
Happy reading
***
Bruuukk...
Prannggg...
Setelah melempar kursi dan sebotol wine ke arah dinding. Pria itu menatap nanar serpihan botol tersebut. Kedua kakinya bergetar, ia tak mampu menompan berat tubuhnya dan terjatuh terduduk di lantai.
Walaupun keadaan dirinya sangat kacau, ia tetap memaksa untuk mengukir senyum tipis di bibir ke inginan yang tak seharusnya ia tunjukan sekarang.
Mengingat baru beberapa menit yang lalu ia mendapatkan sesuatu yang mampu membuat ia lepas kendali. Melampiaskan kekesalan dengan menghacurkan barang-barang yang ada di sekitarnya. Ia tak peduli seberapa mahal harga barang-barang itu.
Satu video, lebih tepatnya sebuah video yang berdurasi beberapa detik mampu membuat dirinya hilang kesadaran, video yang menampilkan seseorang yang sangat ia kenal, bahkan orang itu adalah kekasihnya dan satunya berstatus sebagai Hyung yang sangat ia hormati.
Ia menundukkan kepalanya. Kedua matanya terpejam. Tanpa seizinnya air mata itu mengalir dengan sendiri membasahi kedua pipinya, ia terisak pelan.
"So Hyun." monolognya sendiri di iringin dengan isakan-isakan yang terus keluar.
"Hyunie."
kembali ia bersuara. Memanggil nama sang kekasih yang tak akan mungkin mendengarnya. Dadanya terasa perih, bagaikan ada ribuan duri yang tertanam di dalam sana. Nasibnya sungguh miris, saat mengetahui jika selama ini So Hyun tidak mencintainya.
Dia yang selama ini kekasih mu cintai. Sohyun mencintai Yoongi Hyung, begitu pun dengan Yoongi Hyung.
Jungkook menggerang, mengusap wajahnya dengan kasar, saat mengingat pesan yang di kirim oleh Jimin. Dadanya bergemuruh, hanya untuk mengatur nafasnya sangat sulit ia lakukan.
Kenapa ia merasa di bodohi selama ini, kenapa So Hyun tidak jujur akan perasaannya. Kenapa dunia ini begitu kejam untuknya, tidak bisa kah ia mencintai seorang gadis yang selama ini selalu membuatnya bahagia.
So Hyun segala baginya. Hanya dia yang bisa membuatnya merasa nyaman, dan bahagia. Jungkook sangat mencintai So Hyun, semua akan ia lakukan demi So Hyun. Perhatian dan perilaku yang Jungkook berikan semua itu tulus dari hatinya, Jungkook hanya ingin gadis itu merasakan apa yang ia rasakan; Kebahagiaan yang selalu terukir dalam hatinya.
Jungkook tersenyum samar, pandangan matanya lurus kedepan. Saat mengingat semua kenangan diri nya bersama dengan So Hyun. Di saat itu ia bahagia, bisa menjahili So Hyun, membuatnya marah, tersenyum, dan tertawa.
Dan satu yang membuatnya merasa sangat bahagia dan semakin jatuh cinta dengan So Hyun; di saat dirinya mencium So Hyun secara tiba-tiba, melihat ekspresi terkejut yang So Hyun berikan mampu menggetarkan hatinya.
Tetapi, akan kan semua itu bisa kembali lagi? Saat semua kebohongan telah terungkap?
***
"Kya! Apa kau akan terus bersantai!" teriak seorang pria yang sedang sibuk memasukan baju-baju miliknya ke dalam koper. Tangannya terus bergerak memilih-milih setiap baju yang menurutnya sangat bagus untuk dibawa pergi.
__ADS_1
Pria yang sedari tadi menyibukkan dirinya, akhirnya menoleh ke arah lawan bicaranya yang tidak menanggapi perkataannya tadi, dengan menarik nafas sedalam-dalamnya. Ia mengambil satu batal dan melemparnya, hal itu berhasil----- bantal itu mengenai wajah mulus pria berkulit pucat.
"Aish..." Yoongi berdesis. Matanya terbuka, dan mendudukan dirinya. Ia mengacak rambutnya, apa tidak bisa ia tidur dengan tenang. Hari ini ia hanya butuh mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Banyak hal-hal yang telah ia lewati, dan yang di butuhkan sekarang adalah tidur dengan nyaman.
Namjoon menghampiri Yoongi dan berdiri tepat di depannya. "Kau... Aish.."
Namjoon mengusap wajahnya setalah mendapatkan tatapan tajam dari Yoongi. Ia tahu jika Yoongi sangat marah bila tidurnya di ganggu. Tapi masa bodoh dengan tatapan Yoongi. Ia hanya ingin memastikan jika Yoongi telah mempersiapkan semua barang-barangnya.
"Yoon-"
"Mau apa?!" sela Yoongi.
Namjoon memutar bola matanya dengan malas. Apa Yoongi begitu bodoh sekarang. "Apa kau sudah mempersiapkan semua barang-barangmu?"
Yoongi menekuk kedua alisnya, tangan nya ia lipat di depan dada. "Untuk?"
Ya tuhan. Namjoon membuang nafasnya secara kasar. Apa ia harus berdebat terus dengan Yoongi. Apa otak Yoongi mulai berkurang sekarang, sehingga untuk mencerna apa yang baru saja ia katakan tidak di dengar dengan baik.
"3 hari lagi Yoongi." Nomjoon menunjukan 3 jari tangannya, mengingatkan Yoongi tentang ke pergian mereka ke Amerika.
"Terus?"
"Apa sekarang kau begitu bodoh."
Yoongi kembali menekuk kedua alisnya. Ia berdiri, memandangi Nomjoon dari atas sampai bawah.
