RABBIT HOLE

RABBIT HOLE
Chapter 18


__ADS_3

Mencintaimu adalah hal yang sangat berharga dalam hidupku, ku mohon jangan tinggalkan aku.'


"Jeon Jungkook"


***


Ting...ting...ting


Suara dentingan alunan merdu terdengar dari dalam sudut ruangan, pria bermarga Min yang sedari tadi memainkan piano sembari memejamkan kedua matanya, menikmati setiap nada yang ia mainkan, jari-jari tangannya menekan setiap tuts piano dengan lembut, memberikan nada yang terkesan indah dan menyentuh hati setiap orang yang akan mendengar.


Sementara, tidak tahu jauh darinya. ada seorang pria lain yang sedang berdiri menyandarkan tubuhnya di depan pintu, pria itu melipat kedua tangannya di depan dada, ia sedari tadi memandang Yoongi yang asik memainkan piano, senyum lebar pun  terukir dibibirnya, pria itu selalu berhasil menarik perhatian dirinya.


Namun, ada yang menyanggal di hatinya, ia menyerngit heran, memasang pendengarannya baik-baik, meresapi setiap melodi dari nada-nada yang pria itu mainkan. Kakinya membawa ia melangkah untuk mendekati pria itu.


"Sepertinya kau menciptakan lagu baru, benar bukan?"


Yoongi menghentikan gerak tanganya, menatap sekilas pria yang berdiri di sampingnya, Ia tersenyum kecil.


"Seperti yang kau dengar."


Yoongi kembali melanjutkan, mengabaikan orang itu yang sedang menatapnya.


Namjoon mangut-mangut, tak salah jika tebakannya benar. "Apa kau telah mempersiapkan semuanya?" Tanyanya dengan serius.


Kembali, Yoongi menghentikan menekan tuts pianonya. Sedikit mendengus kesal, karena orang itu mengganggu konsentrasinya bermain.


menghela nafasnya berat. "Belum."


Namjoon menaikan salah satu alisnya. "Kenapa? Kau tidak berniat untuk membatalkannya, bukan?" tanyanya sedikit menekan diujung kalimatnya, tidak mungkin Yoongi membatalkan kontrak besar ini, yang sudah menjadi impiannya sejak dulu.


Yoongi menggelengkan kepalanya, tidak ada niat sedikit pun untuk membatalkannya, itu sangat berharga baginya. Tapi ada sedikit yang menjanggal di hatinya.


"Ani, tidak mungkin aku membatalkannya."


Namjoon menelisik perubahan raut wajah Yoongi, ia menghembuskan nafasnya. Sifat Yoongi benar-benar telah berubah, itu kesimpulan darinya.


"Dengar Yoon, kita tidak memiliki banyak waktu. Cepat atau lambat kita akan segera pergi, satu hari setelah hari kelulusan..." jelas Namjoon, untuk mengingatkannya.


Yoongi mengangguk, dia membenarkan semua kata-kata Namjoon, waktu mereka memang tidak banyak. Tapi rasa tidak nyaman selalu mengusiknya.


"Kau benar." lirihnya.


Kembali dia ingin memainkan pianonya, tapi gerak tangannya terhenti setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Namjoon.


"Kau tidak memberitahunya?" tanya Namjoon sedikit ragu, takut-takut jika pria itu akan memakinya.


Yoongi kembali menatap maniknya, ia kembali tersenyum kecil. Hal ini yang selalu mengganggu ketenang hatinya. "Siapa yang harus ku beri tahu?" tanya balik Yoongi, walau dia tahu maksud dari perkataan Namjoon.


Namjoon berdecak kesal, Yoongi tidak pandai untuk berbohong dengannya.

__ADS_1


"Jangan berpura-pura bodoh, aku tahu apa penyebab kau tidak masuk kuliah selama dua hari dan berdiam diri di dalam studio ini."


Yoongi hanya diam, ia tidak menanggapi ucapan Namjoon, karena yang di ucapankannya adalah benar, Yoongi mengurung diri, lantaran ingin menghindari So Hyun yang telah menjadi milik orang lain.


"Ya tuhan." Namjoon memijat pelipisnya, melihat tidak ada tanggapan dari pria itu.


"Segera temui dia, bicarakan baik-baik denganya. Jika kau sangat mencintainya, yakin'kan dia terus, bahwa dia berharga untukmu. Jangan berdiam terus seperti ini, bagaimana bisa kau akan mendapatkannya hah?!" kesal Namjoon, dia melihat tidak ada pergerakan sedikit pun dari Yoongi.


"Apa yang harus aku lakukan? Sedangkan dia telah menjadi kekasih orang lain." jawabnya dengan ekspresi sedih.


Kenapa Sohyun harus menerima Jungkook menjadi kekasihnya. Jika saja orang lain yang menjadi kekasihnya, pasti akan segera Yoongi merebut Sohyun dari orang itu. Tapi, ini adalah Jungkook, yang telah dia anggap sebagai adiknya sendiri.


Apa Yoongi pantas untuk merebutnya?


"Sudah aku bilang untuk menyakinkan dia. Ingat Yoongi, dalam setahun kau tidak akan bertemu dengannya lagi, cepat selesaikan masalahmu..." Namjoon menjeda ucapannya, ia menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan lagi.


"...Bukankah dia juga menyukaimu?"


Yoongi memejamkan matanya. "Aku tidak yakin bisa bertemu dengannya lagi." lirihnya, dadanya mulai terasa sesak. Untuk menarik nafasnya saja terasa tercekat di tenggorokannya.


