RABBIT HOLE

RABBIT HOLE
Chapter 28


__ADS_3


Happy Reading


***


Senyum manis selalu terpatri di bibir kecil seorang gadis yang sedang berjalan dengan santai. Hari ini menurutnya hari yang sangat bahagia ia lakukan, beberapa menit yang lalu baru saja ia selesai bermain basket bersama seseorang yang sangat di cintainya.


Di tangannya sudah ada satu botol air minum yang akan ia berikan ke pemuda yang sudah merelakan waktunya untuk mengajarinya bermain basket.


Hal itu saja mampu membuat hati nya berteriak penuh kesenangan. Ayolah siapa yang tidak menyukai jika kalian diajarkan bagaimana cara bermain basket dengan benar, apa lagi orang itu adalah orang yang kalian sukai. Pasti jantung kalian bisa saja berhenti di tempatnya bukan.


Kim jisoo. Gadis itu teramat bahagia. Ia ingin sekali menghabiskan waktunya bersama dengan Taehyung, tak peduli seberapa lelah ia bermain asalkan berada di dekat Taehyung semua lelahnya akan berkurang.


"Wow..." Jisoo bergumam disaat ia telah sampai di dekat lapangan basket. Sebelah tangannya langsung membekap mulutnya sendiri. Ini di luar dugaannya, ia menggeleng sembari memejamkan matanya seakan menepis apa yang baru saja di lihat.


Jisoo membuka sebelah matanya guna memastikan sekali lagi jika yang di lihatnya salah. Setelah yakin, ia tersenyum sinis. Jika mereka tidak memiliki hubungan apa-apa kenapa harus berpelukan di tempat umum.


"Apa kau cemburu." celetuk seseorang. Kemudian ia merebut sebotol air di tangan Jisoo dan meneguknya dengan kehausan.


Jisoo menoleh, ia menyunggikan sudut bibirnya. "Mau pergi minum bersama dengan ku." tawarnya dengan menatap penuh harapan ke pemuda itu, berharap jika ia menerima tawarannya. Hanya ini jalan satu-satu ya untuk menjernihkan pikiran nya sekarang.


"Kenapa aku harus menolak."


***


Setibanya So Hyun di sebuah taman. Ia tak langsung menghampiri kekasihnya, melainkan tetap berdiri di tempatnya. manik mata So Hyun masih setia memandang punggung sang kekasih yang sedang membelakangi.


Sebelum So Jyun bergerak ia sempat kan untuk menghela nafas. Kali ini ia harus jujur akan perasaannya jika ia sangat merindukan pria itu.


Dengan langkah kecil So Hyun menghampirinya, berdiri di sisi kanan sang kekasih. Jari-jari tanganya menyelusup masuk ke sela-sela jemari tangan kekasihnya----menggenggam dengan erat.


"Kookie."


"Kau masih ingat tempat ini?" Jungkook tidak menggubris panggilan dari sang kekasih, ia malah bertanya dengan nada yang cukup serak akibat terlalu banyak menangis.


Sohl Hyun menoleh, memandang dari samping bentuk wajah Jungkook. Ia menyadari sesuatu jika Jungkook tidak seperti biasanya. Nada suara yang di keluarkan oleh Jungkook juga berbeda.


"Kookie-."


"So Hyunie."


Panggil mereka secara bersama. Keduanya saling berpandangan, mata mereka bertemu untuk sekian kalinya, mata yang sangat di rindukan oleh Jungkook maupun So Hyun.


Jungkook melepaskan kontak matanya, genggaman di tangannya juga terlepas.


Jungkook merubah posisinya, berdiri di hadapan So Hyun mencengkram kedua pundak gadis itu sedikit kuat.


So Hyun meringis menahan rasa sakit dari cengkraman tangan Jungkook, ia menegakkan kepalanya guna untuk menatap kedua mata Jungkook yang begitu sendu.


"Apa kau mencintai ku."


So Hyun terkesiap, kedua bola mata hitam miliknya melebar. Kenapa di saat seperti ini mulutnya tidak dapat berucap sama sekali.

__ADS_1


So Hyun ingin sekali mengucapkan yang sebenarnya, tapi masalahnya semua itu tidak dapat ia lakukan. Melihat mata Jungkook yang sedang memandangnya dengan sendu membuat So Hyun merenungkan kembali apa yang sedang dipikirkannya.


