"Eoh..." Jawabnya singkat.


Sebenarnya kondisi Yoongi tidak baik-baik saja, perban yang ada di tangannya berubah warna, yang artinya tangan Yoongi kembali berdarah. Ia sembunyikan tangannya supaya tidak ketahuan oleh Namjoon. Yoongi sempat melirik kearah kanan di mana disana sudah ada gadis yang di cintainya sedang berdiri berhadapan dengan Jungkook.





"Hyung mana bunganya." teriak Jungkook memanggil Taehyung, Taehyung yang saat ini sedang memegangi sebuah boket bunga mawar merah melempar bunga tersebut yang berhasil di tangkap oleh Jungkook.


Jungkook memandang mata bulat So Hyun, jantungnya terus berdetak tak normal. Semua ini sudah ia rencanakan, bisakah ia menyampaikan isi hatinya saat ini kepada So Hyun. Memandang dari jarak dekat saja membuat Jungkook tidak bisa berkutik sama sekali. Jungkook menghela nafas dan membuangnya secara kasar.


"So Hyunie.. Mungkin kau sedang ke bingungan sekarang. Tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, kau taukan waktu itu kau pernah bertanya kenapa aku tidak bersama dengan gadis lain? Dan aku manjawab, jika di hati ku sudah ada yang menepatinya. Apa kau tahu siapa orangnya?" Jungkook menjeda ucapannya, ia tersenyum lebar dan melanjutkan lagi kalimatnya. "Jawabanya adalah kau... aku sudah lama memendam perasaanku denganmu, awalnya aku tidak percaya bahwa aku menyukaimu. Tapi lama kelamaan perasaan ini terus tubuh dengan sendirinya, saat berada di dekatmu jatungku terus berdebar, perasaan nyaman dan tidak ingin kehilangan dirimu terus muncul di benakku So Hyunie..."


So Hyun terteguh. Jantungnya berdebar tak menentu. Sohyun melirik ke arah Jimin yang sedang memandangnya dengan senyum tipis di bibirnya. Dan tanpa sengaja ia menangkap sosok yang tak jauh dari mereka, siapa lagi kalau bukan Yoongi. Yoongi yang sedang berdiri memperhatikan mereka dari kejahuan. So Hyun kembali menelan ludannya kasar, Apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia kembali menatap manik Jungkook.


"So Hyun..." Jungkook berlutut di hadapan So Hyun sembari menyodorkan sebuket bunga mawar di tangannya.


"Maukah kau manjadi kekasihku?"


So Hyun menutup mulutnya, ia kembali melirik ke arah Jimin. 'Terima' gerakan mulut Jimin yang dapat di artikan oleh So Hyun. Ia mengumpat dalam hatinya, kenapa Jimin melakukan ini semua.


So Hyun memejamkan matanya beberapa detik, kemudian membukanya secara perlahan. Ia sempat melihat Yoongi yang pergi keluar bersama dengan Namjoon.


So Hyun menghela nafasnya, ia kembali menatap mata bulat Jungkook.


Suara tepuk tangan dan teriakan dari orang yang menyaksikan mereka terus histeris, yang membuat telinga So -yun panas dan memerah mendengar mereka meneriaki namanya untuk segera menerima Jungkook menjadi kekasihnya.

__ADS_1


***


(To be continue)


__ADS_2