RABBIT HOLE

RABBIT HOLE
Chapter 14


__ADS_3

Ku mohon lupakan semua, demi dirimu dan juga aku.'


"Kim So Hyun"


"Cukup sekian pelajaran hari ini." ucap sang dosen Park. Ia kembali melanjutkan kalimatnya. "Kalian semua harus bersikap sopan besok dalam menonton turnament basket kampus kita. Ingat... jangan membuat nama kampus kita buruk di hadapan para tamu, hargai mereka bila perlu kalian saling mendukung. Arraseo?!"


"Ne..."


"Bagus." jawab dosen tersebut dan melenggang pergi.


"Kau dengar Sohyun~ie. Aku tidak sabar menunggu besok, melihat dia bermain basket dengan kerennya." ucap Jisoo dengan mata berbinar-binar, seakan dia sedang membayangkan sesuatu yang membuatnya sangat bahagia.


Lain halnya dengan sahabatnya itu. Dia hanya meringis dengan senyum kecil. Sebentar lagi semuanya akan berubah baginya, misi untuk membantu sahabatnya akan selesai hari ini juga. Keputusan yang telah dia ambil sudah bulat, tinggal menunggu saat waktunya tiba.


"Kajja." Sohyun menarik tangan Jisoo untuk pergi dari ruangan itu. Di depan pintu ruangan Rose sedang melambaikan tangannya memberi kode agar meraka segera keluar.


"Tunggu." cegat Jimin menghampiri kedua gadis itu, "Bisa aku bicara berdua dengan So Hyun, hanya sebentar?"


Mata Jisoo melirik ke arah gadis itu, So Hyun menganggukan pelan.


"Pergilah, aku akan menyusul nanti."


Tanpa menjawab, Jisoo langsung pergi meninggalkan mereka berdua di ruangan itu. Sedangkan Jungkook dan Taehyung yang niatnya ingin pergi langsung menghampiri mereka.


"Hyung, kita harus latihan." cetus Jungkook dengan pandangan dingin.


Jimin mendengus sinis, kenapa sikap Jungkook seperti anak kecil saja. So Hyun bukanlah kekasihnya, kenapa dia harus marah separti itu.


Sementara Taehyung hanya diam, dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Apa dia marah dengan So Hyun, setelah ia mengetahui semuanya. Tapi, tidak mungkin ia dapat mengabaikan sikap So Hyun yang selalu membuatnya tertawa.


Taehyung bahkan menganggap So Hyun lebih dari teman. Ia telah menganggapnya sebagai adiknya sendiri, marga yang sama dan sikap yang hampir sama membuat Taehyung senang dan nyaman berada di dekat gadis itu.


"Kalian duluan saja, sebentar lagi aku akan menyusul."


Taehyung mengangguk, dia langsung menarik tangan Jungkook agar tidak membuat keributan lagi. biarkanlah Jimin yang menyelesaikan semuanya. Ia belum siap untuk menghadapi gadis itu saat ini.


"Ada apa ini?" tanya So Hyun bingung dengan sikap mereka bertiga.


"Sohyun~ie..." Jimin membasahi keduan bibirnya, oh sial. Kenapa ia merasa gugup sekarang, jantungnya juga terus berdenyut cepat.


"Apa kau menjodohkan Jisoo dengan Yoongi-hyung?" tanyanya.


Kelopak mata So Hyun melebar, kemudian mengerjapkan beberapa kali. Jimin, Bagaimana mungkin pemuda itu bisa mengetahuinya.


"Kau..."


"Jadi benar."


"Jim. Dari mana kau mengetahuinya?" tanya So Hyun pelan.


"Jungkook yang memberitahu semuanya, dia tidak sengaja mendengarkan pembicaraan kau dengan Jisoo waktu itu. Tapi... Apa kau tahu bahwa Taehyung menyukai Jisoo?"


"Mwo...?!" So Hyun memekik.


"Kau tidak tahu? Apa Taehyung tidak memberitahumu?"


"Tidak mungkin." lirih So Hyun yang masih dapat di dengar oleh Jimin.


Kenapa semua menjadi seperti ini, Taehyung menyukai Jisoo, sedangkan Jisoo sangat menyukai Yoongi.


So Hyun memijat pelipisnya. Apapun yang terjadi ia tetap dengan tujuannya.


"So Hyun, dengarkan aku baik-baik. kalau kau tak ingin menyakiti mereka semua, berhentilah. Apa kau yakin Yoongi-hyung juga menyukai Jisoo?"


So Hyun menatap Jimin, benar yang di katakan pemuda itu. Pada akhirnya semua akan meresakan sakit. Tapi ia juga tidak mungkin meng-ingkari janjinya dengan Jisoo.


"Jim, biarkan waktu yang menjawabnya. Yoongi menyukainya atau tidak biarkan dia sendiri yang menjalankannya. Aku tidak mungkin mengakhirnya, semua telah terjadi. Jisoo sangat menyukai Yoongi sunbae."


"Apa kau yakin Jisoo menyukai Yoongi-hyung? Bukan mengaguminya? Pikirkan itu baik-baik So Hyun."


