RABBIT HOLE

RABBIT HOLE
Chapter 02


__ADS_3

Dug....dug...dug


Lelaki berkulit pucat itu men-dribble bola basketnya, melempar bola basket kearah ring dari jarak yang cukup jauh, sebuah tembakkan yang berhasil membuat bola masuk dengan sempurna.


"Wahh... Permainanmu selalu bagus hyung." ucap seseorang yang datang dari arah belakang. Bahkan tanpa di sadari oleh Yoongi sendiri, pria itu sedari tadi menatap permainannya, kakinya bergerak dengan sendiri menghampiri Yoongi lalu mengambil bola yang ada di lapangan itu.


Yoongi tidak merespon ucapan Jimin. Ia tetap fokus pada bolanya, terus dan terus memasukan bolanya ke ring. Bermain basket lebih baik dari pada mendengar celotehan Jimin.


"Aku dengar, Hyung mengganggu primadona kampus kita..." Jimin membasihi kedua bibirnya, "luar biasa."


Yoongi menghentikan permainannya, ia menatap Jimin tajam. Mengganggu atau tidak, itu bukanlah urusannya.


Yoongi masih tak peduli dan tetap melanjutkan permainannya.


"Apa Hyung menyukainya? Sebelumnya aku tidak pernah melihat kau dekat dengan wanita manapun, apa ini pertama kalinya?" pertanyaan demi pertanyaan yanh Jimin lontarkan berhasil menghentikan permainan Yoongi lagi.


Apa benar Yoongi menyukai Sohyun?


Bahkan mereka baru pertama kali bertemu. Tidak mungkin secepat itu ia menyukai Sohyun.


Yoongi melempar bola basket dengan asal dan pergi meninggalkan Jimin dilapangan. Baginya, ucapan itu tak lebih dari pikiran asal Jimin yang memang tak pernah dimengertinya.


"Kurasa benar." menolog Jimin sendiri.


***


"Sohyun~ie jeball... Bantu aku ya,"


Jisoo terus merengek tanpa henti, menggoyang- goyangkan lengan Sohyun memohon agar sahabatnya itu mau membatunya.


Sohyun masih enggan untuk berbicara. Bagaimana tidak, permintaan Jisoo sungguh aneh.


Gadis bermarga sama dengannya itu memintanya untuk membantu mendekatkan dirinya dengan Yoongi.


Jelas tidak mungkin. Mana mungkin itu bisa terkabul sementara ia masih belum lupa raut dingin pria yang mengancamnya itu. Bisa-bisa ia bakalan mati dengan mudah di tangan Min Yoongi.


"Sohyun..."


"Yak jisoo-ya! bagaimana mungkin aku bisa mendekatkanmu dengan makhluk es batu itu." sergak Sohyun yang mulai emosi dengan sahabatnya.


Sedikit tergelak mendengar teriakan dari Sohyun. Namun, bukan Jisoo namanya kalu ia tidak bisa meluluhkan hati Sohyun untuk membantunya. Ia selalu memiliki seribu macam cara untuk meluluhkan Sohyun.


"Aku harus pergi menemui dosen untuk mengumpul tugas. Kau tidak ingin kan aku mendapatkan nilai C? Kau tau sendiri dosen kita yang satu ini seperti apa." Sohyun menunjuk- nujukan buku tugasnya ke hadapan Jisoo.


"Kita bertemu di perpustakaan." ucap Sohyun lagi, melengos pergi tanpa mendengar ucapan Jisoo.


"Yak!! Aishh... Selalu dan selalu telat mengumpulkan tugas." gerutuk Jisoo yang juga ikut pergi dengan arah yang berbeda.

__ADS_1


***


Sohyun melangkahkan kakinya tergesa-gesa menuruni anak tangga. Ia sempat berhenti sejenak melihat ke kiri dan ke kanan, beruntungnya ia tidak menemukan tanda-tanda kehadiran pria berkulit pucat itu. Merasa aman, gadis itu kembali melanjutkan jalannya tanpa melihat kedepan.


Sayang, selalunya dewi fortuna tidak terlihat memihak kepadanya.


Ia membentur tubuh seseorang yang tampaknya lebih tinggi darinya ketika ia kehilangan fokus. Untungnya ia tidak jatuh kali ini. Seseorang lebih dulu menarik tangannya hingga ia bisa kembali berdiri sempurna.


Gadis itu memberanikan diri mengangkatkan kepalanya. Jatungnya berdegup lebih kencang diikuti matanya yang membulat sempurna. Bagaimana tidak hal yang ditakutkannya tiba-tiba ada dihadapannya saat ini.


Seringai yang sama yang membuatnya takut, kini menatap nya dengan tajam


“Senang bertemu denganmu lagi. Kim-So-hyun-ssi.” penekana kata yang membuat bulu kuduk Sohyun bergidik ngeri.


"Ma..."


Tanpa memperdulikan ucapan Sohyun, Yoongi langsung mencengkram pergelangan tangan Sohyun dan membawanya pergi.


"Yak! Lepaskan aku mau keruangan dosen sekarang!"


Sohyun memberontak menarik-narik tangannya tetap usahanya tidak membuahkan hasil.