Kali ini Namjoon yang terdiam, ia juga sadar akan ucapan Yoongi. Memang benar, akan sulit untuk bertemu dengan So Hyun. Apalagi kenyataan bahwa kekasih So Hyun adalah Jungkook.


Namjoon mendekat, ia menepuk-nepuk punggung Yoongi, memberikan kesabaran untuknya. "Jangan menyerah, temuilah So Hyun."


***


"Aku sangat mencintaimu."


Ungkapan itu membuat sang gadis tidak bisa berkutik sama sekali, ia menggigit bagian dalam bibir bawahnya, perasaan tak nyaman mulai menyelimuti dirinya. Ia takut jika harus mengungkapkan yang sebenarnya, seharusnya semua ini tidak pernah terjadi, jika bukan ia yang memulai permainan ini.


Rasa bersalah dan menyesal terhadap Jungkook semakin membesar, So Hyun sangat takut kehilangan sahabatnya, yang telah membuat hidupnya berwarna dengan semua perhatian yang di berikan.


Tapi kenapa Jungkook harus mencintainya?


Apa yang akan terjadi, jika suatu saat ia jujur akan perasaan terhadap pemuda ini, bahwa ia tidak mencintainya, menerimanya hanya untuk menghidar dari orang yang sangat di cintainya.


So Hyun mengakui bahwa dirinya memang egois, men-manfaatkan Jungkook untuk kepentingannya sendiri, ia tidak memikirkan bagaimana perasaan Jungkook yang sebenarnya. Pemuda itu dengan tulus mencintainya, apa ia tega, terus mempermainkan perasaannya.


"So Hyunie." Jungkook membalikan tubuh So Hyun untuk menghadapnya.


"Jangan pernah tinggalkan aku, arachi ." ia mengusap kedua pipi So Hyun dengan kedua ibu jarinya dengan lembut dan mengecup kening So Hyun cukup lama.


"Kookieh." panggil Sohyun lirih. "Bagaimana jika aku tidak mencintaimu?"


Jungkook menatap So Hyun, senyum tulus dia berikan. Jungkook tidak menganggap serius apa yang di ucapkan oleh So Hyun. tangannya bergerak untuk mencubit kedua pipi gadis itu.


"Ayo katakan sekali lagi jika kau tidak mencintaiku." Jungkook semakin kuat mencubit pipinya.


"Aw... Yak yak yak... Appo." rengek So Hyun sembari mempautkan bibirnya,

__ADS_1


Jungkook yang melihatnya hanya terkekeh. "Lucunya." ia mendekat dan mencium sekilas bibir So HCh CH byyun.


"Yak!" So Hyun memukul dada bidang Jungkook berulang kali, jantungnya berdebar mendapatkan serangan mendadak dari Jungkook.


"Hentikan, kau yang menggoda ku lebih dulu." Jungkook menarik tangan So Hyun, membawanya ke dalam dekapannya.


"Jangan bertingkah seperti itu lagi, jika tidak ingin aku menyerangmu lebih lama."


So Hyun hanya menyembunyikan wajahnya di dada Jungkook, dapat So Hyun dengar suara detak jantung Jungkook yang hampir sama dengannya. So Hyun meringis, kenapa jantungnya bisa berdebar hanya mendapatkan perlakuan seperti ini dari Jungkook.


"Kookie." Sohyun menarik dirinya untuk menatap Jungkook.


"Mau kah kau menemaniku menjemput Ibu dan Ayah ku di bandara besok?"


Jungkook mencoba untuk berpikir sebentar, kemudian ia menghela nafasnya berat.


"Chagia..." Salah satu tangannya kembali bergerak untuk mengusap pipi So Hyun dengan ibu jarinya, ia kembali berujar. "Aku sudah ada janji dengan Taehyung-Hyung. Apa aku harus membatalkanya?"


Sohyun menggelengkan kepalanya. "Jangan."


Jungkook mengangguk, "Kalau begitu aku akan menyuruh Jimin-Hyung untuk menemani mu, bagaimana?" tawarnya


So Hyun mendelik mendengar Jungkook menyebut nama Jimin, tidak mungkin ia pergi bersama dengannya, mengingat sudah dua hari mereka tidak bertegur sapa, membuat So Hyun enggan untuk bertemu dengan Jimin.


menggeleng cepat. "Tidak," Jari telunjuk So Hyun terangkat tanda ia menolak tawaran Jungkook, "Biar Jisoo yang menemaniku."


"Tidak ada penolakan."


"Aku tidak mau."


Jungkook menatapnya dengan tajam, gadisnya begitu keras kepala, Jungkook melakukannya demi kebaikan sang gadis, ia takut, jika nanti gadisnya di goda dengan pria lain di sana.


Lebih baik Jimin yang menemaninya, walau Jungkook tahu kalau Jimin menyukai So Hyun, tapi dia percaya Jimin tidak akan menghianatinya.


Sohyun yang melihat tatap tidak suka dari Jungkook hanya mendengus tak terima.


"Arraseo."


"Gadis pintar." Jungkook kembali membawa So Hyun kedalam pelukannya.


"Apa kita akan terus seperti ini?" tanya So Hyun sedikit risih dengan perbuatan Jungkook.


"Eoh... Biarkan seperti ini dulu, jika kau menolak, aku akan menerkam mu."


***


(To be continue)


__ADS_1


__ADS_2