RABBIT HOLE

RABBIT HOLE
Chapter 26


__ADS_3

'Terkadang cinta bisa membutakan segalanya'


***


Tekan LIKE sebelum membaca


Dalam sebuah hubungan, pasti akan ada permasalahan yang akan datang.


Di balik itu semua, pasti akan ada pihak lain yang akan menguntungkan, sebab dia akan semakin memperdalam perannya sebagai perusak suatu hubungan orang tersebut.


Walaupun hubungan orang itu tidak di dasari dengan cinta yang semestinya antara kedua belah pihak.


Cinta dalam sepihak memang menyakitkan. Lebih menyakitkan jika orang yang sangat kita cintai mencintai orang lain. Apakah ini akan berwujud bahagia untuk hubungan mereka?


Kita tidak tahu kemana perginya jalan pemikiran semua orang. Apalagi satu orang ini sangat mencintai kekasih temannya sendiri. Walau ia tidak menampik jika sang wanita tidak mencintai kekasihnya. Jadi tidak salah jika suatu saat orang yang mencintai wanita itu akan mengambilnya untuk kepentingan orang itu sendiri.


Begitu lah kira-kira pemikiran dari seorang Park Jimin. Ia akan secepatnya mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya. Walau dalam hati kecilnya ia tidak bermaksud melakukan itu semua. Tetapi, ego yang di miliknya sangat tinggi, sampai-sampai menutupi rasa peduli terhadap temannya sendiri.


Sekarang semua sedang berjalan dengan lancar, hubungan antara sepasang kekasih tak lama lagi akan berakhir. Ia tidak bersusah payah untuk memisahkan mereka lagi. Satu kunci yang akan ia berikan kepada Jungkook akan segera ia sampaikan.


Untuk urusan Yoongi? Semua itu tak perlu ia lakukan, karena Yoongi sendiri lah yang akan meninggalkan wanita yang di cintainya. Bukankah ini memang keberuntungannya? Atau So Hyun memang di takdir kan untuk dirinya?


Jimin seakan tidak mempercayai, Semudah ini kah semua berjalan?


Di sela ia fokus mengendari mobilnya, Jimin tertawa renyah. Bibirnya tak henti mengembangkan senyum menakutkan. Ia akan menunggu semuanya berakhir, dengan begitu secepatnya Jimin akan membuat So Hyun manjadi miliknya.


Mobil berbelok dan memasuki perkarangan gedung apartement mewah. Ia memparkirkan mobilnya dan keluar dari dalam mobil. Tujuannya sekarang, menjemput sang pujian hati.


Baru lima langkah Jimin berjalan, sebuah kendaraan lainnya juga ikut masuk dan terparkir di sebelah mobilnya. Jimin membalikan badannya, ia ingin melihat siapa pemilik mobil yang tak asing di ingatannya. Jimin mendelik, sesaat seorang pria yang sangat ia kenal keluar dari dalam mobil tersebut.


"Jimin... Kau."


sama halnya dengan pria yang memiliki tinggi badan yang hampir sama dengan Jimin, ia juga ikut mendelikkan matanya. Ekspresi wajah terkejut sangat kentara ia tunjukkan. Tapi, sebisa mungkin ia membalikan ekspresi wajahnya seperti semula.


"Hyung... Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jimin, ia dengan sengaja menunjukan raut wajah polos dan bingung. untuk menutupi semua perilaku buruk di mata pria itu.


Pria itu berdehem sebelum menjawab pertanyaan Jimin. "Menjemput So Hyun." jawabnya dengan nada datar. Ia melangkah melewati Jimin yang masih setiap memandang kepergian pria itu. Nampak dari kejauhan yang terlihat hanya punggung pria itu yang semakin menghilang.


Jimin menarik sudut bibirnya, satu tangannya memasuki saku celana untuk mengambil benda bersegi panjang miliknya. Netranya bergerak untuk menatap ponselnya. Ibu jari tangannya bermain di layar ponsel, menggeser-geser secara cepat. Setelah menemukan apa yang ia cari. Jimin kembali tersenyum puas.


"Ah... Sepertinya ini waktu yang tepat untuk aku mengirimnya. Mianhae Jungkook, jika aku tidak melakukannya. Akan sulit untuk ku mendapatkan So Hyun..." Jimin menggantungkan kalimatnya. Sebelum ibu jarinya menekan tombol terkirim, ia kembali bersuara.