Jimin langsung pergi dari ruangan  meninggalkan So Hyun dalam kebingungan.


***

__ADS_1


So Hyun melangkah dengan perlahan menuju keruangan musik, ia lebih baik menunggu di ruangan itu dari pada dia harus melihat mereka yang sedang berlatih basket. Otaknya masih berpikir keras, apa ke putusannya ini sudah tepat atau tidak.


Jisoo dan Taehyung siapa yang akan ia bantu.


So Hyun menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tetap dengan keputusannya. Tidak mungkin tidak akan ia lakukan. Untuk urusan Taehyung itu urusan nanti, sekarang, semua harus segera di selesaikan.


So Hyun melirik jam di tangannya, hari mulai sore tapi kenapa pemuda itu belum juga datang menemuinya. Apa mungkin pemuda itu lupa untuk datang ke sini. So Hyun menghela nafasnya dan membuangnya dengan pelan, rasa gugup telah mendominasi dirinya sejak tadi.


"Apa sudah lama menunggu?" tanya seorang pemuda di belakangnya. Sohyun berdiri dan membalikan badanya. Sosok pemuda yang ingin ia temui sekarang sudah ada di hadapannya. Pemuda itu nampak kelelahan, peluh keringat masih berada di setiap wajahnya.


Pemuda berkulit pucat itu datang mendekatinya, Yoongi tersenyum. Perasaannya agak aneh, Kenapa ia sangat merindukan So Hyun.


"Sunbae." panggil Sohyun cuek.


Jelas terlihat kerutkan halus didahi Yoongi, apa ini. So Hyun memanggilnya dengan sebutan 'Sunbae' lagi dan bukan 'Oppa.'


"Oppa. Apa kau lupa Sohyun-ah, panggil aku opp..."


"Bisa diam Sunbae. Dengar, aku memiliki dua keinginan yang harus kau penuhi. Sunbae telah berjanji waktu itu ingin berkorban untuk-kukan? Jadi Sunbae harus menepati janjinya."


Yoongi tampak tercengang melihat cara bahasa So Hyun tak seperti biasanya. Gadis ini, ada masalah apa sebenarnya. Kenapa perasaan dihatinya semakin tak menentu.


"Apa yang kau inginkan?"


"Pertama..." Sohyun terlihat seperi sedang berpikir, "Apapun yang terjadi. Dalam perlombaan besok, Sunbae harus melakukan yang terbaik demi team dan kampus kita."


Sedikit aneh, tapi Yoongi tetap menjawab, "Itu pasti."


"Kedua..." Sohyun melangkah mundur sebanyak tiga kali. Dia memberi jarak yang cukup jauh antara dirinya dengan Yoongi.


"Berkecanlah dengan Jisoo."


Yoongi mendelik dengan mata membulat sempurna. Apa maksud dari ucapan gadis itu, apa So Hyun sedang membuat lelucon.


Jika So Hyun menyuruhnya untuk memenangkan turnament besok, pasti akan ia lakukan. Tapi ini... Berkencan dengan Jisoo, yang benar saja. Tidak akan mungkin ia lakukan.


Yoongi tertawa hambar, didadanya sedikit sesak sekarang. "Kau bercanda bukan?"


"Tidak," jawab Sohyun tegas. "Sunbae harus tahu yang sebenarnya. Selama ini aku terpaksa mendekatimu. Aku hanya ingin tahu, apakah rumor tentangmu selama ini benar atau tidak kalau Sunbae belum pernah dekat dengan gadis manapun." sebelum melanjutkan, ia menatap Yoongi dalam diam. "Aku cukup terharu. Tapi, setidaknya aku berhasil membuat kau menyukaiku, Sunbae."


Apa-apaan ini.


Yoongi diam seribu bahasa mendengar semua kalimat yang gadis itu ucapkan.


Terpaksa?


Satu kata itu yang mampu menyayat hati seorang Min Yoongi. Perih, sakit dan marah semua itu bercampur menjadi satu.


"Terpaksa?" tanya Yoongi dengan mata sedikit memerah.


Walau sakit, tapi Sohyun tetap menunjukan senyum sinisnya. "Benar. Aku muak berada didekatmu, Sunbae." dada gadis itu mulai terasa berat. Tapi So Hyun tetap bertahan, dia ingin Yoongi membencinya. "Penuhi janjimu, berkencanlah dengan Jisoo. bila perlu korbankan cinta busukmu untuk menjadi kekasih Jisoo."


Tanpa mereka sadari di balik pintu ruangan itu, seorang pemuda sedang mendengar semua pembicaraan mereka. Dia tersenyum kecut.


"Gadis bodoh." lirihnya.


Yoongi mengepalkan kedua tangannya, urat-urat ditanganya dapat terlihat, rahangnya mengeras. Gigi didalam menggertak. Sudah cukup, So Hyun berhasil membuat hatinya hancur.


"Kau, apa kau meragukan cintaku. Apa kau ingin aku membuang semua perasaanku padamu? Apa ini yang kau inginkan?" Yoongi memalingkan pandangannya, dia ingin menangis, ingin menumpahkan semua air matanya. Namun hal itu tak kunjung terjadi, airnya mata masih tertahan.