Jungkook melepaskan cengkramannya membawa So Hyun ke dalam pelukan hangatnya.


"Ku anggap jawabannya iya." jawabnya sendiri yang akan menyakitkan hatinya. Itu lah Jungkook, dan anehnya ia masih bisa tersenyum, walau terpaksa.


Sekeras apapun Jungkook menyangkal tetap saja kenyataan bahwa So Hyun tidak mencintai nya. Bisa di bilang Jungkook begitu bodoh, ia masih bisa menepis semua kebenaran tentang perasaan So Hyun.


Sebelum So Hyun ingin bersuara, ia sempat kan untuk menarik nafas nya, entah kenapa tiba-tiba dada nya terasa sisak. "Maafkan aku Jeon."


Jelas Jungkook mendengar apa yang So Hyun katakan, tetapi dia berusaha untuk menulikan pendengarannya.


"Jungkook, maafkan aku." kembali So Hyun berucap. Ia menarik tubuhnya tetapi Jungkook menahan dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Jangan katakan apapun..." Jungkook menjeda sesaat, "Kumohon So Hyun." dapat So Hyun rasakan jika suara Jungkook bergetar; yang dipastikan sebentar lagi air matanya siap untuk keluar.


So Hyun terpaksa menarik dirinya saat dekapan Jungkook mulai melonggar, menatap mata Jungkook yang sudah dipenuhi dengan air mata.


Jujur So Hyun melemah melihat Jungkook akan menangis. Tapi ia tidak mungkin terus menerus menyakiti perasaan Jungkook. Dalam hati so Hyun, ia menjerit tak tega melihat Jungkook seperti ini akibat perbuatan nya yang tidak ia pikirkan terlebih dahulu.


Tangan So Hyun terulur untuk mengelus pipi Jungkook. "Maafkan aku." gadis iti menarik nafasnya dalam-dalam.


"Maafkan aku yang selama ini membohongi mu. Aku..." So Hyun memejamkan matanya, ia tak sanggup mengatakan yang sebenarnya.


"Aku-"


"Aku tahu." sela Jungkook. Ia menurunkan tangan So Hyun yang berada di pipinya. "Apa kau tidak bisa mencintai ku sedikit saja So Hyun."


"Maukah kau mengakhiri hubungan ini. Aku tidak ingin menyakiti mu lagi. Aku tidak mau kau tersiksa dengan mencintaiku sendiri. Jika kau ingin membenci ku lakukan saja semau mu, Jungkook-ah."


Jungkook menutup matanya. Demi apa Jungkook kembali menangis, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah, ia terisak pelan.


So Hyun yang tak tahan langsung membawa Jungkook ke dalam pelukannya. "Kumohon jangan menangisi ku, Jungkook-ah. Kumohon..." suara So Hyun bergetar, menandakan jika ia juga ikut menangis.


"Aku tidak bisa."


"Hey..." So Hyun melepaskan pelukan nya.


"Ini bukan akhir dari cerita kita jungkook-ah. Kita bisa memulainya dari awal. Aku sangat menyayangi mu sebagai sahabat terbaik ku. Kita bisa tetap bersama selamanya." jelas So Hyun disertai dengan senyum.


Jungkook mendesah, baginya semua masih terasa sulit di terima. Hati nya sangat perih mendengar pengakuan langsung dari So Hyun. Jungkook tidak sepenuhnya menyalahkan So Hyun, ia yang selalu menganggap jika So Hyun juga mencintainya.


Apa ini yang dinamakan patah hati; sakit tapi tidak berdarah. Itu yang Jungkook rasakan sekarang, semua sudah berakhir. Cinta yang selama ini ia berikan untuk Sohyun akan segera berakhir.


"So Hyun." panggil Jungkook dengan nada penuh. Matanya tepat menatap ke manik hitam milik So Hyun.


***


"Jim, kenapa kau semakin pendek." racau Jisoo tiada henti sedari tadi bahkan ia sempat untuk tertawa renyah seorang diri.


Jimin tidak menganggapi apa yang di katakan oleh Jisoo, jelas ia sangat tahu jika Jisoo dalam kondisi mabuk. Jadi ia lebih memilih untuk mengesap minuman pekat itu yang bagi nya bisa menenangkan dirinya.