"Aku harus memanfaatkan kalian berdua. Dengan begitu, hubungan kau dengan So Hyun akan berakhir..." Jimin kembali menjeda, ibu jarinya sudah siap untuk mengirim. "Mianhae Hyung. Terpaksa aku memanfaatkan mu."


Damn!


Jimin benar-benar telah melakukannya. bahkan bibir nya tak berhenti untuk mengembangkan senyum nya. Ia masukan kembali ponselnya dan melanjutkan langkahnya. Di sela jalannya tak lupa ia bersiul. Menikmati ke berhasilan yang sebentar lagi akan tiba.


***


"Boleh aku duduk di sini?"

__ADS_1


Suara husky yang di miliki seorang pria bersurai hitam, mampu membuat gadis berparas cantik itu menegakan kepalanya, kedua matanya mengerjap lucu. Jangan lupa dengan kondisi jantung nya yang berdebar tak menentu. Dan satu lagi, hawa panas terus menjalar di setiap tubuhnya.


Ya tuhan. Gadis itu membatin, kenapa perasaan bergemuruh dalam dirinya semakin menggila. Ia tidak bisa berbohong, jika sekarang kondisi nya seperti orang bodoh. Memandangi seorang pria yang sedang menatap nya dengan bingung.


Bahkan yang lebih membuatnya serasa gila. Pria itu, ia semakin mendekatkan wajah nya yang membuat gadis itu mendelik kan matanya dengan sempurna, bahkan untuk menelan ludanya serasa tercekat di tenggorokan.


"Jisoo,"


"Jisoo-ya,"


"Kim.Ji.Soo."


"Ne..." Jisoo mengkerutkan dahinya sembari mengedipkan matanya dua kali. Ia belum bisa menyadarkan dirinya sekarang.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya pria dengan suara husky nya. Punggung tangannya ia letakan di dahi Jisoo.


Astaga. Tubuh Jisoo semakin memanas di buat oleh nya. Jarak mereka terlalu dekat saat ini. Ingin rasanya Jisoo menelan hidup-hidup makhluk tampan di depan nya. Apa ia tidak tahu kondisinya sekarang atas perhatian yang dia berikan.


Mulai sekarang Jisoo telah menyakinkan dirinya dan juga hatinya. Ia sepenuhnya telah menyadari tentang perasaannya. Jika ia telah jatuh cinta dengan pria bersurai hitam dan tampan ini.


Mungkin terdengar bodoh, tapi itulah kenyataannya. Jisoo juga sudah berpikir keras, jika ia akan mencintai pria ini dan tidak akan berpaling dengan yang lain.


"Hey. Jisoo-ya." panggil Taehyung kembali. Ia di buat bingung dengan tingkah Jisoo sekarang. Tidak biasa Jisoo bersikap begini jika bertemu dengannya. Taehyung bahkan sempat melirik ke arah telinga Jisoo yang tiba-tiba memerah.


Taehyung mendesah pelan, ia tidak peduli jika Jisoo mengizinkan atau tidak kalau ia duduk di hadapannya.


Manik Taehyung masih fokus memandangi Jisoo. Senyum tipis terbit di bibirnya.


"Wae?" tanya Taehyung sembari menopang dagunya dengan kedua tangan, ia masih setia memadang wajah Jisoo yang bersemu. Pemandangan yang sangat jarang di lihat, ralat!. Ini baru pertama kali bagi Taehyung melihat wajah Jisoo yang bersemu.


"Menyingkirlah!" ketus Jisoo. Ia menundukan kepalanya, bukan karena malu di pandangi Taehyung, melainkan ia kembali melanjutkan membaca bukunya.


"Hey..." Taehyung mengenggam sebelah tangan Jisoo. "Ada apa denganmu?"


Jisoo melirik tangannya yang di genggam oleh Taehyung. Ia memejamkan matanya kuat-kuat untuk menahan rasa gugup dan debaran jatungnya. Bisa kah Taehyung berhenti mengkhawatirkannya. Sikap Taehyung malah membuat Jisoo tidak bisa berkutik sama sekali.


***


"Apa kau tidak mengizinkan kami masuk?" tanya Jimin, kakinya terasa pegal jika ia terus berdiri.


So Hyun tidak bergeming. Bola matanya bergerak ke kiri dan kanan----- memandang satu persatu pemuda yang ada di hadapannya.