"Tidak! Tidak akan pernah So Hyun! Aku tidak ingin menjadi kekasih Jisoo!" lajutnya kembali menatap So Hyun.


So Hyun terdiam. Kata-kata untuk membuat Yoongi menjauh darinya sudah tak bersarang lagi diotaknya.


Hati So Hyun sakit melihat Yoongi tampak menyedihkan. Ingin sekali Sohyun memeluk pemuda itu dan berkata 'aku mencintaimu' tapi semua itu hanyalah keinginannya saja. Nyatanya dia harus merelakan Yoongi untuk orang lain.


"Janji tetaplah jan-"


"Katakan kau juga mencintaiku So Hyun." sela Yoongi berjalan mendekati So Hyun.


"Jangan mendekat!" teriak So Hyun mengangkat kedua tangannya, menahan supaya pemuda itu tidak mendekatinya.


"Aku.tidak.mencintaimu! Berhentilah memohon kepadaku! Aku jijik mendengarnya. Jika bukan karena Jisoo, aku tak sudi mendekatimu."

__ADS_1


Yoongi tersenyum masam, begitu banyak makian yang So Hyun lontarkan.


"So Hyun," Yoongi terdiam sejenak. "Semua yang kita lakukan, kau anggap apa?!"


"Apa ucapanku belum jelas. Yang menyukai Sunbae adalah Jisoo bukan aku. Semua yang terjadi tidak ada artinya bagiku, semua itu hanya sampah. Jadi, berhentilah berharap padaku dan jalani hidupmu dengan Jisoo."


Yoongi mengerang kecil, hatinya seperti remuk, dadanya berat, matanya tak sanggup menahan air mata. So Hyun telah membuatnya hancur.


"Sohyun-ah," panggilnya.


"Mulai sekarang jangan pernah menyebut namaku lagi. Tugasku telah selesai Sunbae. Ingatlah dengan janjimu itu."


Yoongi memunggungi So Hyun, di bawah sana tanganya benar-benar terkepal kuat. Setetes demi setetes air mata jatuh membasahi pipinya.


"Per.gi!"


Sohyun terteguh. Semua sudah berakhir, sepertinya Yoongi telah membencinya. Bukannya bagus, bukannya ini yang So Hyun inginkan.


Hati kecil So Hyun tertawa sinis, mengutuk semua kebodohan yang dia buat sendiri.


So Hyun hancur, sama hancurnya seperti Yoongi. Dia merelakan cinta pertamanya untuk orang yang telah dia anggap penting di dalam hidupnya.


So Hyun berbalik, melangkah dengan sempoyongan. Kakinya terasa berat untuk meninggalkan Yoongi.


"Tunggu..." Yoongi menahan kepergian So Hyun tanpa berbalik badan, "Aku ingin bertanya sekali lagi... Apa tidak ada cinta untukku, So Hyun."


So Hyun memukul dadanya pelan. Dia ingin pergi secepatanya dan menangis sekuat-kuatnya.


Dalam satu tarikan nafas, mata terpejam dan air mata mengalir, So Hyun berucap dengan tegas. "Hanya dalam mimpimu, Sunbae."


Sohyun lekas keluar dari ruangan itu tanpa melihat kearah Yoongi lagi.


Sedangkan lelaki yang bersembunyi di balik pintu mengikuti kemana So Hyun pergi.


So Hyun berhenti tepat di tengah  lapangan, ia tersenyum getir. mengingat semua kenangan yang ia lakukan bersama Yoongi


"Menangislah."


Seorang lelaki menarik So Hyun dan membawanya kedalam dekapannya. menepuk-nepuk punggung So Hyun.


Dia merasakan tubuh So Hyun bergetar. Isakan demi isakan terus meluncur keluar dari mulut So Hyun.


"Datanglah kepadaku, Sohyun~ie. Aku berjanji akan membuatmu bahagia."


Tangisan Sohyun semakin kuat, apa bisa dia  menerima lelaki ini.


***


Bug...


Bug...


Bug...


Yoongi memukul dinding itu dengan keras.


Tes...tes...tes


Air mata dan darah seger menetes membasahi lantai. Ia tidak peduli dengan jari-jari tangannya yang akan patah atau retak. Ia mengerutuki dirinya yang bodoh melepaskan gadis itu begitu saja. Seharusnya ia menahan gadis itu untuk menjelaskan semua yang terjadi.


Tidak membiarkan gadis itu pergi begitu saja. Yoongi sangat mencintainya, ia tidak akan pernah membuang perasaan ini.


Yoongi menyenderkan punggungnya di dinding, kepalanya menunduk, rasa sakit di tangannya tidak seberapa di bandingkan rasa sakit di hatinya yang terus menjalar.


"Aku sangat mencintaimu Sohyun-ah, Kenapa kau melakukan ini kepadaku."


Kenapa,


Kenapa,


Kenapa mencintai So Hyun begitu sulit untuknya, kenapa takdir tidak menyatukan mereka. Dan kenapa perasaan ini terus tumbuh untuk So Hyun di saat gadis itu terus menyakitkannya.


***

__ADS_1


(To be continue)



__ADS_2