"Yak! Brengsek!" Jisoo kembali meracau bahkan ia mengumpat entah di tunjuk kepada siapa.

__ADS_1


"Brengsek!!" Jisoo membanting gelas kecil yang di pegangnya membuat Jimin menolehkan kepalanya untuk menatap gadis malang di sampingnya ini.


Jimin menggeleng. Menurutnya Jisoo sangat lucu jika sedang mabuk.


Tunggu?!


Apa Jimin sadar akan ucapannya? Dia sama sekali tidak pernah memuji wanita manapun kecuali So Hyun seorang. Tapi sekarang baru saja ia memuji Jisoo yang notabene sebagai teman dekat So Jyun.


"Apa yang kau bicarakan. Kami tidak berpacaran." racau Jisoo sekali lagi, bahkan ia menirukan gaya bicara Taehyung waktu itu.


"Aku antar kau pulang." ajak Jimin menarik tangan Jisoo. Ia sudah tidak tahan melihat kelakuan gila yang di berikan oleh Jisoo. Walaupun Jimin sering bersikap dingin dengan wanita lain tapi tidak untuk wanita yang lemah seperti Jisoo, apalagi keadaan Jisoo yang sedang sangat mabuk. Jimin masih memiliki hati, ia tidak mau Jisoo menjadi korban para hidung belang di dalam klub ini.


"Tidak." Jisoo menggelengkan kepalanya dan menahan pergerakan langkah kaki Jimin.


"Aku masih mau minum Jimin." sambungnya kembali dengan menghentakan kakinya danĀ  memanyunkan bibirnya lucu membuat Jimin menggaruk tengkuknya------ ia salah tingkah melihat betapa imutnya Jisoo.


"Kya! Kau sudah mabuk."


Jisoo menggeleng lagi. "Aku tidak mabuk."


Jimin mendesah pelan. Inilah yang paling ia benci, jika sudah berurusan dengan orang mabuk akan sangat susah untuk di atur.


"Oh Jimin."


"A-apa." Jimin gelagapan saat Jisoo berjalan mendekatinya.


"Kenapa bibirmu sangat sexy?" Jisoo berucap sembari tangannya menyentuh bibir Jimin.


"Kya! apa yang kau lakukan." Jimin menepis pelan tangan Jisoo.


Bisa ia rasakan jika jantungnya berdegub lebih cepat. Ia bersumpah tidak pernah merasakan jantungnya berdebar jika berada di dekat wanita--------Jimin ingatkan lagi kecuali bersama dengan So Hyun.


"Bolehkan aku menciummu?"


Jimin membuka mulutnya cukup lebar saat mendengar perkataan Jisoo. Sungguh Jimin bisa gila jika dihadapkan dengan gadis seperti Jisoo.


Jimin akui jika Jisoo sangat liar kalau sedang dalam kondisi mabuk, ia harus segera membawa Jisoo pergi.


Belum sempat Jimin membawa Jisoo pergi, Jisoo lebih dulu melingkar tanganya di leher Jimin, yang membuat Jantungnya semakin berdegub tak karuan, hawa panas mulai menjalar di sekeliling tubuhnya.


"Jisoo, apa yang kau laku-"


Jimin tidak dapat melanjutkan kalimatnya saat benda kenyal milik Jisoo mendarat di bibirnya.


Jimin bingung. Ia tidak tahu, haruskan membalas ciuman Jisoo atau membiarkan Jisoo bermain dengan bibirnya sendiri. Jimin semakin pusing saat mendapatkan pergerakan dari ciuman Jisoo, jisoo ******* secara perlahan dan menggigit kecil bibirnya.


Sungguh jika seperti ini Jimin tidak dapat untuk menahannya lagi. Jisoo sangat tahu kelemahannya, bukan kesalahan Jimin kalau dia ikut dalam permainan Jisoo.


Jimin membalas lumatan yang diberikan Jisoo, bahkan ia menarik pinggang Jisoo untuk mengikis jarak diantara mereka, sebelah tangan Jimin sudah berada di tengkuk Jisoo------ menariknya untuk memperdalam ciuman mereka.


***


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2