"Apa yang kalian lakukan?" pertanyaan bodoh keluar begitu saja dari mulut So Hyun, sebab ia tidak tahu harus bersikap seperti apa jika sudah di hadapi dengan mereka.


"Aku." tunjuk Jimin ke dirinya. "Yah... Aku menjemput adikku." bohong Jimin, tidak mungkin ia akan mengaku jika ingin menjemputnya.


Mata So Hyun bergerak untuk menatap pria di sebelah Jimin. "Sunbae?"


"Menjemput mu." jawab Yoongi dengan santai.


"Sayang. Siapa yang datang?" sahut seseorang wanita yang tak kalah cantik dari So Hyun.

__ADS_1


"Oh... Jimin." Ibu So Hyun tersenyum saat mendapati Jimin yang sedang berkunjung, kemudian maniknya bergerak memandang pria yang ada di sebelah Jimin.


"Sayang. Dia siapa?" tanya sang ibu. Matanya menelisik penampilan Yoongi, kemudia ia kembali memperlihatkan senyum ramahnya.


"Apa dia kekasih mu?" tanya dan goda sang ibu, sesaat manik matanya telah menatap kepada putrinya.


Belum sempat So Hyun mengeluarkan suaranya, Ibunya lebih dulu berbicara.


"Oh... Kebetulan hari ini ibu memasak banyak. Kalian belum makan bukan?" tanya sang Ibu. Mereka berdua secara bersama menganggukkan kepalanya.


Ibu So Hyun tersenyum. "Ayo masuk."


Entah ada angin apa, secara bersama lagi mereka menganggukkan kepala nya kembali dan mengikuti langkah kaki Ibu So Hyun. Mereka bahkan melupakan jika So Hyun masih termenung di depan pintu, melewatinya tanpa menghiraukan suara So Hyun yang memanggil nama mereka berdua. Mulut So Hyun sedikit membuka, ia tidak percaya jika dirinya baru saja di abaikan oleh mereka.


So Hyun berpikir keras. Pandangan matanya masih mengamati mereka yang telah mendudukan dirinya di meja makan. Kemudian ekor mata nya bergerak menatap ke satu pria, ia memandang nya dengan heran. Tidak biasa Yoongi bersikap lembut dan penurut dengan orang lain. Apa dia hanya menghormati atau ada maksud lain yang tidak ia ketahui.


***


Taehyung masih setia mengamati gerak gerik yang di berikan oleh Jisoo. Mulai dari memandangi mata Jisoo yang fokus dengan bukunya, dan melihat mulut Jisoo yang berkomat kamit membaca isi buku yang tidak ia ketahui tentang apa.


Taehyung tersenyum, seandainya dulu Jisoo mau menerima keberadaannya mungkin sampai sekarang ia masih akan tetap menyukainya.


Taehyung menopang dagunya kembali. Pandangan matanya masih menatap kearah Jisoo. Ia termenung, apa benar perasaan yang selama ini ia pendam telah hilang?


Tapi mengapa melihat wajah cantik Jisoo dan tingkahnya membuat darahnya berdesir kembali?


Taehyung tersadar, saat tahu jika Jisoo sedang menatapnya juga. Ia membuang wajahnya ke samping menghindar dari tatapan mata Jisoo yang lagi-lagi membuat jatungnya kembali berdebar.


Jisoo mendesah pelan. "Sampai kapan kau di sini?"


Taehyung menoleh menatap tepat ke dalam mata Jisoo. "Aku..."


"Apa kekasih mu tidak akan marah jika kau berlama-lama di sini?"


Taehyung menekuk kedua alisnya sampai terdapat kerutan halus di dahi nya. "Kekasih?"


Jisoo kembali mendesah pelan. "Eoh... Jennie. Apa dia tidak marah?"


Awalnya Taehyung terkejut, tapi akhirnya ia terkekeh pelan. "Apa yang kau bicarakan. Jennie bukan kekasih ku."


"Eh..." Jisoo memiringkan kepalanya.


"Biarku jelaskan..." Taehyung melipat tangannya di atas meja. Ia kembali memandang Jisoo dengan serius.


"Jennie mendekati ku hanya ingin mengetahui tentang Jimin."


Jisoo tidak bersuara, ia ikut memandang Taehyung dengan serius.


Kali ini Taehyung menampilkan senyum yang sangat manis. "Jennie---- dia menyukai Jimin."


***

__ADS_1


(To be continue)


__ADS_2