Tubuhnya sontak mundur saat Yoongi menghentikan jalannya dan berbalik menghadap ke Sohyun.


"Keruangan dosen? Yang benar saja."


Sohyun mengutuk mulut nya sendiri. Kenapa ia bisa salah bicara, Maksudnya untuk berkilah saja ia gagal di depan pria berkulit pucat itu. Seperti ia lupa kalau Yoongi termasuk orang yang sangat pintar. Pastilah dengan mudah Yoongi tahu arah keruangan dosen. Buka kearah yang berlawanan dengannya.


Yoongi terus berjalan hingga keduanya sama-sama terhenti di sebuah ruangan. Lebih parah, Yoongi menguncinya dari dalam. Mata Sohyun sontak membesar dan berpendar mengelilingi ruangan yang tak dikenalnya itu.


Tapi tidak dengan Yoongi yang sangat menyukai ruangan itu. Ruangan itu menjadi tempat favorinya kalau ia merasa terpuruk. 


Akhirnya Sohyun tak lagi merasakan sakit dipergelangan tangannya, saat sadar Yoongi sudah melepaskan tangannya.


Tubuhnya bergerak otomatis mundur ke belakang disaat Yoongi terus mendekatinya. Jangan lupakan detak jantungnya yang tak karuan disaat matanya menyorot Sohyun dengan begitu tajam layaknya pisau.


“W-wae! Kau mau apa?!” Sohyun melindungi dirinya dengan menaruh buku di bagian dadanya di saat Yoongi masih tak menghentikan langkahnya.


Buk!


Sohyun mati langkah. Tubuhnya kini sudah tersudut dengan pembatas tembok yang tak bisa membuatnya bergerak kemana-mana.


Lagi-lagi Yoongi mengukungnya dengan kedua tangannya, Memiringkan kepalanya sembari terus mendekat ke wajah Sohyun.


Mata Sohyun terus membulat dan tangannya bergerak otomatis menutup mulutnya. Ia ingin melindungi kesucian bibirnya yang belum tersentuh pria mana pun.


“hmmmppptttt….”

__ADS_1


“hahhahahahahhaa,”


Sohyun termangu mendapati pria kulit pucat itu tertawa terbahak- bahak hingga memegang perutnya. Pria itu ternyata mengejeknya, Sengaja mengerjainya tanpa memperdulikan jantungnya yang benar-benar hampir copot.


“dasar pria breng...”


Tangan Sohyun kembali tercekal saat Yoongi menahan gerakannya yang ingin memukul dirinya.


“Kim Sohyun. Sudah kuputuskan mulai hari ini kau menjadi millikku”


***


Sreekk


Brak!


Gadis itu mendudukan dirinya dan membanting buku dihadapan sahabatnya. Ia tidak peduli kalau harus mendapatkan tatapan tajam dari para penghuni perpustakaan saat ini. Pikirannya sudah cukup kacau dengan kejadian tadi siang yang membuat moodnya naik sampai ke ubun-ubunnya.


"Ommo…" Jisoo, sahabat Sohyun tampak terkejut dengan kedatangan Sohyun yang tiba-tiba membuat  keributan di dalam ruangan. Ia melihat sekeliling mereka yang terus menatap tajam memberi isyarat supaya keduanya tidak membuat keributan.


Jisoo mengalihkan pandangannya ke arah Sohyun. Dahinya berkerut, saat mendapati raut wajah sahabatnya sangat mengerikan.


"Sohyun~ie... Waeyo?" Tanya Jisoo


"Kau tahu manusia es ba..." Sohyun menggantungkan kalimatnya saat tersadar ia baru sadar bahwa yang ada di hadapannya ini adalah Jisoo, gadis yang beberapa saat lalu meminta bantuannya untuk mendekatkan dirinya dengan pria es batu itu. Tidak mungkin Sohyun akan menceritakan tentang kejadian yang menimpanya pada Jisoo.


Bak mendapatkan koin emas, senyum simpul terbit dibibir tipis Sohyun. Ia tahu cara apa untuk membalas perbuatan pria tersebut.


"Apa yang kau bicarakan? Manusia es? Es apa?" Tanya jisoo kebingungan


"Jisoo-ya… Aku akan membantumu untuk mendapatkan Yoongi!"


ucapan Sohyun berhasil membuat Jisoo menganga. Matanya berbinar, Jisoo sama sekali  tidak menyangka bahwa Sohyun akan membantunya.


Ada apa? Apa Sohyun masih waras saat ini? Jisoo tidak tau. Yang jelas ia senang bahwa Sohyun mau membantunya.


"Apa kalian tidak ke lapangan?" tanya seseorang yang menghampiri kedua gadis itu.


Kedua sahabat itu menatap Jennie. Jisoo pun menepuk jidatnya. Untuk beberapa saat, ia lupa bahwa hari ini adalah pertadingan final antara falkultas mereka dengan falkultas musik.


Sohyun yang melihat Jisoo panik, menaikan satu alisnya.


"Astaga! ayo kita ke lapangan." tanpa menunggu jawaban Sohyun,  Jisoo langsung menarik tangan Sohyun untuk pergi dari ruangan itu.


***


[To be continue]

__ADS_1


__ADS_2