"Bodoh." Gumamnya. Ia berjalan pergi meninggalkan Namjoon yang menganga melihat ke pergian Yoongi begitu saja, tanpa ada niatan sedikit pun untuk menjawab pertanyaannya.
Mulut Nomjoon tak berhenti bergerak untuk mengumpati Yoongi. Bukan ia tak mendengar makian yang di berikan oleh Yoongi.
***
"Hey." sembari menyapa, gadis berbadan mungil itu juga menyegol pelan lengan pria yang ada di sampingnya. Sedangkan pria itu hanya melirik sebentar, setelah itu ia kembali menfokuskan pandangannya kedepan.
Gadis itu hanya menghela nafas, senyum miris terukir di bibir. Sangat sulit jika mendekati Jimin yang selalu bersikap dingin padanya. Tapi, jika di ingat-ingat, kenapa saat dia berada di dekat So Hyun sifat dinginnya tidak sedikit pun dia tunjukkan. Apa mungkin Jimin memiliki perasaan terhadap So Hyun.
"Jim." panggil Jennie, ia kesal melihat pria itu hanya mendiami saja.
"Hm.."
Jimin tidak memperdulikan keberadaan Jennie sama sekali. Menurutnya tidak ada guna meladeni Jennie yang setiap hari jika bertemu dengannya selalu bersikap manja. Ia tidak menyukai sifat kekanakan yang di miliki Jennie. Bukannya Jimin bodoh, ia teramat tahu kenapa sikap Jennie selalu manja dengannya. Ia tahu jika Jennie menyukainya. Tapi, Jimin tidak bisa membalas perasaan Jennie. Hatinya sudah terkunci hanya untuk So Hyun. Ia sangat mencintai So Hyun.
__ADS_1
Langkah Jimin tiba-tiba terhenti, saat maniknya tanpa sengaja melihat gadis yang di cintainya berada beberapa langkah di hadapanya. Jimin memperlihatkan senyumnya saat gadis itu sampai di depannya, tapi secepat itu juga senyum Jimin menghilang saat tahu gadis itu hanya melewatinya.
"Mau kemana?" tanpa membalikan badan, Jimin bertanya. Ia berhasil meraih pergelangan tangan gadis itu.
Jantung So Hyun kembali berdegup saat tangan halus milik Jimin menyentuh tangannya. Ia juga menggigit bibir bawahnya. So Hyun sempat menggerutuki dirinya, tak seharusnya ia melintas di hadapan Jimin. Ia juga menyadari jika Jimin sempat memperlihatkan senyumnya.
"Bisa kau lepaskan." ucap So Hyun dengan ketus. Ia melirik tangannya yang masih di genggam erat oleh Jimin. Dapatkah Jimin menyadari jika So Hyun berbicara ketus dengannya hanya untuk menghindari detak jantung yang sempat menggila.
Jimin hanya tersenyum kecil. Ia memutar tubuhnya, tanpa melepaskan genggaman tangannya ia berjalan dan berhenti di hadapan So Hyun. Memandang gadis itu yang tak menatapnya.
"Mau kemana?" tanya Jimin sekali lagi. Ia sudah melepaskan genggamannya. Matanya masih setia menatap manik bulat milik So Hyun. Jimin tidak akan bosan menatap mata indah itu, yang bisa membuatnya tergila-gila dengan pandangan mata So Hyun.
So Hyun memejamkan matanya sesaat. "Aku harus menemui Jungkook sekarang."
Jimin terpaksa untuk mengukir senyum, walau kenyataan hatinya sangat sakit mendengar nama pria lain keluar dari mulut So Hyun.
Jimin mendekat, ia mengacak pucuk kepala So Hyun. "Biar ku antar."
So Hyun menelan ludanya kasar, jantungnya terus menggila. Mengapa Jimin masih bersikap lembut. So Hyun tidak menyukai itu, ia tidak bisa memilih siapa sebenarnya yang berada di dalam hatinya.
"Ekhem... Apa kalian melupakan ku." deheman dari Jennie menyadarkan mereka. So Hyun mengumpat dalam hati, kenapa ia sempat melupakan keberadaan Jennie.
Lain halnya dengan Jimin, ia memberikan tatapan tidak suka kearah Jennie, baginya keberadaan Jennie sangat mengganggu untuk nya dan juga So Hyun.
"Kalau begitu aku harus segera pergi." pamit So Hyun melangkah meninggalkan mereka. Sebelum So Hyun benar-benar pergi ia membalikan badannya dan kembali bersuara.
"Lebih baik kau mengantarkan Jennie pulang, Jimin." sembari memberikan senyum hangatnya, So Hyun kembali melanjutkan langkahnya.
"Kau dengar. So Hyun menyuruhmu mengantarkan ku pulang." ucap Jennie dengan hati yang berbunga-bunga. Ia ingin sekali memberikan dua jempol tangannya untuk So Hyun. Sahabatnya itu selalu tahu tantang kondisi saat ini.
Jimin melirik kearah Jennie yang masih saja tersenyum. Sebelum Jimin berucap, ia sempatkan untuk tersenyum kecil. "Maaf, aku tidak bisa. Masih banyak urusan yang belum ku selesaikan."
Jennie menarik bibirnya, baru saja ia tersenyum bahagia, sekarang ia harus menelan pil pahit. Jimin benar-benar pergi meninggalkannya sendiri.
Jennie menghela nafas nya dengan berat, kepalanya di dongakkan ke atas guna menahan air mata yang akan keluar. Hidupnya sangat miris, untuk menggapai seorang Park Jimin sangat susah ia lakukan.
"Aku membutuhkan Taehyung sekarang."
***
To be continue
__ADS_1